
Suasana di rumah Dira terlihat banyak orang berdatangan, dan menunggu jenazah kedua orang tua Lessy. Terhitung sudah dua jam, dari kecelakaan yang di alami Handoko dan Lusi, tapi Lessy belum juga siuman.
Dira yang melihat Lessy tak kunjung bangun terus saja menangis. Dira sangat takut, terjadi apa-apa. Tapi, Sintal bilang Lessy hanya shock saja.
Dira juga gak mau melihat Arleta sedih, atau kegaduhan nantinya. Akhirnya Sintal memutuskan membawa Arleta ke Bandung, dan membiarkan Arleta di sana selama dua minggu.
Dira sengaja memberi waktu dua minggu, agar masalah di sini selesai dulu. Namun, saat Arleta mau berangkat, Arleta bilang gak mau jauh-jauh dengan Ryant. Akhirnya Ryant juga ikut ke Bandung, untuk menjaga Arleta.
"Mom, apakah Lessy belum sadar?" tanya Vano saat masuk ke dalam kamar.
"Be—belum," jawab Dira yang masih sesegukan.
Dira tiada henti menangis, saat tau kedua orang tua Lessy gak selamat. Dira memosisikan dirinya sendiri, seperti dulu, saat kehilangan kedua orang tua angkatnya.
"Mommy, harus kuat. Jangan seperti ini, nanti Lessy akan sedih juga." Vano berusaha menenangkan Dira. Tapi bukannya tenang, Dira semakin menangis. Dira gak bisa melihat ini, dadanya terasa sangat sesak saat ini.
Melihat nasip Lessy, membuat Dira kembali ke masa dahulu. Di mana saat orang tuanya meninggalkan dia, dan setelah itu Dira kehilangan Vano.
"Mo-Mo- huuuu."
Dira benar-benar gak bisa bicara lagi. Dira terlalu larut, hingga dia sendiri langsung histeris dan memeluk Vano.
"Mommy, ka-kangen, ibu-bapak, Mama Dinda. Mommy merindukan mereka, dan juga Vano." Tangisan Dira semakin pecah saat suaranya bisa di keluarkan.
Dira merindukan mereka semua. Dira ingin sekali melihat mereka lagi, tapi nyatanya gak bisa. Mereka sudah berkumpul di surga sana, dan Dira sangat ingin berkumpul dengan mereka.
"Mommy, dengarkan Vano. Jangan seperti ini, kalau mommy seperti ini mereka juga akan sedih. Ingat, jika Mommy merindukan mereka. Maka bacakan do'a, karena yang mereka butuhkan sekarang hanya do'a," ucapan Vano sambil mengelus punggung Dira.
"Van, Mommy takut. Takut Lessy kaget, dan gak terima karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Mommy gak sanggup Sayang, jika harus melihat betapa hancurnya Lessy nanti." Dira semakin sesegukan.
"Mommy, kita tunggu Lessy sadar dulu. Baru nanti kita pikirkan, pemakaman sebentar lagi akan di mulai. Vano bingung, apakah kita menunggu Lessy siuman atau tidak."
Vano sebenarnya juga sangat sedih, bahkan dia bingung, bagaimana jika Lessy bangun nanti. Apakah dia akan terima, atau malah sebaliknya.
Namun tak lama setelah itu. Dira dan juga Vano, mendengar isak tangis kecil dari arah Lessy. Iya, Lessy sudah bangun. Bahkan Lessy langsung menangis, dan menatap langit-langit kamarnya.
***
POV Lessy
__ADS_1
Lamat-lama telingaku ini mendengar isak kan tangis, dari seseorang yang aku kenal. Iya, itu suara tante Dira. Kenapa dia menangis, apakah ada sesuatu hingga dia menangis.
Mataku sangat berat sekali untuk terbuka. Susah payah aku membuka mata, tapi nyatanya sangat sulit. Tapi, telingaku masih aktif.
Aku mendengar pertanyaan Vano untuk mommy nya, dan kenapa tante Dira semakin menangis. Padahal Vano hanya bertanya seperti itu, apakah pertanyaan itu sangat sulit untuk tante Dira?
Sambil menunggu jawaban Tante Dira, aku berusaha menggerakkan tangan ini. Sebenarnya ada apa, kenapa aku gak bisa bergerak, dan membuka mata. Apakah aku sudah meninggal, atau gimana.
