
"Kak, aku boleh tanya gak?" tanya Dira saat mereka sedang rebahan di atas ranjang.
"Eemm...." Arya hanya berdeham untuk mengiyakan pertanyaan Dira.
"Kakak suka banget kan minum susunya, Dira. Memang rasanya gimana sih, apa keluar air atau tidak. Setau ku sih, gak akan keluar ASI kalau belum pernah melahirkan," ucap Dira yang penasaran.
"Memang gak ada Sayang, Jika kamu yang melihat. Karena hanya aku yang bisa merasakan, rasanya manis, sedikit gurih," balas Arya dengan memainkan daging mungil itu dengan gemas. (Eh. Sumpah aku ngakak, nulis ini. Bukan hanya ngakak, malu juga iya. Cacat logika pun tak apa, suka-suka saya ðŸ¤)
"Ih.... Aku serius, Kak! Ada gitu rasanya, aku pengen coba boleh gak?" balas Dira yang masih saja penasaran.
"Memang kamu bisa, minum punya kamu sendiri?" tanya Arya dengan malas. Karena menurut Arya, pertanyaan Dira sangat konyol.
Ada-ada saja, memang dia bisa mencicipi gunung kembarnya. Iya kalau molor percaya aku, tapi kan gunung kembar gak bisa ditarik ke atas. gumam Arya dalam hati.
"Kan aku bisa coba punya, Kakak. Boleh ya, aku penasaran banget kak. Please." Dira pun memohon agar Arya mengizinkan dia mencoba benda kecil milik Arya. Tentu Arya langsung menggelengkan kepala, dia gak akan mau. Karena itu tak pernah melintas di benaknya selama ini.
"Gak boleh! Perempuan itu gak boleh coba milik suami, hanya suami yang boleh mencoba milik istri!" Tolak Arya sangat tegas. Sedangkan Dira langsung cemberut dan langsung memasukan payu*daranya ke dalam, karena dia memutuskan gak akan membiarkan bermain-main dengan sesuka hatinya.
"Kenapa di masukin lagi?" tanya Arya yang gak terima.
Dira pun langsung menatap tajam Arya, dan langsung berbicara. "Kalau Dira gak boleh coba, berati gak ada jatah nutrisi! Jatah Kakak aku stop mulai dari sekarang, jadi silahkan cari nutrisi lain. Contohnya kayak sufor, bukan wanita lain!" balas Dira dengan jengkel.
"Eh.... Jangan gitu, Sayang. Gini aku jelasin, kalau laki-laki menyusui perempuan kan gak masuk akal Sayang, kalau perempuan kan wajar," bujuk Arya. Namun lagi-lagi Dira tak menggubris perkataan Arya, entah kenapa Dira sangat ingin mencoba daging kecil miliki Arya.
Aku tau ini gak wajar, tapi aku benar-benar ingin. Jadi bagaimana dong, aku sangat ingin mencicipi itu. Kalau kak Arya menolak, rasanya aku ingin meninju dia saja! gerutunya dalam hati.
Dira pun menatap Arya dengan mata yang berkaca-kaca. Dira siap menumpahkan air matanya, dan akan mengalir dengan deras. Namun Arya sama sekali tak luluh dengan expresi Dira, karena memang dia egois. Maunya di kasih Nutrisi tanpa henti, tapi dia sendiri gak mau mencicipi Dira Nutrisinya.
__ADS_1
"Hiks... Hiks... Hiks...." Akhirnya suara isak kan tangis Dira pun mulai terdengar. Arya yang melihat istrinya menangis langsung terbelalak, karena ini gak main-main. Istri tercintanya benar-benar menangis, padahal Dira tak se cengeng ini sebelumnya.
"Jangan menangis Bebby. Oke aku izinkan kamu mencoba daging kecilku, tapi ingat hanya sebentar karena aku geli," ucap Arya dengan pasrah.
Ini bocah kenapa ya? Gak biasanya se cengeng ini, aku merasa ada yang aneh. Tapi aku gak tau apa, beberapa hari ini sikap Dira seperti anak kecil. gumam Arya lagi.
"Serius?" Arya pun langsung terkejut dengan teriakan Dira. Padahal baru saja dia menangis, kenapa sekarang jadi segirang ini.
"Apa kamu aktor-aktor yang suka berakting? Masa tadi habis nangis dengan linangan air mata, tiba-tiba jadi senyum dan tak ada bekas air mata," ucap Arya dengan heran.
"Aku gak akting, Kak! Tapi entahlah, beberapa hari ini aku sedikit merasa aneh. Emosiku selalu berubah-ubah, kadang aku ingin nangis, tapi kadang ingin di manja-manja," balas Dira dengan menaruh kepalanya di atas dada Arya.
"Ya sudah sini aku aku kasih minum susu. Tapi ingat jangan keras-keras, nanti aku kesakitan." Dira pun langsung mengangguk pasti. Dengan sangat semangat Dira langsung membuka baju arya dan mulai mengelus benda kecil itu.
Tanpa menunggu lama, Dira langsung mendaratkan bibirnya di atas daging kecil itu. Namun saat lidah Dira menyentuh benda kecil itu, Dira merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya. Ya, perut Dira terasa mual.
Hueekk... Hueekk... Hueekk....
Hueekk... Hueekk...
"Masih mual?" tanya Arya yang mulai panik.
"Kak! Aku gak mau mencoba itu lagi, ini sangat menjijikkan," ucap Dira sambil menutup mulutnya lagi. Perutnya kembali bergejolak saat melihat benda kecil itu, bahkan Dira langsung mendorong Arya dengan cepat.
Hueekk....
"Cepatan pakai baju! Aku gak mau liat itu lagi, cepat lah Kak, jangan bengong di sini!" teriak Dira sambil menghentakkan kakinya.
__ADS_1
Arya pun dengan cepat berlari ke arah ranjang dan memakai bajunya lagi, Arya benar-benar di buat bingung dengan sikap Dira akhir-akhir ini. Dira seperti punya dua kepribadian, yang satu sok tegas dan yang satunya kaya anak kecil, dan itu membuat Arya sangat pusing tujuh keliling.
"Baru semenit, bilang sangat ingin mencoba. Tapi sekarang bilang gak mau, kenapa anak ini sebenarnya?" Gerutu Arya dengan memakai baju. Tak lama setelah itu, Dira keluar dari kamar mandi dengan mata berkaca-kaca.
"Kak, peluk aku. Aku kangen, tapi pakai saja bajunya. Aku gak mau liat kakak telanjang dada. Aku jadi mual liat kakak seperti tadi, pokoknya gak boleh," rengek Dira sambil mengulurkan tangannya. Tanpa tunggu lama, Arya langsung memeluk Dira dan membawanya dalam pelukan terhangat.
"Kamu merasa ada yang aneh gak, sama dirimu akhir-akhir ini? Aku merasa kamu punya kepribadian ganda tau gak, aku jadi takut Dira." Dira pun langsung menatap Arya dengan kecewa. Tanpa Arya sadari, jika perkataannya tadi membuat Dira sakit hati.
"Gak jadi peluk, Kak. Aku mau pergi ke rumah Mama saja, aku kangen dengan kak Sintal. Maaf jika membuat kakak takut." Setelah itu Dira langsung melepaskan pelukan Arya, dan langsung menuju meja untuk mengambil tasnya.
Sedangkan Arya langsung melongo, karena menyadari perbuatannya yang salah. Bahkan Arya merutuki kebodohannya, saat ini. Ya ampun, aku salah bicara lagi. Bodoh... Bodoh, kamu Arya!
"Eh... Kok gitu Sayang. Kakak beneran bercanda tadi, Kakak hanya bingung," ucap Arya sambil mencegah kepergian Dira. Bahkan Arya semakin di buat bingung, saat Dira memasukkan beberapa helai baju miliknya, dan sama sekali tak merespon perkataan Arya.
"Dira dengarkan, Kakak!" bentak Arya yang terlanjur capek dengan sikap Dira. Dira langsung menatap tajam Arya karena baru kali ini dia di bentak.
"Kakak bentak, Dira?" tanya Dira dengan tatapan kecewa.
"Kakak gak akan bentak, jika kamu dengarkan kakak. Kamu jangan bikin tambah runyam, bikin pusing saja!" bentak Arya sekali lagi.
"Jahat!" Dira pun langsung menangis saat mendapatkan bentak kan itu. Dira langsung keluar dari kamar, dan masuk ke kamarnya dulu. Kamar Dira dan Vano, bahkan Dira langsung mengunci pintu tanpa mempedulikan Arya yang terus mengetuk pintu.
"Dira, maafkan Kakak!" teriak Arya. Namun Dira sama sekali tak memperdulikan Arya, karena dia terlanjur sakit hati.
*
*
__ADS_1
*
Happy Reading