
Kini Dira duduk di samping Arya yang masih saja terbaring lemah, bahkan wajah Arya agak kurusan karena sakit beberapa hari ini. Dokter juga sudah melakukan tes pada Dira, dan hanya menunggu hasilnya saja.
"Tia, apa benar kamu ingin mendonorkan ginjal kamu?" tanya Dewi sangat terkejut. Baru saja dokter yang menangani Arya bicara pada Angga, karena memang saat itu Angga menanyakan kondisi menantunya itu.
"Mama tau dari siapa?" tanya Dira balik.
"Bukannya jawab, malah balik tanya! Apa benar kamu mau mendonorkan ginjal kamu untuk Arya?" tegasnya sekali lagi. Dira pun hanya bisa menghembuskan napas gusar, dan mulai bicara jujur.
"Iya, Ma. Tia akan mendonorkan ginjal untuk Arya, itu semua juga demi keselamatan Arya. Tia gak mau sampai Arya seperti Vano dulu, jika pun itu sampai terjadi, maka Tia gak akan memiliki semangat hidup lagi," balas Dira dengan mata berkaca-kaca.
Dewi yang tak bisa melihat anaknya menangis pun langsung memeluk Dira sangat erat. Dewi tau gimana rasanya jadi Dira apalagi Dira pernah kehilangan suami, karena sakit parah.
"Tia gak mau kehilangan, kak Arya. Jadi Tia berikan ginjal Tia, agar kak Arya bisa sehat kembali. Tia gak mau jadi Janda lagi, Tia mau hidup sampai tua nanti sama kak Arya," ucap Dira yang terus menangis.
Melihat anaknya seperti ini, Dewi juga ikut menangis. Namun siapa sangka, Arya mendengar semuanya. Tepat saat Dira berkata, di saat itu juga Arya baru sadar.
"Aku gak akan menerima ginjal itu, Dira!" ucap Arya sangat marah. Bahkan Arya langsung melepaskan Nasal Oxygen Cannula yang ada di hidungnya, Arya gak perlu dia bisa bernapas atau tidak. Yang pasti dia sangat marah, saat ini.
"Kakak!" Dira langsung berdiri dan membenarkan Nasal Oxygen Cannula milik Arya. Namun dengan cepat Arya memeluk istrinya itu, dan mulai terisak.
"Aku gak mau kamu sakit, biarkan aku yang sakit. Ini juga karena aku yang lalai, aku mohon jangan sakiti dirimu hanya karena aku. Aku akan menolak itu semua, Dira. Lebih baik aku mati saja, daripada harus mengambil ginjalmu."
"Kak! Aku gak mau dengar itu, aku gak mau di tinggal. Aku mau Kakak sembuh, jadi Dira mohon izinkan Dira melakukan ini." Arya pun langsung menggeleg. Arya gak setuju dengan keputusan Dira, apalagi sampai berhasil mendonorkan ginjalnya.
"Gak! Jika kamu maksa, maka jangan pernah lagi menemui aku. Pergi saja sana, gak perlu kamu lihat aku," usir Arya sambil melepaskan pelukannya.
"Kakak, kok gitu? Ini semua demi Kakak, aku gak mau Kakak sakit. Apakah aku salah jika ingin mendonorkan ginjalku untuk, Kakak?" tanya Dira sambil menangis. Dira gak tau jika Arya akan semarah ini, saat tau Dira akan mendonorkan ginjalnya.
Sedangkan Dewi jadi semakin menangis melihat mereka. Dewi gak kuat, melihat kebahagiaan anaknya sirna karena penyakit yang di derita Arya.
__ADS_1
"Kakak gini juga karena kamu ngeyel, Dira. Sekarang kamu pilih, tetap mendonorkan ginjalmu tapi kamu gak akan melihat aku untuk selama-lamanya, atau batalkan rencanmu dan kamu masih bisa di sampingKu?" Dira semakin menangis. Arya memberikan pilihan yang sama-sama sulit, dan membuat Dira bingung.
"Kak ...."
"Jawab Dira!" bentak Arya sangat keras hingga Dira terjingkat.
"Aku akan tetap mendonorkan ginjalku, jika hasilnya cocok. Terserah kamu mau gimana, tapi aku akan tetap mendonorkan ginjalku," balas Dira sangat pasti.
Dira berpikir, lebih baik melihat Arya sehat dan masih ada di dunia ini. Daripada tak bisa melihat Arya sama sekali, dan itu akan membuat Dira semakin terpuruk.
"Maka sekarang tinggalkan aku sendiri, jangan pernah kamu temui aku. Pulanglah, kamu gak perlu ada di sini. Pikirkan juga Baby-twins, jangan karena kamu ingin aku tetap hidup, kamu jadi melupakan kehadiran mereka," usir Arya sangat lirih.
Sebenarnya hati Arya sangat sakit saat ini, karena mengusir istrinya. Tapi Arya sudah memberikan pilihan, namun Dira tetap dengan pendiriannya.
"Ma, tolong antar Dira pulang. Bawa juga Baby-twins, tapi sebelum mereka pergi. Aku ingin melihat untuk terahir kalinya, aku ingin memeluk mereka."
"Kak, kenapa kamu tega sama aku? Aku hanya ingin yang terbaik saja, apa aku salah?" tanya Dira dengan linangan air mata.
"Salah! Keputusanmu ini salah, karena kamu hanya memikirkan aku. Tapi tidak dengan, Baby-twins. Apakah sebelumnya kamu tidak berpikir, dengan keputusan yang kamu ambil? Kamu jangan jauh-jauh, coba lihat aku saja. Aku dulu menyelamatkan Seto, aku memberikan satu ginjalku pada Seto. Tapi setelah 6 tahun kemudian, aku juga sakit kan? Jika kamu juga sakit, siapa yang akan mengurus Baby-twins?" tanya Arya.
Dira pun seketika diam. Apa yang di kata Arya semuanya benar, tapi dia juga harus apa? Dira gak mau suaminya kesakitan terus, apalagi jika kambuh. Tak lama setelah itu, Dewi dan Angga masuk kedalam.
Mereka membawa Baby-twins pada Arya. Tentunya mereka langsung merentangkan tangan saat melihat Arya, apalagi mereka sangat dekat dengan Arya.
"Di ... di, aca." Anggap saja si kembar bilang Daddy Nakal. 😝
"Apa, Nak? Daddy Nakal ya?" Mereka berdua pun langsung mengangguk.
"Maaf, tadi Daddy mengajari Ardi agar gak jahat sama adik, kan Ardi cowok harus melindungi dan menyayangi adiknya," jelas Arya.
__ADS_1
Dasarnya mereka anak yang pintar, jadi Raya tau jika Ardi di marahi oleh Arya. Tanpa di duga, Raya malah menjulurkan lidahnya seperti mengejek.
Dan lagi-lagi, Ardi gak terima. Dia langsung mencakar sang adik, hingga membuat Raya menangis lagi. Arya pun langsung geleng-geleng, melihat tingkah anaknya itu.
Dengan cepat Dewi mengambil Ardi, agar mereka gak bertengkar lagi. Sedangkan Arya langsung menidurkan Raya di dadanya. Tak lupa, Arya juga menepuk-nepuk bokong Raya agar dia diam.
Seperti inilah Raya jika menangis, akan diam jika di sandarkan di dada sang Daddy. Raya begitu menikmati sentuhan Arya, hingga dia berhenti menangis.
"Bu, Bu," celoteh Raya.
"Tidurlah, Nak. Mungkin besok Daddy gak akan bisa beginikah kamu lagi, karena entah sampai kapan Daddy ada di sini," ucap Arya lirih.
Seperti tersihir, Raya langsung tertidur di dada Arya. Raya menggenggam erat tangan Arya, seakan tau dia gak akan bertemu Daddy-Nya lagi untuk beberapa hari ini.
"Dia sudah tidur, cepat bawa pulang. Aku gak mau dia sakit, dan ucapanku masih berlaku. Jika kamu tetap dengan pendirinya mu, maka aku gak akan pernah mau bertemu dengan kamu lagi," ucap Arya. Dira tak menjawab ucapan Arya, karena dia masih bingung dengan semua ini.
Jika aku bisa memilih, maka aku akan memilih tetap tinggal. Tapi jika takdirku harus pergi, maka aku harus siap melepaskan kalian semua. ~ Arya Wiguna
...My Spoiled Family...
...By. Nunuk Pujiati...
.......
.......
.......
__ADS_1