
..."Mommy, Ardi dan Raya berangkat kuliah dulu. Jaga kesehatan, jangan lupa makan. Ardi gak mau Mommy sakit lagi, kasian Daddy kalau lihat Mommy sakit. Pasti Daddy gak akan tidur lagi, dan akan mondar-mandir gak jelas di dapur," ucap Ardi sambil mencium kening Dira....
"Iya, Sayang. Kalau itu Daddy-Mu saja yang lebay, Mommy hanya flu saja tapi Daddy-Mu langsung panik," balas Dira sangat malas.
Terhitung sudah 17 tahun Dira dan Arya selamat dari kecelakaan Lift itu. Walaupun sempat mengalami cidera, tapi mereka selamat hingga mereka bisa melihat anak-anaknya kembali.
Namun setelah kejadian tersebut, Arya semakin protektif. Arya gampang panik, dan melarang Dira kemanapun tanpa dirinya. Bahkan Arya juga trauma akan lift, dan melarang seluruh keluarganya mengunakan lift.
"Daddy bukan lebay, tapi Daddy gak mau istri tercintanya kenapa-napa, Mommy. Lagian Raya juga ingin punya suami seperti Daddy, pasti sangat bahagia jika punya suami seperti Daddy," ucap Raya sambil tersenyum. Raya sudah membayangkan bagaimana masa depannya, hingga Raya senyum-senyum gak jelas.
"Ehem ... sepertinya ada yang Ghibahin, Daddy nie?"
Semua orang pun langsung menatap ke arah Arya, yang baru saja turun dengan Vano. Oh ya lupa, Vano adalah anak ke tiga Dira dan Arya. Sikap Vano sangat dingin, dan jutek seperti almarhum Vano dulu.
Namun Vano akan tetap lembut dengan orang yang dia cintai, seperti Dira. Tapi sayangnya, Vano sangat cuek dengan Arya. Kata Vano "Daddy Terlalu Lebay!"
"Sebenarnya gak Ghibahin, ya. Karena Daddy ada di sini, kecuali kalau Daddy gak di rumah baru namanya Ghibahin," celetuk Raya. Raya selalu saja menyangkal semua ucapan Arya, dan membuat Arya mati kutu.
"Sudah ... sudah, jangan bertengkar. Cepat kalian berangkat, karena ini sudah siang. Dan kamu Vino, jangan lupa jemput Alena. Kasian dia, karena Mamanya sudah gak ada jadi kamu harus jagain dia," ucap Dira melerai anak-anaknya. Setiap hari selalu seperti ini. Ribut terus, padahal yang di ributkan hanya hal kecil.
__ADS_1
"Vano gak mau, Mommy. Alena terlalu manja, dan Vano gak suka," tolak Vano. Vano sangat risih dengan orang yang sangat manja, apalagi terlalu kekanak-kanakan.
"Vano! Gak boleh gitu, Nak. Alena juga saudara kamu, dia sepupu kamu loh. Jangan gitu, gak boleh jahat-jahat dengan orang," ucap Dira sedikit menasehati Vano.
"Tapi, Mom ...."
Vano pun gak jadi melanjutkan ucapannya, karena Dira langsung memberikan tatapan tajam padanya.
"Huft ... baiklah." Dira pun langsung tersenyum lembut. Dira sangat suka jika anak-anaknya nurut, dan tak pernah membantah ucapannya.
Setelah selesai berdebat, mereka bertiga langsung pamit berangkat menempuh pendidikan. Sedangkan Arya selalu mengambil kesempatan saat semua anak-anaknya pergi, karena memang kini waktunya mereka bahagia gak memikirkan sesuatu yang sangat berat.
"Sayang, ayok kita main yuk." Ajak Arya sambil memeluk erat Dira dari belakang.
"Kantor sedang libur. Aku sengaja kasih mereka cuti, karena aku ingin bersamamu selama seminggu ini. Ayok kita Honeymoon ke Korea yuk, kita nikmati hidup selama seminggu di sana. Aku pikir-pikir selama ini kita gak pernah liburan," ucap Arya sambil menciumi leher putih Dira.
"Kita sudah tua, gak perlu Honeymoon lagi Kak. Umur kita gak lagi muda, jadi kita di rumah saja." Setelah itu Dira membalikan tubuhnya agar menghadap ke Arya.
Dira menatap wajah Arya, masih terlihat tampan walapun dia sudah berumur 49 tahun tapi Arya makin terlihat ganteng. Malah terlihat makin matang, apalagi di ranjang.
__ADS_1
"Kak, aku boleh tanya?" Dira memandang Arya penuh arti.
"Tanya apa, Sayang," balas Arya sambil mengecup lembut bibir merah delima Dira.
"Emmm ... apakah aku masih cantik? Aku tadi lihat, ada uban di rambutku. Aku takut kamu bosan sama aku, karena terlihat tua dan gak menarik lagi," ucap Dira sambil memainkan jari-jarinya di dada bidang Arya.
Sungguh Arya sangat gemas melihat Dira yang seperti ini. Arya ingin memakan Dira saat ini juga, tapi Arya gak mau memaksa jika Dira sedang gak mood.
"Kamu masih tetap cantik, Sayang. Walaupun kamu sudah beruban, ataupun keriput. Aku tetap mencintaimu, dan gak akan ada orang lain di hati ini. Kamu tetap nomor satu di dalam sini." Dira pun terharu mendengar ucapan Arya.
Dira menangis, karena merasa bahagia. Dira juga merasa sangat beruntung mendapatkan suami seperti Arya, yang selalu mengerti dirinya.
Arya pun menghapus air mata Dira, dan mendekatkan bibirnya. Namun saat mereka akan berciuman, suara seseorang mengejutkan mereka hingga membatalkan acara romantis yang akan mereka mulai.
"Daddy - Mommy! Kalian melupakan, Arleta!"
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading.