
Satu minggu pun telah berlalu. Keputusan kepolisian juga masih menetapkan Lorena sebagai saksi, begitu juga dengan Alena.
Mereka masih dalam pengawasan polisi, sampai orang sewaan Lorena ketemu. Dan tepat hari ini juga, Bayu menemukan tempat persembunyian orang suruhan Lorena.
Semua polisi sudah mengepung dari semua sisi. Senjata lengkap pun juga sudah mereka siapakan, mereka hanya tinggal masuk kedalam dan menggerebek para pelaku.
"Pak, ini saat yang tepat. Ayo kita masuk, dan kita sergap. Dari perkiraan saya, mereka ada dua orang, dan semuanya ada di dalam," ucap joko sambil bersiap-siap.
"Akhirnya kita menemukan buronan yang selama ini kita cari. Ayo kita siap-siap serbu mereka, dan jangan sampai mereka lolos dari genggaman kita."
"Siap, Pak!"
Dengan langkah yang sudah ditentukan, mereka bersiap-siap ingin mendobrak pintu tersebut. Dengan hitungan, satu, dua, tiga dan empat Mereka pun langsung mendobrak pintu itu.
Brakkk!
"Jangan bergerak!"
Dua orang yang sedang pesta minuman keras itu, langsung mengangkat tangannya. Mereka sedikit bingung, tapi dengan cepat Bayu, dan joko mendekati dua tersangka.
Tanpa tunggu lama, Bayu langsung memborgol tangan buronan itu. Bayu menyuruh anak buahnya membawa mereka, tapi salah-satu dari mereka memberontak.
"Apa salah saya? Kenapa saya di tangkap, memangnya saya ini penjahat?" tanya Rusman sambil menatap bingung Bayu.
"Ck! Sudah melakukan pembunuhan masih tanya salah apa, memang ya, maling gak akan pernah ngaku. Tapi kamu lihat saja, di ruangan intrograsi kamu gak akan pernah bisa berbohong."
Bayu pun menyuruh yang lain memasukkan Rusman, dan juga Hadi kedalam mobil. Hadi yang masih terpengaruh minuman, hanya bisa diam. Kepalanya sangat berdenyut, efek dari minuman haram itu.
Jadi Hadi memutuskan diam, karena dia juga merasakan mual, dan pusing yang sangat mendalam.
Setelah semua masuk kedalam mobil, mereka langsung menuju kantor polisi. Tak membutuhkan waktu lama, mereka akhirnya sampai.
Bayu menyuruh anak buahnya menurunkan mereka, setelah turun mereka di giring ke ruangan intrograsi.
"Duduk!" Bentak Bayu sangat sinis.
Mereka hanya bisa mengikuti apa kata Bayu. Karena di suruh duduk, maka mereka langsung duduk. Tapi, sayangnya Hadi langsung meletakkan kepalanya di atas meja.
__ADS_1
"Yang tegak, jangan seperti ini!" Bentak Bayu sekali lagi.
Hadi pun mencoba menguatkan nyawanya. Sungguh efek minuman haram membuat dirinya linglung, alias gak bisa melek.
"Bagus, sekarang aku mau bertanya sama kalian! Kalian kan yang menabrak mobil keluarga Handoko, dengan mobil kalian?" tanya Bayu sangat tegas. Namun, sayangnya dua orang itu enggan berbicara.
"Baiklah jika gak mau bicara, maka jangan salahkan kami jika bertindak keras. Joko ambil korek api, dan lilin. Bakar telapak kakinya, agar mereka merasakan mati terpanggang itu bagaimana."
Memang ini gak seberapa dengan apa yang mereka lakukan, lilin sangat kecil, apinya juga gak terlalu panas, beda dengan kedua orang tua Lessy. Mereka terpanggang hingga hangus di dalam mobil, karena ulah mereka berdua.
"Gak akan ngaruh, saya tetap akan bungkam!" teriak Rusman sambil tertawa.
Di sini Bayu sadar, jika pembunuh bayaran ini gak kenal mati. Dia akan melakukan apapun, agar keamanan bosnya terjaga.
Joko yang melihat instruksi Bayu, langsung bergegas keluar. Tak lama setelah itu, Joko masuk dengan tiga orang. Mereka membawa drum besar, dengan arang yang masih menyala.
"Bagaimana? Masih gak mau ngaku kalian?" tanya Bayu lagi. Tapi sayangnya mereka sangat rapat menutup semua, dan gak mau bicara?" tanya Bayu sangat sinis.
"Gak akan!"
"Oh, begitu. Baiklah, Joko bawa bara api itu ke sini. Bakar kaki mereka, kalau perlu tangan-tangannya juga!"
