
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10:30 Malam, namun kak Arya belum juga datang. Sebenarnya ada rasa khawatir saat tak ada kabar dari dia, tapi aku juga bingung harus melakukan apa?
Hatiku memang sakit, tapi rasa khawatir yang ku miliki lebih tinggi. Seakan menunggu sebuah kabar yang sangat mendebarkan, itu yang aku rasakan.
Namun disisi lain, aku juga memikirkan hubunganku dengan kak Arya. Aku terlanjur mencintai dia, namun aku juga tak bisa egois. Bayi itu tak bersalah, dia berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.
Aku harus bisa menjalani ini semua. Dari sini aku juga merasa sangat bersalah, karena aku terlalu cepat melupakan Vano. Dia yang pernah ada di hatiku selama bertahun-tahun, langsung lenyap begitu saja saat kak Arya hadir di dekatku.
"Maafkan aku, Vano! Aku wanita murahan yang tak bisa menjaga hati, sungguh aku merasa bingung sekarang," gerutuku. Namun tak lama setelah itu, aku mendengar suara mobil yang baru saja berhenti tepat di depan rumah.
Karena aku penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk melihat siapa yang datang dari jendela dan betapa terkejutnya aku saat melihat kak Arya baru saja turun dari mobil warna putih. Entah itu mobil siapa, yang jelas kak Arya turun dari mobil itu.
Jantungku sangat bedegub sangat kencang saat melihat kak Arya berjalan mendekati pintu rumahku, ada rasa bahagia karena aku bisa melihat kak Arya lagi. Tapi seketika rasa bahagia itu hilang musnah, saat ucapan mama Dinda kembali terniang di telingaku.
"Perasaan apa yang harus aku rasakan? Sedih atau senang?"
Setelah itu, aku melihat kak Arya mulai mengetuk pintu dengan sangat keras. Terlihat jelas jika dia sedang marah, dan sedih bercampur jadi satu. Egoku melarang membuka pintu itu tapi, hatiku berteriak ingin membuka pintu. Mana yang harus aku dahulukan, ego atau hati?
"Ah... Tau ah, lebih baik aku buka saja pintunya. Lagian kita akan menyelesaikan masalah, kalau menghindar terus kapan selesainya?" Dengan cepat aku berlari ke arah pintu, dan ku buka pintu itu sangat lebar. Detak jantung yang tadi mulai normal, kini kembali berdetak sangat kencang saat aku melihat tubuh tegap, gagah, berotot, dan tak lupa dengan jenggot yang mulai tumbuh panjang itu.
Sial! Kenapa kak Arya semakin tampan, dan semakin dewasa sih! Aku takut iman ku gak kuat, ahh aku kok jadi bar bar gini sih?
__ADS_1
"Dira."
Deg...
Astaghfirullah Astaghfirullah perasaan apa ini ya Allah, dia bukan milikku lagi. Jadi aku mohon kuatkan hati ini, jangan tergoda jangan tergoda Dira!
"Masuk, Kak."
Aku berusaha berkata sangat datar, walaupun terlihat sangat aneh. Tapi gak apa-apa, yang penting datar. Setelah itu aku meninggalkan kak Arya, dan terlihat kak Arya langsung menutup pintu. Setelah pintu tertutup, kak Arya langsung menghampiriku yang duduk di sofa yang terbuat dari kayu itu.
"Dira, aku mau jelaskan semua. Ini tak seperti yang kamu lihat, ini salah paham!" jelasnya padaku. Aku sebenarnya malas membahas ini, tapi dilihat dari sorot mata kak Arya aku jadi gak tega.
"Makan dulu kak, aku akan siapakan makanan. Aku tau kakak pasti belum makan, jadi aku buatkan sesuatu dulu." Setelah itu aku langsung bergegas pergi. Namun belum sempat aku berjalan, kak Arya langsung menarik tubuhku hingga linglung. Tanpa sadar, aku sudah berada di pangkuan kak Arya.
"Ka... Kak, lepaskan aku. Aku bisa duduk sendiri, aku sangat berat. Jadi lebih baik aku duduk sendiri, Kak!" jawabku dengan gugup. Sungguh indah ciptaanmu ya Allah, tapi kenapa dia bukan milikku.
"Gak! Aku mau kamu disini, aku mau jelaskan sekarang. Makan bisa nanti, aku mohon dengarkan aku sekali saja Dira," ucap kak Arya begitu tulus. Bahkan mata indahnya pun terlihat berkaca-kaca, seakan mau menangis.
"Baiklah, aku akan dengarkan semuanya. Tapi setelah semua sudah beres, izinkan aku pergi," jelasku pada kak Arya. Namun dengan cepat dia menggeleng, seakan tak setuju dengan keputusan yang aku ambil.
"Gak, aku gak mau kamu pergi. Sekarang dengarkan aku, dan aku mohon kamu simak baik-baik. Karena aku gak mau kamu ada salah paham sama aku."
__ADS_1
Kulihat wajah kak Arya, dan setelah itu aku mengangguk mengiyakan ucapannya. Aku akan mendengar apa yang akan dia ucapkan, dan aku juga harus menerima apa yang akan terjadi nanti.
"Satu bulan lalu, saat aku belum menemukan kamu. Aku sangat frustasi, dan memutuskan untuk mencari kamu. Tapi saat itu aku berdebat dengan Fani, aku juga bilang akan memutuskan untuk menikahi kamu." jelas Kak Arya padaku. Bahkan dia juga menjeda sedikit ucapannya, demi mengatur napas.
"Jelas Fani tak setuju dengan keputusan yang aku ambil, dia marah dan berusaha mengambil hatiku lagi. Di sinilah dia mengajakku kesuatu bar, di sana kita minum. Tapi, tak lama setelah itu ada yang memukul kepalaku dari belakang. Entah itu siapa, tapi rasanya sakit hingga aku tak sadarkan diri." Aku benar-benar terkejut dengan ucapan kak Arya, dia di pukul orang di bagian kepala hingga tak sadarkan diri.
"Tapi gak ada yang luka kan, Kak?" tanyaku sangat khwatir. Walaupun aku bingung, tapi mendengar ucapannya membuat aku khawatir.
"Aku gak apa-apa, Dira. Buktinya aku berdiri di sini. Biar aku lanjutkan semua, agar kamu tak salah paham lagi." Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan kak Arya. Aku kembali tenang, dan ku tatap lagi mata indah itu.
"Setelah aku tak sadarkan diri, aku benar-benar gak tau apa yang sedang terjadi. Namun tiba-tiba saat pagi hari, aku sudah ada di atas ranjang tanpa sehelai benang pun bersama Fani. Tapi sumpah demi Allah, aku gak merasa menyentuh dia."
Entah kenapa penjelasan kak Arya membuat hati ini semakin sakit, aku tak bisa membayangkan kejadian waktu itu. Bahkan di kepalaku saat ini sungguh berputar-putar adegan yang kak Arya ucapkan, bangun di pagi hari dengan keadaan polos.
Tanpa aku sadar, air mata ini sudah menetes sangat deras di pelupuk mataku. Kak Arya yang sadar akan itu, langsung menghapus bulir-bulir air mata yang terbuang itu. Ada rasa nyaman, ada rasa sedih, ada juga rasa sesak di dada. Apa yang harus aku lakukan, sekarang? Apa aku harus memberikan kesempatan atau aku harus menyerah, aku sungguh-sungguh bingung sekarang.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading