
Vano kini sudah sampai di rumah sakit, dengan cepat dokter menangani Lessy. Bahkan Vano juga melihat dokter begitu sibuk membuat Lessy sadar kembali, dengan memasang alat-alat bantu pernapasan.
Vano sangat khwatir dengan keadaan Lessy. Bahkan Vano juga masih penasaran, dengan orang yang meneror Lessy. "Apakah Alena yang melakukan ini semua, jika iya aku gak akan pernah memaafkan dia!"
Vano terus mondar-mandir di depan pintu UGD. Namun tak lama setelah itu, ada dua orang yang menghampiri Vano dengan wajah khawatir.
"Vano?"
"Iya, saya Vano. Apakah anda orang tua, Lessy?" tanyanya sangat sopan.
"Iya, kami orang tua Lessy. Bagaimana keadaan Lessy, apakah dia baik-baik saja?" tanya wanita paruh baya itu.
"Saya belum tau, Tante. Lessy masih di tangani dokter, ini saya juga masih nunggu dokter keluar." Vano menjawab pertanyaan ibunya Lessy.
Namun setelah itu Vano melihat ibunya Lessy terduduk lemas di kursi. Sedangkan suaminya langsung duduk di depan istrinya itu, sambil menggenggam tangan sang istri.
"Yakin, Lessy pasti baik-baik saja. Lessy anak yang kuat, kita gak boleh seperti ini. Kita harus mendukung Lessy, agar dia semangat."
Vano yang mendengar ucapan Ayahnya Lessy menjadi penasaran. Vano sengaja mendekati mereka, dan bertanya tentang penyakit Lessy.
"Sebenarnya Lessy sakit apa, Om? Kenapa Lessy tiba-tiba pisang saat ketakutan tadi, bahkan tubuhnya juga bergetar hebat." Vano bertanya sambil menatap Handoko—selaku Ayahnya Lessy.
"Lessy mengidap, emah jantung tipe hipertrofik. Dia sering kali pingsan, tapi gak pernah sampai masuk rumah sakit. Biasanya dia pingsan, cuma beberapa menit. Tapi ini lebih dari satu jam, dan itu membuat kami semakin takut," balas Handoko.
Sedangkan Lusi—Ibunya Lessy, semakin menangis. Lusi gak mau sampai anaknya anfal, atau kemungkinan buruk lainnya. Lessy adalah anak mereka satu-satunya, dan mendapatkan Lessy juga gak mudah.
Mereka harus menghabiskan banyak harta, agar bisa mendapatkan anak. Hingga mereka akhirnya bangkrut, demi bisa mendapatkan Lessy.
__ADS_1
"Lemah jantung," gumam Vano sangat lirih.
"Keluarga pasien, Lessy?" Panggil salah satu Suster. Dengan cepat mereka menghampiri suster itu, dan bertanya bagaimana keadaan Lessy.
"Sus, bagaimana Lessy?" tanya Handoko sangat khawatir.
"Pasien sudah sadar, kalian bisa menjenguknya. Tapi, satu-satu dulu ya. Karena pasien butuh ketenangan," balasnya. Setelah berkata, suster tersebut langsung masuk kedalam lagi.
"Mas, aku duluan ya? Kamu di sini saja sama Vano, temani dia. Gak enak kalau kita masuk berdua, lagian suster hanya memperbolehkan satu orang," ucap Lusi.
"Iya, kamu masuk saja dulu. Biar aku sama Vano di sini, tapi jika dia gak keberatan." Handoko pun menatap Vano. Karena Handoko gak tau, Vano akan tetap tinggal atau enggak.
"Tentu saya gak keberatan, saya juga masih ada keperluan dengan Lessy."
Handoko akhirnya tersenyum lega. Entah kenapa Handoko sangat suka dengan Vano, walaupun dia baru bertemu dengan Vano.
Setelah itu mereka memutuskan untuk duduk di samping UGD. Mereka berdua berbincang-bincang, sambil menikmati kopi yang tersedia di rumah sakit.
"Aggghh! Vano kamu berbohong, katanya kamu gak sama Lessy. Tapi, apa? Kamu bersama dengan dia, dasar pembohong!" Teriak Alena sangat kencang hingga membuat Lisma khwatir di buatnya.
"Lena, kamu gak apa-apa? Coba buka pintunya, Mama mau masuk." Teriak Lisma dari luar. Namun bukannya membuka, Alena semakin murka.
"Pergi kamu! Kamu bukan mamaku, mamaku hanya satu! Cepat pergi, aku muak denganmu!" Alena berkata sangat kasar.
"Lena, kamu kok gitu Nak. Coba buka pintunya, Mama mau bicara sebentar." Lagi-lagi Alena muak mendengar sebutan Mama, yang keluar dari mulut Lisma. Dengan amarah yang full, Alena membuka kamarnya dan langsung membentak Lisma.
"Lo tuli, Ha? Sudah gue bilang, jangan nyebut diri lo Mama. Gue sudah muak pura-pura terus, lebih baik lo pergi dari rumah ini. Pergi!"
__ADS_1
Plakkk ....
Satu tampar langsung mendarat dengan mulus, saat Alena selesai bicara. Siapa yang nampar, yang jelas bukan Seto. Karena Seto sudah pergi kerja.
"Kak Nadia."
Ya, yang menampar Alena adalah Nadia. Anak pertama Seto, Nadia sangat tak suka dengan prilaku Alena yang sangat kurang ajar itu. Walaupun Nadia sempat kecewa, karena Seto menikah lagi, tapi seiring waktu, kebaikan Lisma membuat asumsi Nadia memudar.
Nadia sangat menyayangi Lisma, sama seperti Nadia menyayangi Sekar. Jika Lisma ada yang menyakiti, maka Nadia gak akan ikhlas.
"Iya ini kakak! Kakak sangat kecewa sama kamu, Lena. Bisa-bisanya kamu bersikap seperti ini, dia itu Mama kita. Walaupun dia gak melahirkan kita," balas Nadia sangat menekan.
Sedangkan Lisma langsung memegang pundak Nadia. Lisma gak mau mereka bertengkar, apalagi mereka bersaudara.
"Nad." Lisma menggeleng untuk memberikan kode.
"Gak, Ma. Alena sudah keterlaluan, dan Nadia gak terima itu. Intinya, Nadia mau Alena menghormati Mama." Jelas Nadia sambil memegang tangan Lisma.
"Mama gak apa-apa, ini memang salah Mama. Mama yang maksa Alena, jadi wajar jika dia marah." Lisma terus-menerus membelah Alena. Tapi, sayangnya yang di bela gak tau diri.
"Aku sangat benci dengan orang ini, Kak. Dia yang membuat Mama di lupakan, jika dia gak masuk ke rumah ini, Mama gak akan terasingkan di rumah ini. Alena sangat benci dengan wanita murahan ini!"
"Alena!"
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading