Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 47 Obat tidur


__ADS_3

Satu minggu sudah Arya mencari keberadaan Dira, namun Arya sama sekali tak menemukan keberadaan Dira. Arya juga sudah menyuruh Pras mencari Dira di malang, tapi rumah Dira benar-benar kosong. bodoh lu Arya coba ke atas :)


Hari ini Arya merasakan lelah fisik dan batinnya, Arya sangat jengkel dengan Dinda karena tak memberi tau alamat Dira yang baru. Arya sangat merindukan harum perempuan itu, apa yang harus dia lakukan agar bisa menemukan Dira. (Eta teh dodol pisan,Arya.)


Arya berjalan sempoyongan saat, memasuki rumah. Bahkan tak ada gairah hidup, saat ini pikiran Arya hanya Dira. Hingga dia tak menyadari, Dira melihat dari lantai atas.


"Kamu sudah pulang, Arya?" tanya Fani yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya. Kamu sudah makan, Fan?" tanya Arya. Walaupun bagaimanapun juga, Fani pernah singgah di hatinya. Jadi wajar jika Arya masih memperhatikan Fani.


Sebenarnya dulu masih ada sedikit cinta untuk Fani, namun yang membuat Arya sepenuhnya melupakan Fani adalah kebohongan yang dia perbuat. Dari mulai menceburkan papanya ke kolam, sering berdebat dengan Dinda, dan sekarang masalah hamil dengan orang lain.


"Sudah kok, Arya," jawab Fani dengan tersenyum. Ada debaran aneh di hati Fani, saat Arya memperhatikan dia. Namun lagi-lagi, debaran itu berubah jadi sakit saat Fani mengingat jika Arya bukan miliknya lagi.


"Kalau gitu, buruan tidur. Ini sudah larut malam, kamu juga harus mikirin kandungan mu, jangan lupa minum obatnya juga," ucap Arya sambil mengacak-acak rambut Fani. Sungguh Fani merasa sangat senang, akhirnya dia bisa merasakan kehangatan dalam tatapan Arya. Walaupun rasa kehilangannya lebih besar, daripada sifat hangatnya pada Fani.


Ya Fani sadar, posisi Fani sekarang orang lain. Bukan siapa-siapa lagi, di dalam hidup Arya. Fani hanya sekedar tamu, yang menumpang tinggal karena jauh dari orang tua. Pahit memang, tapi Fani yakin dia bisa melewati fase ini.


"Makasih," ucap Fani lirih. Setelah itu, Fani langsung bergegas pergi dari hadapan Arya dan menuju kamarnya. Sedangkan Arya, dia langsung mengecek ponselnya untuk menghubungi Seto.


"Hallo, Arya. Ada apa telepon malam-malam?" tanya Seto di sebrang sana.


"Bagaimana perkembangan, Dira? Apa kamu sudah mendapatkan informasi?" tanya Arya.


"Belum, Ar," jawab Seto ragu-ragu.


"Lama amat sih, kamu! Apa kamu sudah bosan hidup seto?" bentak Arya sangat kesal.


"Kamu ingin bunuh, aku? Percuma dong kalau gitu, usah kamu pertahankan aku saat kritis dulu! Kenapa gak kamu biarkan aku mati saja dulu, kenapa malah memberikan satu ginjalmu untuk ku saat itu?" jawab Seto sedikit sedih. Seto sangat tau perasaan Arya, tapi dia ingin sekali-kali membuat Arya sadar. Jika, semua yang dia inginkan bisa terkabul saat itu juga.


Arya adalah penolong bagi Seto, sebab itu dia tak pernah menolak keinginan sepupunya itu. Ya Seto dan Arya adalah sepupu, dan Seto memiliki kakak bernama Sean. Dia bergelut sebagai pengacara keluarga Wiguna, dan juga jomblo akut.


