Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 45 Tercyduk berakhir di pingit.


__ADS_3

Maaf typo bertebaran, mata udah sepet. Ngetik dari jam 1 dan baru selesai jam 3 ini, mata udah berat banget.


****


Jam pun menunjukkan waktu tengah malam. Tapi Dinda sama sekali tak mau memejamkan matanya, Dinda terus menerus memikirkan anaknya siapa lagi jika bukan Arya. Anak pertamanya sekaligus menjadi anak semata wayang, setelah kepergian Vano.


Dinda sangat yakin 100℅ jika anaknya itu berada di dalam kamar mandi, namun saat Dinda masuk kesana tak ada kehidupan bahkan sangat bersih. Sedangkan di sisi lain Dira juga belum bisa tidur memikirkan keadaan Arya, Dira sangat khawatir dan takut. Takut jika Arya kehabisan nafas atau ada ular yang siap mengigit nya, atau bisa jadi ada tikus besar dan mengigit calon suaminya.


Dua wanita, berbeda umur itu akhirnya hanya bisa bergelut ria dengan hati mereka masing-masing. Yang satu khawatir, dan yang satu penasaran.


Apa kakak aman di atas, sana? Semoga saja gak di makan tikus saat ada di atas. Tapi, bagaimana jika ada ular, terus ular itu mematuk kak Arya? Aahhh... Aku harus apa? Dira pun langsung terduduk saat membayangkan Arya kenapa-napa. Sedangkan Dinda yang merasakan Dira bangun, langsung berpura-pura tidur agar bisa mendapatkan sebuah petunjuk.


"Gak bisa diam saja, aku harus melihat kondisi kak Arya!" Dira pun langsung melirik Dinda dan memastikan apakah Dinda benar-benar tidur. Dengan tangan yang di kibas-kibaskan di udara, Dira memutuskan jika Dinda sudah terlelap.


Setelah itu, Dira langsung menuju kamar mandi dengan santainya dan tanpa mengetahui jika Dinda juga ikut terbangun saat Dira masuk kedalam kamar mandi. Dengan langka yang pelan, Dinda mendekati pintu kamar mandi. Setelah sampai, Dinda menempelkan cuping nya di pintu berbahan plastik itu.


"Kak," panggil Dira sangat lirih. Namun tak ada sautan dari Arya.


"Kakak ini, Dira," ucap Dira sekali lagi, namun tetap saja tak ada jawaban dari Arya.


"Kak... Kamu masih hidup kan? Kakak gak ninggalin Dira kan? Bukannya kakak berjanji gak akan ninggalin Dira, kenapa sekarang malah hilang. Kakak jawab dong!" Dira pun langsung menangis tersedu-sedu saat tak mendapatkan jawaban, pikiran Dira mulai kemana-mana. Bahkan di kepala Dira, Arya mati karena di gigit tikus.


Hiks.. Hiks.. Hiks..


"Jangan nangis Dira, aku gak kenapa-napa. Tadi aku ngantuk jadi ketiduran, aku sudah berjanji jadi aku gak akan ninggalin kamu. Tenang saja, suamimu masih hidup di atas sini," jawab Arya dari atas. Seketika mata Dira langsung berbinar, saat mendengar suara Arya. Bagai menang lotre, Dira sampai girang mendengar Arya masih hidup.


"Kakak gak meninggal, kan?" tanya Dira yang begitu polos.


"Kamu nyumpahin calon suamimu ini, agar cepat menyusul mantan suami mu? Bisa-bisa nya bicara kaya gitu!" Kesal Arya saat mendengar ucapan Dira. Sedangkan Dira, mulai membuat drama ketularan Dinda. Mertua ikan terbangnya itu.


"Huuu... Maafkan aku, tadi fikiran Dira sudah aneh-aneh. Dira takut Kakak di patok ular, di makan tikus, bahkan pikiranku di situ ada buaya," ucap Dira tanpa memikirkan ucapannya bisa membuat pembaca menghujat dirinya. Sedangkan Arya merasa tak percaya jika, Diranya berubah menjadi wanita O*O*N


"Disini gak ada buaya, Dira!" geram Arya. Ingin rasanya Arya menerkam wanitanya itu, dan membuat dia mendesah karena kenikmatan yang tiada tara.


"Apa mama sudah pergi, Dira?" tanya Arya sedikit keras. Takut jika Dira tak mendengarkan dia.


"Mama sedang tidur, Kak," jawab Dira sangat cepat.


"Baguslah! Cepat buka tutup plafon ini, aku gak bisa nafas bebas, disini juga banyak debu." Perintah Arya sedikit terbatuk-batuk. Dengan cepat Dira naik ke atas bak mandi, dan setelah itu membuka kembali plafon yang dia tutup tadi.

__ADS_1


"Akhirnya bisa bernafas lega," ucap Arya sambil menarik napas lega.


"Kakak, bisa turun sendiri?" tanya Dira sekali lagi.


"Turun sih bisa, kalau naik tadi butuh bantuan kamu. Maaf untuk yang tadi, kakak benar-benar gak sengaja. Sekarang cepat turunlah, kakak akan keluar." Dira hanya mengangguk. Setelah melihat Dira turun, Arya langsung bergegas mengeluarkan tubuhnya dari plafon, namun sayang seribu sayang, saat Arya hendak turun kakinya terpeleset hingga membuatnya jatuh dari atas hingga kebawah.


BRUUUUUKKKKKK...


"Kakak!" teriak Dira saat melihat Arya terkapar di atas lantai. Dengan cepat Dira melihat kondisi Arya, apakah ada yang cidera atau tidak.


"Aduh, sakit," pekik Arya saat merasakan nyeri di sekujur tubuhnya.


"Kak." Dira pun langsung membantu arya berdiri, namun Dira merasa keberatan dengan bobot tubuh Arya.


"Kamu ini gimana, sih! Sudah tau kakak mau jatuh, gak di tangkap malah menghindar. Kamu tau gak pantat Kakak sangat sakit, sekarang!" gerutu Arya sambil mengeluh kesakitan.


"Jika Dira gak menghindar, pasti Dira yang akan jadi ayam penyet. Lakak pikir deh, Kakak kan besar, berat. Sedangkan Dira sedikit pendek, kecil, dan jika Dira reflek menolong kakak. Bisa-bisa Dira jatuh, dengan keadaan Kakak menduduki dira. Jadi lebih baik Dira menghindar, daripada Dira penyet," jawab Dira sambil cengar-cengir. Sedangkan Arya langsung terpesona dengan mimik wajah Dira yang seperti ini, sangat polos dan lucu.


"Entah kenapa aku bisa suka sama kamu, Dira. Tapi yang pasti, kamu membuat aku selalu bahagia," ucap Arya lirih. Bahkan Dira tak bisa mendengar itu semua, biarlah Arya, Author, dan pembaca yang tau. (Aku habis ide )


"Ya sudah, gak perlu bedebat lagi. Ayo cepat keluar, sebelum mama bangun," ajak Arya dan Dira pun mengangguk menyetujui ucapan Arya.


"Kak, Mama mana?" tanya Dira sedikit berbisik.


"Mungkin sudah balik ke kamar, Dir," jawab Arya santai. Arya sama sekali tak memikirkan di mana keberadaan Dinda sekarang, yang Arya tau dia sangat lega karena Dinda sudah pergi.


"Ya sudah Kakak cepat balik sana, sebelum mama tau. Kalau sampai mama tau, bisa gawat nanti," ucap Dira sambil mengusir Arya. Namun tanpa di duga, Arya malah menciumi Dira hingga membuat gadis itu kelabakan dan juga takut. Takut jika Dinda balik, dan melihat adegan tak mengenakan ini.


Dengan sangat cepat Arya mencium bibir Dira, dengan sangat menuntut. Sebenarnya Dira sangat menolak ciuman itu, karena takut akan ketahuan Dinda. Namun kuasa ada di tangan, Nunuk Pujiati. Karena Nunuk ingin Arya agresif, dan sangat liar


"Enak ya? Ciuman dengan sembunyi-sembunyi, dari Mama?" ucap Dinda yang berada di balik gorden jendela Dira. Sedangkan Dira yang merasa tercyduk, langsung mendorong tubuh Arya hingga terjatuh untuk ke dua kalinya.


"Aduh... " Pekik Arya sekali lagi, dan ini lebih sakit dari sebelumnya. Sedangkan Dira hanya menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan. Serasa harga dirinya jatuh ke dalam sumur yang sangat dalam.


"Mama," ucap Arya saat melihat Dinda menghampirinya dengan raut emosi. Dengan susah payah Arya menelan ludah, karena dia bisa menebak apa yang akan terjadi sesaat lagi.


"Bagus ya! Belum nikah sudah main nyosor-nyosor anak orang, Mama gak habis pikir kamu seperti ini! Kamu ini mewarisi sifat siapa?" teriak Dinda sambil menjewer telinga Arya. Bahkan telinga itu sampai merah, karena Dinda menariknya sangat kencang.


"Ampun, Ma! Ini sakit," pekik Arya sambil memohon.

__ADS_1


"Mama gak perduli mau sakit, atau mati pun Mama gak perduli! Mama gak mau punya anak mesum kayak kamu, Arya!" Dinda pun semakin menjadi-jadi,m. Dengan cepat Dinda meraih bantal dan memukuli Arya hingga bulu-bulu dari dalam bantal tersebut keluar, dan Berserakan kemana-mana.


"Minggat sana jangan balik lagi kerumah, kamu boleh balik jika mendekati hari pernikahan. Titik gak pakek, koma!"


"Mama jangan sakiti Kakak. Jika Mama usir Kakak, Dira akan ikut juga. Ini juga salah Dira yang gak bisa menolak keinginan kak Arya, jadi usir Dira juga dari sini kalau perlu pukul pun gak apa-apa," ucap Dira sambil memeluk tubuh Arya. Sedangkan Arya semakin besar kepala, saat Dira membelanya. Sungguh dia sangat bahagia, merasa sakit pun tak apa asalkan Dira membelanya.


"Terserah kalian mau buat apa! Mama benar-benar marah sama kalian berdua, tapi Mama gak tega nelantarin Dira. Jadi sekarang cepat balik ke kamar kamu Arya, sebelum Mama berubah pikiran!" Dira pun langsung mendorong tubuh Arya agar cepat keluar dari kamar Dira.


"Maaf Kak, bukan niat ngusir. Tapi ini demi kebaikan kak Arya, cepatlah pergi," ucap Dira sambil mendorong Arya.


"Pelan-pelan, Sayang," ucap Arya yang terus di dorong Dira, agar keluar dari kamarnya.


"Cepat keluar, sebelum Mama berubah pikiran! Kalau gak cepat keluar, berarti kak Arya ingin pisah?" ucap Dira yang sangat ketakutan. Secepat mungkin Arya menggeleng, dan tak setuju dengan kata-kata pisah.


"Gak mau, pisah," rengek Arya.


"Kalau gitu cepat keluar, Kak!" Arya hanya mengangguk, dan sedikit mengecup kening Dira. Dan setelah itu Arya langsung pergi meninggalkan Dira, beserta Dinda di dalam kamar itu. Setelah Arya pergi, Dinda langsung memanggil Dira untuk duduk di atas ranjang bersama.


"Dira Mama mau bicara sama kamu, duduklah bersama Mama disini," ucap Dinda yang amat lelah. Perlahan tapi pasti, Dira langsung menghampiri Dinda dan duduk di sampingnya.


"Apa kamu bahagia dengan Arya, Dira?" tanya Dinda dengan serius, dan pertanyaan di jawab anggukan oleh Dira.


"Jika mama pingit kamu sama Arya, apa kamu sedih?" tanya Dinda sekali lagi.


"Kenapa di pingit, Ma?" tanya Dira yang kebingungan.


"karena Mama gak mau kalian kebablasan, dan Mama gak mau kalian melakukan dosa Sayang," ucap Dinda sangat lembut. Sedangkan Dira langsung menundukkan kepala, karena malu.


"Baiklah jika itu yang terbaik, Dira mau di pingit Ma," jawab Dira lirih. Seketika Dinda langsung tersenyum, saat mendengar persetujuan Dira. Ini yang Dinda suka dari Dira, dia anak yang penurut dan tak pernah membantah perintah Dinda.


"Kamu memang, menantu Mama yang paling Mama sayangi," ucap Dinda sambil memeluk tubuh Dira. Sedangkan Dira hanya bisa tersenyum palsu, padahal hatinya sedang dilema.


Maafkan aku, Kak. Bukannya aku meminta pisah, tapi ucapan Mama ada benarnya. Kita belum menikah, dan di pingit adalah jalan satu-satunya.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2