
Sedangkan di sisi lain, Mahen terlihat sangat kebingungan. Daritadi dia mencari Pimoy, tapi hasilnya nihin. Mahen sama sekali tak menemukan Pimoy, hingga dia merasa lelah.
Ada rasa khawatir di hatinya, tapi dia juga bingung harus menemui Pimoy di mana. Tadi dia kembali ke kantin kemarin, hasilnya juga nihil, yang ada hanya Alisya yang enggan memberitahu siapakan Pimoy itu.
"Agghhrr! Kamu di mana, Pimoy? Aku sangat khawatir, kenapa hari ini kamu gak terlihat di kampus. Apakah kamu sakit, atau apa?" gerutunya sambil menatap langit-langit taman.
Mahen bingung harus mencari tau info kesiapa lagi. Mahen juga sudah ke kelas Pimoy, tapi anak-anak di sana gak ada yang mengenal orang yang bernama Pimoy.
"Aku harus mencari kemana ini? Siapa yang bisa aku cari informasinya, lagian kenapa juga sih aku percaya jika dia bernama Pimoy. Sekarang aku kebingungan sendiri kan, karena aku gak tau nama aslinya!" Mahen berkali-kali mengumpati dirinya sendiri. Mau tak mau, Mahen akan melihat besok.
Jika sampai besok Pimoy belum ada, makan dirinya akan memakai jalan pintas. Yaitu mengancam, Alisya. Karena hanya Alisya orang yang bisa membantu Mahen, hanya saja dia perlu extra tegas padanya.
***
Sedangkan di kantor Arya di sibukkan dengan rutinitasnya. Arya sangat fokus dengan pekerjaannya itu, hingga dia tak menyadari ada seseorang yang masuk kedalam.
"Daddy, apakah Daddy gak mau melihat anakmu yang cantik ini?" Celetuk Arleta sambil menaruh tangannya di pinggang. Seketika Arya langsung terkejut, dan menoleh ke arah anaknya itu.
"My Princess, kamu di sini Nak? Sama siapa kamu, katanya mau ikut Papa?" tanya Arya yang sangat terkejut.
Setelah itu Arya menutup laptop dan bergegas menghampiri putri kecilnya itu. Putri yang sangat centil, dan sok kecakepan. Tapi memang cakep sih, karena titisan dari dewi Dira dan dewa Arya. Perpaduan yang sangat nikmat, bagi kaum huawai. 🤪
"Aku sama Mommy. Sekarang Mommy sedang berbicara dengan mbak Sinta, terus Mommy menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu," balas Arleta sangat gumuss.
__ADS_1
"Sini Daddy gendong. Daddy sangat merindukanmu, ayo kita pergi jalan-jalan atau pergi makan di Mall kesukaanmu," ajak Arya dan langsung mendapat respon baik dari Arleta.
"Ayok Daddy."
Arya pun langsung meletakkan Arleta di atas kursi. Setelah itu Arya langsung membereskan berkas-berkas yang ada di meja kerja, tak menunggu waktu lama semua sudah tersimpan rapi.
Hingga Dira datang dan merasa kebingungan. Dira melihat Arya melepaskan jasnya, hingga Arya hanya memakai kemeja.
"Kalian mau kemana? Perasaan baru datang deh, kenapa seperti akan pergi?" tanya Dira yang masih gak paham.
"Kita akan jalan-jalan, Mommy. Daddy mengajak kita ke Mall, ayo kita beli banyak mainan," ucap Arleta sambil berteriak antusias.
Dira pun langsung paham, dan menghela napas kasar. Inilah Arya jika tau anak perempuannya pulang. Pasti akan langsung mengajak anaknya itu jalan-jalan, dan meninggalkan pekerjaannya sendiri.
"Ya sekarang, nunggu nanti kelamaan. Mumpung Arleta ada, jadi aku mau puas-puaskan dulu. Sebelum dia kembali dengan kak Sintal," balas Arya sambil menggendong Arleta.
Namun saat Arya sampai di depan pintu, Dira langsung menghadang suaminya itu. Dira sangat tak suka dengan orang mager, apalagi meninggalkan pekerjaannya. Itu sikap yang sangat tak disiplin, dan juga memberikan contoh yang kurang baik.
"Gak bisa! Selesaikan dulu pekerjaannya, kita akan menunggu di sini. Tau gini, aku dan Arleta langsung pulang saja. Ingat kamu itu seorang Bos, jadi gak bisa seenaknya gini. Kamu panutan karyawan, jadi kita jalan-jalan sesudah jam pulang kantor. Titik, gak ada koma ataupun tanda seru!" Omel Dira yang membuat Arya tak bisa berkutik.
Jika Dira berkata A maka akan A, gak akan pernah ada yang bisa menandingi Dira. Bahkan Arleta yang notabene cerewet, akan kalah jika sudah mendapatkan tatapan maut dari Dira.
"Baik, Mommy!" seru Arleta dan Arya bersamaan.
__ADS_1
Arya akhirnya menurunkan Arleta, dan kembali menyelesaikan tugasnya. Sedangkan Dira lebih memilih menidurkan Arleta di kamar khusus yang ada di dalam ruangan Arya.
"Nasib punya istri, Macan! Apa-apa harus di turuti, kalau gak langsung ngap!"
"Aku mendengar suara protes. Apakah mau di potong jatahnya, atau gak akan mendapatkannya sama sekali!" Dira pun berteriak sangat kencang saat tak sengaja mendengar gerutuan suaminya itu.
Sedangkan Arya dia langsung terkejut, saat mengetahui kenyataan, jika istri gak jago dalam adegan ranjang. Tapi juga jago menguping dari jarak jauh.
"Tajam sekali pendengarannya, bisa-bisa aku makin gak berkutik jika jarak segitu saja masih dengar. Agghhrr, tapi sabar Arya demi kue apem, apapun akan kamu lakukan." Setelah itu Arya kembali mengerjakan tugasnya agar cepat selesai.
.
.
.
Happy Reading
Tolong dong ramein itu cerita, biar gak sepi. Sesepuh hatiku ini, wkwkk.
judul: Single Daddy
__ADS_1
Napen: Kolom Pena