Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
season 1 - 29


__ADS_3

plakkk...


Sebuah tamparan pun langsung mendarat di pipi Arya. Saat ini Dinda benar-benar emosi dengan Arya, yang baru saja mengatakan jika Fani tengah mengandung anak Arya.


"Dasar anak bodoh! Bisa-bisanya kamu melakukan hubungan badan dengan Fani, tanpa ada ikatan Arya! Bahkan sekarang dia hamil. Astaga Arya otak itu, kamu taruh mana?" bentak Dinda sambil menunjuk wajah Arya. Dinda benar-benar murka dan tak terima, saat mengetahui kenyataan yang ada.


"Arya hilaf, Ma. Tapi Arya berani bersumpah, Arya gak sadar waktu melakukan itu dan Arya juga gak tau kalau bisa jadi begini. Bahkan setelah kejadian itu, Arya tak pernah menyentuh Fani lagi," jelas Arya. Arya sangat bingung dengan situasi ini, apalagi dia sudah berjanji akan mengakhiri semuanya hari ini.


"Walaupun sekali, tapi kamu menikmatinya Arya! Apa kamu gak pernah Mama ajari tentang perlakuan yang menjurus ke dosa dan taidak? Perasaan Mama selalu mewanti-wanti kamu, Allah salah apa aku ini sampai kamu kelewat batas Arya!" teriak Dinda sangat keras. Pasrah itu yang dilakukan Arya, mau bagaimanapun dia mengelak tetap dia akan salah di mata Dinda.


"Anda saja adikmu masih hidup, Mama gak akan se setres ini Arya! Kamu sudah berjanji akan menikahi Dira, namun sebelum kalian resmi menikah, kamu sudah menghamili Fani. Benar-benar gak ada ota*k kamu, Arya!" Kini Ryant mulai khawatir dengan kesehatan Dinda, karena dokter selalu berkata harus mengontrol emosi Dinda takut jika sampai Asma nya kambuh. Dengan sangat lembut Ryant mengelus pundak Dinda agar tenang, bagaimanapun Ryant gak mau sampai Dinda kenapa-napa lagi.


"Ma, jangan marah-marah terus. Ingat Asma kamu juga, kalau sampai kambuh Mama pasti sulit bernafas lagi. Jadi Papa mohon, kontrol emosi Mama," ucap Ryant sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Bagaimana Mama gak emosi, jika punya anak macam begini! Terus sekarang Dira bagaimana? Padahal Arya sudah berjanji akan menikahinya, setelah masa iddah nya selesai?" tanya Dinda sambil menangis. Dinda benar-benar dilema, di satu sisi dia ingin Dira tetap menjadi menantunya. Namun di sisi lain, Dinda gak mungkin membiarkan anak Fani tak memiliki ayah.


"Tapi Arya masih ragu, jika itu anak Arya. Karena Arya waktu itu sama sekali tak sadar, tiba-tiba Arya sudah ada di kamar hotel tanpa busana bersama Fani, Ma." Arya pun mencoba menjelaskan semuanya, agar Mama dan Papanya tidak salah paham dahulu.


"Pokoknya Mama gak mau tau, kamu harus bisa memilih! Antara Dira atau Fani. Jika memang kamu yakin itu bukan anakmu, cepat cari bukti jangan klemar-klemer kayak gak punya tulang saja!" bentak Dinda yang sangat emosi. Sungguh baru kali ini Arya melihat seorang Dinda, marah besar padanya. Walaupun Dinda suka marah gak jelas, tapi di situ selalu ada kelucuan yang bisa membedakan mana marah asli dan palsu.


"Hanya ada satu cara, agar semuanya terlihat jelas dan pasti. Kita bisa melakukan tes DNA tehadap bayi itu, dan kita akan tau itu anak kamu atau bukan Arya," ucap Ryant yang memberikan ide pada Arya. Sedangkan Arya hanya menanggapi dengan helaan napas gusar, karena ide sang ayah tak mungkin dia lakukan karena Fani tak ingin melakukan itu.


"Tadi sebelum Papa bilang, Arya sudah bertanya sama dokter kandungan. Arya setuju melakukan tes DNA itu tapi, Fani gak mau karena takut tejadi apa-apa dengan bayinya. Jadi kita akan menunggu hingga kandungan Fani kuat, atau sampai melahirkan," jawab Arya dengan penuh rasa takut. Bahkan kini Arya dapat melihat raut wajah terkejut Dinda, yang baru saja mendengar ucapan Arya.


"Gila kamu, Arya! Trus nasip Dira bagaimna?" tanya Dinda sekali lagi, bahkan lebih menantang dari yang tadi.


"Aku akan jujur dengan Dira, aku yakin dia pasti bisa mengerti," jawab Arya.

__ADS_1


"Terserah kamu!" Setelah itu Dinda langsung pergi meninggalkan Arya setelah berdebat.


****


Disinilah aku sekarang. Di ruangan yang bernuansa putih penuh dengan bau obat-obatan, dan juga banyak suster berlalu lalang di ruangan UGD ini. Aku sungguh syok saat mendengar penjelasan dokter, jika aku sedang mengandung.


Seharusnya ini adalah berita bahagia bagi orang yang memang mendambakan seorang anak, tapi bukan denganku. Ini anak yang tak pernah aku inginkan, anak hasil pemerkosaan dari Rangga saudara tiriku.


Apa yang sedang kau rencanakan untuk aku ini, ya Allah? Kenapa harus hamil, kenapa harus aku yang mengalami ini semua? Di saat aku berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan hubunganku dengan Arya, kenapa kau hadirkan anak ini?


Aku sungguh tak menginginkan bayi ini, tapi aku juga tak tega membunuhnya. Arya juga mulai curiga, jika ini bukan anaknya. Apa aku harus menyerah, dan meninggalkan Arya?


Tapi, apa aku sanggup berjalan sendiri tanpa adanya seorang lelaki yang mendampingi aku di saat seperti ini? Apa aku harus jujur dengan Rangga, dan meminta pertanggungjawaban padanya?


"Iya, aku harus menghubungi Rangga! Bagaimanapun ini juga anaknya, dan aku gak mau menutupi siapa ayah biologis anak ini,"


"Apa!" bentak dia padaku. Begitu bencinya kah dia, sampai aku menelpon dia di balas dengan bentak kan?


"Rangga, aku hamil." Ucapku lirih. Namun sungguh hati ini semakin sakit, saat mendengar Rangga tertawa terbahak-bahak di sebrang sana. Apakah ada yang salah dengan ucapanku?


"Hamil? Memang urusannya sama aku apa? Lagian itu bukan anakku, mungkin saja setelah malam itu, kamu memliki lelaki lain," jawab Rangga begitu entengnya. Sakit, hati ini sangat sakit saat mendengar tuduhan yang tak pernah ada bukti yang real. Memang aku wanita gampangan, yang mau teplok sana-sini?


"Ini anakmu Rangga! Karena hanya kamu yang menyentuhku, dan kamu sendiri juga tau, kamu orang pertama yang mengambil kesucian yang aku miliki!" bentak ku padanya. Sungguh aku gak terima Rangga meragukan aku. Walaupun aku sempat menggoda Arya tapi, itu agar membuat dia percaya jika malam itu benar Arya yang menyentuhku.


"Gugurkan saja, anak itu! Aku tak menginginkannya, aku akan mentransfer uang buat menggugurkan kandungan mu itu!"


Gila ini benar-benar gila, bagaimana mungkin Rangga sampai setega ini? Apa dia gak merasa berdosa, apa memang Rangga sudah tak memiliki hati? Aku marah, aku kesal, aku tak terima Rangga berkata seperti ini!

__ADS_1


"Brengsek! Aku tak butuh uang Rangga, aku hanya ingin kamu mengakui anak ini! Ini juga anakmu Rangga, dan bagaimana bisa kamu tega membunuh darah dagingmu sendiri!" teriakku sangat histeris. Aku benar-benar tak terima dengan ucapan Rangga, aku sakit hati. Terasa sakit sekali hati ini, saat mendengar dia berkata seperti ini. Bahkan air mataku tak bisa berhenti sedaritadi, selalu mengalir saat mendengar ucapan dia yang begitu keji.


"Jika kamu mau mempertahankan kandunganmu, ya terserah. Lagian aku yakin, Arya akan menerima anak itu. Bahkan aku yakin, Arya gak akan menelantarkan haram ku itu." Ya Allah apaan ini? Kenapa dia semakin gila, semakin dia berbicara emosiku semakin tinggi. Dia mengatakan anaknya sendiri haram, sungguh kejam kamu Rangga.


Darahku mendidih, jantungku berdetak sangat kencang, keringat dingin mulai menyerpah diriku. Ingin aku mengumpat, ingat ku maki dia, ingin juga aku membunuh Rangga. Aku kecewa, aku benar-benar terluka. Aku tak terima anakku di anggap, anak haram!


"Aku salah apa, Rangga! Aku salah apa? Kenapa kamu berubah, kenapa kamu tega sama aku! Aku membencimu Rangga!" teriakku sangat histeris. Aku tak memperdulikan semua orang yang melihatku di ruang UGD, mereka semua melirik aku, tapi aku tak perduli karena yang aku tau, aku sangat membenci Rangga!


"Karena aku membencimu, Fani!Kamu lebih memilih mama dan papa menikah, sedangkan kamu tak memikirkan perasaanku saat itu. Aku ingin memperjuangkan cinta kita tapi, degan mudahnya kamu berpaling dengan arya!" Dan inilah isi hati Rangga sesungguhnya. Dia memang kecewa dengan aku, tapi apa perlu sampai merusakku?


"Mama mengancam akan bunuh diri, Rangga. Mana bisa aku tega melihat mamaku bunuh diri, karena aku tak merestui mereka berdua?" jawabku sambil menangis. Aku benar-benar kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kejadian masa lalu itu, aku tak tau harus pakai cara apa untuk membuat Rangga mengerti.


Dulu lima tahun yang lalu, aku dan Rangga adalah sepasang kekasih yang sangat serasi. Banyak orang yang memuji kami, karena kami selalu menampilkan kemesraan.


Aku dan Rangga berpacaran mulai dari SMA kelas 3, dari umur 17tahun kami menjalin hubungan. Namun hubungan kami kandas, saat aku berumur 25 tahun. Kandasnya hubungan kami, juga karena orang tua kita masing-masing. Mamaku memutuskan menikah dengan, papanya Rangga. Walaupun kita bisa bersama, tapi mama gak mau kita terhubung ikatan dalam satu keluarga.


Mama mengancam akan bunuh diri, jika aku terus memikirkan ego. Sebenarnya yang egois bukanlah aku ataupun Rangga, melainkan mama lah yang egois. Dia gak mau aku bahagia dengan Rangga, memang itu tujuannya. Mama sangat membenciku dari kecil, dia tak menginginkan aku hadir di dunia ini.


"Ingat gugurkan anak itu, atau kamu suruh Arya bertanggung jawab. Jangan pernah hubungi aku lagi, karena aku gak akan pernah mengangkat pangilan dari wanita murahan seperti dirimu!"


"Brengsek, kamu Rangga! Aku membencimu, aku sangat membencimu!"


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2