
Pagi harinya Dinda bangun dengan badan yang terasa sangat sakit, dan pegal-pegal. Seluruh tubuhnya seakan remuk, bahkan mau copot.
Dinda ingat semalam dia meminum teh yang di buat Dira khusus Arya, namun Dinda merampas minuman itu dari Arya dan langsung meminumnya begitu saja. Sesampainya di kamar Dinda menjadi pusing, dan membuatnya tak sadarkan diri.
Dinda melirik sekelilingnya dan sangat terkejut saat terlihat Arya beserta Dira tidur dengan berpelukan. Sungguh hati Dinda menjadi terbakar melihat pasangan belum muhrim itu tidur nyenyak tanpa dosa.
"Arya!" teriak Dinda sangat kencang, hingga membuat keduanya kaget. Dengan cepat Dira melepaskan pelukan Arya dan memandang Dinda dengan takut.
"Kalian benar-benar gak bisa di atur ternyata! Dan kamu Dira, apa yang kamu masukan kedalam minuman Arya? Asal kamu tau yang minum itu Mama, bukan Arya!" bentak Dinda yang berhasil membuat Dira langsung gemetaran.
"Itu bukan salah Dira. Arya yang sengaja menaruh obat tidur ke dalam teh, agar Mama tertidur dan Arya bebas peluk-peluk Dira," bohong Arya. Arya tak mau sampai Dira terkena hukuman dari Dinda, dan itu akan membuat Arya sangat sakit.
"Bisa-bisanya kamu, memberi Mama obat tidur. Kamu mau bikin Mama meninggal, dasar anak kurang ajar!" Dinda pun bangun dari tempat tidurnya dan memukuli Arya dengan sapu penebah.
Plak.. Plakk.. Plak..
"Ini akibatnya durhaka sama, orang tua. Kamu benar-benar anak gak tau di untung, dasar anak kodok, anak sapi, kamu bukan anak Mama!" Dira pun semakin merasa bersalah, saat melihat Arya di pukuli tanpa ampun. Karena tak mau Dinda terlalu melunjak, akhirnya Dira menyembunyikan tubuh Arya di belakang Dira.
Tentu yang mendapat pukulan sekarang adalah Dira, karena Dira berusaha melindungi Arya dari amukan Dinda. Dora tak tega saat melihat Arya di hukum, sedangkan yang salah adalah Dira.
Plakk... Plakk... Plakk...
"Mama stop! Apa Mama gak lihat, Mama memukuli Dira bukan Arya! Bagaimana Mama tega sama, Dira?" Arya pun langsung memeluk tubuh Dira yang sedang menangis.
"Ini salah Dira, Ma. Dira yang gak mendengarkan perkataan Mama, pukul Dira saja jangan kak Arya," ucap Dira sambil menangis. Namun saat Dinda akan memukul Arya lagi, datanglah Ryant yang baru pulang Dinas luar kota.
"Mereka sudah besar, Ma. Mereka pasti tau menahan diri, jadi jangan terlalu mengekang mereka," ucap Ryant di ambang pintu. Sedangkan Dinda langsung menoleh ke arah pintu, dan terlihat sosok tinggi, gagah dan tampan. Siapa lagi jiga bukan suaminya, tercinta.
(Peringatan...! Dinda ini lebay, kalian yang pernah baca pasti tau sifat Dinda yang sok dramatis dan lebay gak ketulangan!)
"Papa..." Dinda pun langsung berlari ke arah Ryant, dan langsung memeluk tubuh suaminya itu. Setelah itu yang terjadi, adalah drama FTV ikan terbang. 'MERTUA YANG TERZOLIMI'
"Lihatlah anakmu, Pa. Dia tega menaruh obat tidur, ke dalam teh yang Mama minum. Asal Papa tau, Mama seakan mau meninggal semalam itu," ucap Dinda dengan nada lebay. Sedangkan Ryant hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Walaupun lebay, tapi Ryant sangat mencintai istrinya itu.