Jeritan kesakitan langsung terdengar, tapi mereka tetap diam. Apalagi Hadi, dia telanjur mabuk sampai gak merasakan apa yang di lakukan Joko.
Hadi hanya bergerak ringan, seperti gak merasakan apapun. Sungguh mirass membuat Hadi melayang entah kemana, yang ada di otak Hadi hanya satu. Hidup bahagia dengan anak keluarga, itulah yang ada di otak Hadi.
"Ngaku gak!"
Brakkkk!
Bayu mulai hilang kendali, tapi tak lama setelah itu Bayu mendengar Hadi mengigau. Hadi memanggil nama anaknya, dan menangis karena gak bisa memberikan barang halal.
"Oh, kelemahan yang satunya adalah keluarga. Baiklah, aku akan gertak sana."
"Pak Hadi Poernomo, jika Bapak sayang dengan anaknya dan gak mau terjadi apa-apa dengan Laura. Maka Bapak harus jujur, tapi jika Bapak berbohong, maka saja akan datang ke sana, dan merenggut semua kebahagiaan putri Bapak!"
Sontak Hadi langsung sadar saat mendengar nama anaknya di sebut Bayu. Bahkan Hadi langsung merasakan panas, yang sangat terasa di kakinya.
__ADS_1
"Sial! Panas, aduh panas!" Hadi langsung menaikan kakinya. Betapa terkejutnya Hadi, saat melihat kakinya matang gara-gara bara api.
"Kalian apakan kakiku, sampai seperti ini. Dan tadi aku mendengar nama Laura, jangan macam-macam kamu sama anakku!" teriak Hadi sangat kesal.
"Hadi, jangan terpancing. Dia hanya menggertak saja, ingat kata bos!" seru Rusman sangat lirih.
"Gak, aku akan tahan jika aku yang di hukum. Tapi, jika anak-istriku. Maaf, aku gak bisa, mereka segalanya untukku. Walaupun aku preman, tapi aku sayang mereka. Lebih baik aku yang menderita daripada putri kecilku, aku gak bisa Rusman," ucap Hadi sangat lantang.
Namun Rusman langsung geleng-geleng, dan gak setuju dengan ucapan Hadi. "Bos akan marah, Hadi! Malah kalau kamu jujur, anak-istrimu gak akan tenang!"
"Aku yang akan menjamin keamanan anakmu, jika kamu mau jujur. Apakah kamu gak kasihan dengan anak korban, sekarang dia jadi yatim piatu. Kamu gak mau kan anakmu seperti korban?" Hadi langsung menggeleng. Hadi lebih baik jujur, daripada keluarga kecilnya terluka.
"Jujur, Pak! Saya lakukan ini juga terpaksa, karena saya butuh uang. Sumpah saya mabok karena merasa bersalah, jadi mungkin melayang sebentar bisa rileks. Tapi, sayangnya saya makin tertekan. Sebenarnya saya gak mau melakukan ini, tapi anak saya sedang koma di rumah sakit. Dia membutuhkan biaya yang sangat banyak, dan hasil jual rumah gak cukup. Saat itu saya sudah buntu ide, hingga Rusman—"
"Hadi!" Celah Rusman. Tapi Hadi gak mau tau, dia gak mau Laura anaknya kenapa-napa.
"Hingga Rusman menawari saya untuk ikut membantu dia. Saya kira hanya sebatas meneror, tapi gak taunya bos menyuruh untuk di bunuh. Andai saja saat itu bos gak minta di bakar, mungkin mereka masih selamat. Saya juga masih melihat mereka bergerak ingin keluar, tapi Rusman langsung menyiram bensin ke mobil itu dan langsung membakarnya. Rusman membuang bukti di jurang, sedangkan dompet saya jatuh saat Rusman mencegah saya menolong mereka."
Tangis Hadi pun langsung pecah. Sedangkan Rusman merasa kesal, karena Hadi gak bisa menjaga rahasia.
"Kalian di bayar berapa?" tanya Bayu.
"100 juga satu orang, jadi totalnya 200 juga." Hadi terus menjawab pertanyaan Bayu.
"Siapa bos kalian?"
Hadi diam sejenak. Dia bingung sekarang, jika dia jujur apakah keluarganya akan selamat.
"Janji dulu, Bapak akan melindungi mereka." Pintanya sangat memohon.
"Aku janji, akan melindungi mereka. Jujurlah, agar hukuman mu di ringankan."
"Bos kami bernama, Lorena. Dia bilang, cucunya ingin keluarga korban menderita. Bos ingin membahagiakan cucunya, jadi jalan satu-satunya membunuh mereka."
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading