Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Merawat Opa


__ADS_3

"Opa, ini telur ceplok nya. Agak gosong sedikit gak apa-apa kan, tapi enak kok. Ini khusus buat Opa, dari Chef profesional," ucap Arleta sambil membawa satu piring nasi, beserta telur ceplok gosong.


"Wah kamu pintar sekali, Nak. Sini nasinya, Opa mau makan masakan kamu." Dengan sangat bahagia, Arleta memberikan piring itu.


Sedangkan Ryant langsung melahap nasi telur itu dengan sangat lahap. Walaupun rasanya pait, tapi Ryant gak mau mengecewakan cucunya itu.


Namun, saat Ryant asik memakan masakan, Arleta. Dira dan Arya tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu, sambil memandangi Arleta.


"Wah, sepertinya ada Chef cilik nie? Daddy, kok gak di buatin juga ya. Padahal, Daddy sangat ingin makan masakan Little Princess-Nya Daddy."


Seketika Ryant dan Arleta langsung menoleh ke arah Arya. "Daddy, Mommy, kalian di sini!"


"Iya, Nak. Tadi Mommy minta nyusul kamu, sekalian kita menginap di sini selama dua minggu," balas Arya.


Setelah itu Dira langsung berjalan mendekati Ryant. Dira ambil tangan mertuanya, dan di cium dengan lembut.


"Papa sehat? Kenapa aku melihat Papa sangat pucat, dan lemas?" tanya Dira sambil menatap Ryant.


"Gak kok, Nak. Papa, gak apa-apa. Mungkin kecapean saja, kamu jangan khawatir. Oh ya, gimana kabar kalian?" Ryant bertanya keadaan Dira.


"Aku baik-baik saja, Pa. Papa serius gak apa-apa, jangan bohong karena Arya gak suka, jika Papa bohong," ucap Arya sangat serius. Ryant pun tersenyum lembut, dan berusaha menahan rasa nyeri di dadanya.


"Papa, gak kenapa-napa Ar. Sini, duduklah dekat Papa. Rasanya Papa sangat merindukanmu, dan juga Dira." Ryant berusaha mengalihkan pembicaraan.


Sedangkan Arya langsung naik ke atas ranjang dan memeluk Ryant. Arya berkali-kali mencium ayahnya, yang sudah mulai menua itu. Ada rasa bersalah karena sempat tak memperhatikan keadaan Ryant, tapi saat ini Arya ingin merawat papanya itu.


"Papa sangat kurus sekali. Pasti Papa gak enak makan, karena gak ada Mama. Arya juga merindukan Mama, dan merindukan kekocakan Mama," ucap Arya sambil menyembunyikan wajahnya di perut Ryant.


Dira yang melihat semua ini langsung menangis. Dira juga sangat merindukan Dinda, walaupun Dinda pernah menyakiti hatinya, tapi setidaknya karena Dinda, Dira bisa bersatu dengan Arya.


"Papa juga merindukan, Mama. Rasanya hampa sekali, gak ada Mamamu. Bisanya setiap pagi mamamu, selalu membuat onar. Entah itu teriak-teriak, atau tertawa bersama pembantu.

__ADS_1


" Semoga Mama tenang di alam sana, Pa. Kita do'akan saja, supaya Mama di kasih tempat yang terindah," balas Dira.


Namun tak lama setelah itu, Arleta menarik tangan Dira. Arleta mengisyaratkan Dira untuk ikut dengannya, karena Arleta ingin berbicara sesuatu.


"Apa, Sayang?" tanya Dira sangat lembut.


"Mommy ikut aku sebentar, deh. Arleta mau bicara sesuatu, dan ini hanya antara perempuan saja," bisik Arleta agar gak terdengar oleh dua lelaki di depannya itu Sedangkan Dira hanya bisa tersenyum, dan mengikuti permintaan Arleta.


"Kak, Pa, aku tinggal sebentar ya? Arleta minta jalan keluar sebentar, gak apa-apa kan?" pamit Dira saat akan keluar.


"Iya, Sayang. Kamu temenin Arleta saja, biarkan bayi besar ini yang menunggu Papa," balas Ryant.


"Jangan lama-lama." Kini Arya yang berkata. Dira hanya menganggukkan kepala saja, dan langsung pergi meninggalkan dua lelaki yang sangat Dira cintai itu.