Namun mataku langsung bisa terbuka, saat mendengar kata-kata Tante Dira. Ya, Tante Dira bilang orang tuaku meninggal. Gak mungkin, ini gak mungkin.
Kejadian demi kejadian pun mulai berputar kembali, saat aku mengetahui siapa yang menerorku selama ini.
Tangisku langsung pecah, hatiku sangat sakit. Aku sekarang sebatang kara, tidak ada keluarga lagi. Ibu, ayah kenapa kalian pergi. Aku gak mau sendiri, aku mau ikut kalian.
Hiks... Hiks... Hiks....
Isakan tangisku semakin pecah. Aku gak bisa menahan air mata, kenapa mereka di ambil secepat ini? Kenapa, mereka pergi meninggalkan aku. Dadaku terasa sangat nyeri, darahku seakan berhenti mengalir. Aku hanya mau orang tuaku, bukan yang lainnya.
"Lessy, kamu bangun Nak?"
Suara tante Dira semakin menyayat hatiku. Pecah sudah tangisku, dan semakin aku menjerit-jerit memanggil nama kedua orang tuaku.
Tanpa memperdulikan tante Dira dan Vano, aku langsung turun dari atas ranjang. Aku gak perduli dengan luka-luka yang ada di sekujur tubuhku, yang aku mau hanya bertemu orang tuaku.
Teriakan Vano pun gak aku perdulikan, aku hanya mau melihat orang tuaku. Hanya mereka yang aku milikki, tapi kenapa Allah memanggilnya.
"Ibu ... Ayah ... Ibu ... Ayah...."
Aku terus memanggilnya, hingga kini aku sampai di depan tanga. Aku turun dengan kecepatan yang sangat kencang, darah yang tadinya berhenti kini mulai mengalir lagi dari telapak kakiku.
Bekas goresan kaca, mengalahkan goresan luka hatiku. Kehilangan orang yang sangat aku cinta, tak sesakit ini. Tapi, kehilangan ibu dan ayah sungguh mematikan syarafku.
"Lessy!" Teriak Vano dari belakang.
Tapi aku terus berlari ke ruang tamu, dan di sana aku melihat orang-orang mengangkat dua keranda yang berisikan kedua orang tuaku.
Aku menjerit, agar mereka menghentikan langkahnya. Aku mau Ibuku, kenapa mereka tega membawanya.
"Tunggu! Jangan bawa ibu-ayahku, mereka gak meninggal. Kenapa kalian taruh sana, kelurahan mereka!" Teriak ku sangat histeris.
__ADS_1
Namun tak lama setelah itu, ada seseorang yang langsung menarikku dan membawa aku dalam pelukannya.
"Om, cepat suruh mereka berhenti. Mereka gak boleh membawa ibu dan ayah, aku gak mengizinkan ini, cepat bilang sama mereka!"
"Lessy dengarkan, Om. Ikhlaskan mereka, jangan seperti ini. Kamu memberatkan jalan mereka, Nak. Ikhlas, jangan menangis. Kalau kamu masih seperti ini, Om gak izinkan kamu memeluk keranda orang tuamu."
Ucapan Om Arya masih belum masuk kedalam otakku, aku hanya ingin mereka. Mereka belum meninggal, mereka masih hidup.
"Mereka gak meninggal, Om. Cepat suruh mereka turunkan orang tuaku, aku mau mereka." Mohon ku sekali lagi.
"Nak, kamu harus ikhlas. Ingat kamu masih punya kita, jangan sedih lagi."
Aku langsung menoleh ke arah suara tersebut. Namun saat ku tau di sebelah orang itu ada Alena, tiba-tiba emosiku langsung naik.
Jika bukan karena dia, orang tuaku masih hidup. Hanya karena aku dekat dengan Vano, dia membalasku dengan melayangkan nyawa orang yang aku sayangi.
"Dasar pembunuh! Kamu pembunuh, aku benci kamu. Nyawa harus di balas nyawa, aku akan membunuhmu!"
Tanpa tunggu lama, aku langsung melepaskan pelukan Om Arya dan langsung mencekik Alena. Aku gak perduli masuk penjara, aku mau dia mati.
"Lessy istighfar kamu! Cepat lepaskan anakku, apa-apaan kamu!"
"Lessy lepaskan, Nak."
Teriakan orang-orang di sekitarku tak ku perdulikan, aku mau nyawa di balas nyawa. Aku mau Alena mati.
"Mati ka—"
Plakkk!
.
.
.
Happy Reading
Komen komen aku mau komen 😝
__ADS_1