"Itu karena dulu aku bodoh, gak seharusnya aku berikan ginjalku pada-Mu! Sekarang cepat cari Dira yang benar, karena aku nggak mau samapai gagal. Cari satu orang saja gak becus," bentak Arya sekali lagi. Sebenarnya Arya merasa sedih dengan ucapan Seto, tapi dia sembunyikan itu dan gak mau terlihat sedih. (Dasar gak ada Ahlak!)


"Siap, tuan Arya Wiguna! Sepupu aku, sahabat aku, penolong aku, beserta pencabut nyawa aku," ucap Seto sedikit terkekeh. Sebelum mendapatkan amukan lagi dari Arya, dengan cepat Seto mematikan ponselnya dan itu membuat Arya tercengang.


"Dasar, gak ada sopan santun!" gerutu Arya. Namun setelah itu, Arya di kejutkan oleh kehadiran Dinda.

__ADS_1


"Belum tidur, kamu?" tanya Dinda yang mengejutkan Arya. Namun terkejutnya itu, langsung ilang saat melihat ibundanya yang sangat cantik dan baik hati itu.


"Belum!" Arya berkata sangat kasar, dan melukai hati Dinda.


"Mulai durhaka kamu sama, Mama?" tanya Dinda tak kalah mengerikan. Dinda sangat kesal, mendengar Arya membentak dirinya. Padahal jika tak ada Dinda, Arya gak akan keluar dari bumi.


"Maaf... Tapi Arya lagi galau, gak mau di ganggu. Lebih baik Arya kembali ke kamar, dan tidur," balas Arya. Setelah itu, Arya langsung mencium punggung tangan Dinda, pipi, kening, untuk tanda selamat malam.


"Good Night, Mommy."


"Dasar, aneh!" gerutu Dinda. Setelah itu, Dinda kembali ke tujuan awal untuk mengambilkan minum untuk Dira.


****


DIRA POV.


Sebenarnya aku sangat ingin menemui kak Arya, tapi aku juga harus patuh dengan mama dan perkataan mama juga ada benarnya. Lebih baik di pingit dari pada melakukan dosa.


Tapi... Aku juga tak tega melihat kak Arya seperti tadi, tak ada gairah hidup. Aku pun juga sangat merindukan dia, jadi aku harus apa? Bahkan selama seminggu ini, aku sering melihat kak Arya pulang larut malam karena mencariku. Sungguh aku sangat berdosa sekali.


Sebenarnya selama seminggu ini, aku sering melihat kak Arya begitu perhatian dengan kak Fani, dan terlihat sangat jelas kak Fani masih mencintai kak Arya. Aku sakit, melihat itu semua. Ingin bertemu tapi mama selalu pantau, dan tak pernah pergi sedikitpun. Sekedar jalan-jalan pun tak pernah.


Namun satu yang masih mengganjal di hati ini, aku takut kak Arya kenapa-napa. Akhirnya aku memutuskan untuk menanyakan penggunaan obat tidur, untuk seorang laki-laki bolehkah? Atau malah sebaliknya?


Dokter Sintal pun berkata, jika konsumsi obat tidur secara berlebihan akan berbahaya. Namun jika, hanya sekali pakai. Itu tak masalah, dari jawaban dokter Sintal inilah yang membuat aku nekat. Nekat untuk memberikan obat tidur pada kak Arya.


Setelah kakak terlelap nanti,aku bisa bebas memeluk kak Arya tanpa di serang rasa takut akan di makan, bahkan aku juga bisa memandang dia sangat lama tanpa ketahuan.


Aku pun melirik meja ruang tamu. ternyata teh nya sudah di minum oleh kakak, yes aku bisa tidur di pelukan kakak. Aku pun berlari memasuki kamar kak Arya, dan benar saja calon suamiku sudah terkapar tak berdaya.


Aku mendekati ranjang dan aku Pandang wajah kak Arya, dengan perlahan aku mengelus rahang yang di tumbuhi rambut rambut halus itu. Belum sempat aku mencukurnya, tapi kami sudah di pingit.


"Kamu tidur dengan dahi berkerut, Kak. Apa kamu begitu lelah karena mencari aku? Seharusnya Kakak tak perlu mencari aku kemana-mana, karena aku ada di lantai tiga. Dasar bodoh," ucapku sambil terkekeh. Sungguh ini sangat menyenangkan, karena aku bisa bebas tanpa takut jika kak Arya bangun.


Aku pun mulai memeluk tubuh kekasih, yang aku rindukan. Aku hirup dalam-dalam wangi kak Arya, sangat dalam. Sungguh ini sangat enak baunya, kaya ada mint nya. Tak lama setelah itu, aku beralih memandang wajah tampan kak Arya. Sungguh tampan, wajah yang sempurna, bibir yang menggoda. Ahhh... Aku ingin mencium bibir itu, curi dikit gak apa-apa kan.


"Jika aku hilaf, dosa dong aku? Tapi..." Aku menggeleng-geleng kan kepala, untuk menetralisir degup jantungku ini.

__ADS_1


"Aaahh... Masa bodoh, biar aku cium sebentar. Toh orangnya sudah teler, karena obat tidur," ucapku yang sangat frustasi. Setelah itu aku memberanikan diri untuk mencium kening, pipi, hidung, mata dan terakhir bibir kak Arya. Aku langsung mendekatkan bibirku, dan ku kecup bibir itu beberapa kali.


Cup... Cup... Cup... Cup


Kecup ku empat kali. Namun tak lama setelah itu, aku merasakan sebuah pelukan yang sangat erat. Hingga aku tak bisa bergerak, lama semakin lama tangan itu langsung memegang kepalaku dan menekan kepalaku hingga kami berbenturan.


"Ka... Kakak," ucapku takut-takut. Sungguh aku gak tau jika obat tidur itu gak manjur, bagaimana bisa gak manjur toh dosisnya udah aku lebihkan.


"Dari mana saja kamu, Sayang? Aku mencarimu kemana-mana, please jangan siksa aku," ucap kak Arya dengan wajah yang sangat terluka, dan lelah.


"Dira ada, kok. Tapi tunggu dulu, kenapa kakak bangun?" tanyaku sangat polos.


"Daritadi Kakak gak tidur, Kakak juga tau waktu kamu masuk. Ingin rasanya langsung memelukmu, tapi aku ingin lihat seberapa besar kamu merindukan aku," Jawab kak Arya sambil menatap tatapan jahil.


"Apa obatnya kurang manjur ya?" gumamku sangat lirih, namun tetap bisa di dengar kak Arya.


"obat apa?"


"Obat tidurlah. Tadi aku tarun obat tidur di teh Kakak, tapi ternyata gak mempan malah masih bisa bangun," ucapku tanpa ada rasa bersalah.


"Kamu mau membiusku, Dira?" Akupun langsung melotot saat menyadari jika aku keceplosan, sungguh bodoh kamu Dira. Mati kau.


"Jadi teh tadi ada obat nya? Jika iya, astaga kamu tega sama mama. Tadi yang minum bukan aku, tapi Mama!" Dan aku pun semakin terkejut saat mendengar kenyataan, jika yang meminum teh itu bukan kak Arya melainkan mama! Astaghfirullah... Aku menantu durhaka.


"Seriusan, Kak! Jangan bercanda kenapa, aku jadi takut."


"Kaka serius, Dira! Mama yang minum teh nya, karena kakak gak jadi minum," ucap kak Arya sangat serius.


"Kak... Aku salah sasaran, dan aku berdoa sekali sana Mama!" ucapku menyesal. Namun bukannya prihatin, malah kak Arya menertawakan aku sampai terbahak-bahak. Sungguh ini bukan skenario, yang sesungguhnya.


.


.


.


Happy Reading

__ADS_1


Catatan: Di ingatkan lagi ya, Dira memang lebay, Dinda pun lebih lebay, dan si Arya bucin akut. Jadi daripada ada yang bingung, ini saya kasih tau :)


__ADS_2