***


"Pa, apakah Papa sehat? Maafkan Arya yang selalu sibuk ngurus kantor sampai lupa dengan Papa, tapi mulai sekarang Arya akan selalu ada di samping Papa Aku dan Dira sudah sepakat, jika Papa akan ikut kami ke rumah. Agar sewaktu-waktu kita bisa melihat Papa," ucap Arya sambil memijat kaki Ryant.


"Bukannya Papa nolak, Nak. Tapi kamu tau kan, Aira sendiri di sini. Suaminya sering sekali keluar kota, jadi Papa gak tega," balas Ryant sedikit hati-hati.


"Pa, Aira sudah dewasa. Dia pasti bisa jaga diri baik-baik, lagian di sini juga ada pembantu kan. Bahkan ada 4 orang, sekaligus supir. Jadi Arya mohon, Terima permintaan Arya ini." Arya terus memohon pada Ryant. Arya raih tangan Ryant, dan di cium berkali-kali tangan itu.


Sedangkan Ryant masih diam, dia belum bisa menjawab atau memberikan keputusan. Sebenarnya ada yang Ryant takutkan jika tinggal dengan Arya, yaitu masalah penyakitnya. Ryant gak mau sampai ada orang yang tau tetang sakitnya ini.


"Papa ingat gak, tangan ini yang dulu menggenggamku saat aku mau terjatuh. Tangan ini juga yang sudah memberikan kenikmatan duniawi untukku, tangan ini juga yang selalu memandikan aku waktu kecil jika Mama sedang sakit, tangan ini juga yang selalu menggendongku kemanapun Papa pergi. Jadi aku mohon, Papa ikut denganku, aku ingin berbakti sama Papa di masa tua," ucap Arya dengan linangan air mata.


Arya benar-benar ingin merawat Ryant, tapi Ryant sangat sulit di luluhkan. Berbagai cara, Arya lakukan tapi hasilnya tetap sama, Ryant gak mau meninggalkan kenangan bersama Dinda, atau gak karena Aira.


"Papa ingat semua, Arya. Papa juga ingat waktu kamu nangis karena di jewer mamamu, dan kamu juga mengaduh pada Papa. Papa masih ingat juga waktu kamu lahir dulu, sangat menyulitkan mamamu. Kamu terlahir dengan berat 4kg, dan dulu kamu sangat hitam," balas Ryant sambil tertawa.


Ryant ingat betul saat Arya lahir terlihat sangat jelek, dan hitam. Entah karena apa, tapi seiring waktu berjalan, kulit hitam yang di miliki Arya hilang saat dia berusia 1 tahun.

__ADS_1


"Jangan bahas ini di depan Dira, nanti Arya kena body shaming. Papa kayak gak tau kelakuan Dira, yang suka cari kejelekan Arya." Arya membalas dengan tawaan yang sangat lebar.


Mereka pun akhirnya saling bernostalgia masa lampau, di mana Arya dan Vano masih kecil. Hingga tanpa terasa waktu yang mereka lalui dulu ternyata sudah sangat lama, dan mereka sudah menjelma sebagai orang dewasa.


"Gak nyangka banget ya, kamu dulu sekecil ini, sekarang sudah sebesar ini. Bahkan kamu juga memiliki uban, padahal umur juga masih mau 50 tahun," ucap Ryant sambil menghapus air mata yang ada di sudut matanya.


"Ini uban karena kebanyakan mikir, Pa. Tapi jangan salah, masalah memuaskan masih tahan lama," balas Arya sangat ngaco.


"Kamu itu, jangan terlalu sering nanti istrimu sakit." Celetuk Ryant.


Arya pun mengangguk dan mulai serius kembali. Arya menatap mata Ryant, dan bertanya lagi tentang niatnya.


"Mau ya, Pa. Kita tunggal di rumah, dan hidup bersama-sama lagi seperti dulu?" tanya Arya sangat sering.


"Emm ... baiklah, jika itu maumu. Tapi ingat, jangan pernah memperlakukan Papa seperti orang sakit atau seperti tahanan. Papa ingin melakukan kegiatan seperti di rumah ini, dan Papa gak suka diam di tempat," balas Ryant.


Sedangkan Arya langsung berbinar karena Ryant mau tinggal dengannya. Sungguh hati Arya sangat bahagia, akhirnya bisa membujuk Ryant.


"Terima kasih, Pa."


.


.


.


Happy Reading


Hai kak, jangan lupa mampir ke ceritaku yang di akun KOLOM PENA ya, di sana akan lebih fokus. Gak akan stop jalan, karena sudah mantap.


Judulnya: Single Daddy & Setulus Cinta Adam.

__ADS_1




__ADS_2