Sebenarnya Dinda hanya berlaku seperti ini pada Ryant, karena dari dulu Dinda selalu manja, bahkan sangat kekanak-kanakan saat mereka baru menikah dulu. Yang bisa dilakukan Ryant hanya satu, ya itu mengikuti drama yang di buat Dinda.
__ADS_1
"Aduh kasihan banget istri, Papa. Pasti sakit, ya? Mana yang sakit biar Papa lihat," ucap Ryant sambil melihat sekujur tubuh Dinda.
"Yang ini... Yang ini.... Dan yang ini, banyak pokoknya." Dinda pun menunjukkan semua bagian yang dirasa sakit. Sedangkan Arya dan Dira melongo melihat betapa manjanya Dinda, bahkan baru kali ini Ryant melihat sisi aneh mamanya.
"Jelas yang keluar kayak gini, wong induknya model begini," gerutu Arya yang langsung mendapatkan cubitan dari Dira.
"Aw... Sakit, Sayang!"
"Biarin! Bagaimanapun juga, dia mamamu. Gak sepatunya kakak bilang gitu," Protes Dira yang sangat kesal.
"Biar Papa cium yang sakit, sekarang Mama tidur lagi dan papa akan memanjakan Mama." Ryant pun melirik ke arah Arya dan memberi isyarat agar cepat keluar. Tanpa tunggu lama Arya langsung menarik Dira keluar dari kamar itu, karena Arya tau apa yang akan dilakukan orang tuanya itu.
"Akhirnya selamat dari amukan, Mama," ucap Arya dengan ngos-ngosan. Sedangkan Dira masih saja murung, saat mengingat Arya begitu melindungi dirinya di hadapan Dinda.
"Hey... Kamu kenapa, Sayang?" tanya Arya sambil mengelus pipi Dira, sangat lembut.
"Kenapa Kakak berbohong? Padahal yang naruh obat tidur kan Dira, bukan Kakak. Kenapa Kakak melindungi Dira dari amukan Mama?" Dira pun kembali menangis.
"Karena kakak gak mau Dira, terluka," ucap Arya sambil menghapus air mata Dira. Namun baru saja mau bermesraan, datang lah Sintal dari arah pintu.
"Ciuman didalam sana, Bro," Cicit sintal dan terlihat dua sejoli itu tersentak kaget.
"Kalau gak ada perlu, aku mah ogah datang ke rumahmu. Hanya saja aku penasaran dengan satu cewek yang semalam aku tabrak, apa dia baik-baik saja?" ucap Sintal sangat khawatir. Sedangkan Arya menatap bingung, begitu juga dengan Dira.
"Maksud kamu, siapa?" tanya Arya sedikit bingung.
"Cewek cantik, putih, rambutnya panjang, tinggi, tapi sayang judes dan cerewet," jcap Sintal. Sedangkan Dira langsung tau arah pembicaraan Sintal.
"Maksud dokter, kak Fani?" jawab Dira.
"Mana aku tau. Pokoknya ciri-cirinya seperti yang aku sebutkan tadi, dia juga bilang lagi hamil. Tapi Omong-omong dia siapa kok ada di sini? Setau aku, kamu gak punya saudara perempuan deh," ucap Sintal yang penasaran. Walapun mereka sudah kenal lama, tapi Sintal tak pernah tau Fani. Karena saat Sintal di panggil, Fani tak ada di rumah Arya.
"Sebenarnya Fani itu, mantan pacarku," jawab Arya sangat cepat. Jelas Sintal langsung terkejut, karena dia baru tau hal ini.
"Seriusan, kamu! Berarti itu anakmu, Astaghfirullah tenyata kamu seperti garangan juga ya? Suka celup celup." Arya pun langsung melotot saat mendengar perkataan Sintal, Arya tak terima di katai garangan dan suka celup celup. Padahal dia tak pernah melakukan itu semua.
__ADS_1
"Gak sopan banget, sih!" Dumel Dira yang tak terima dengan perkataan Sintal.
"Enak saja kalau bicara. Dia itu diperkosa mantan pacarnya hingga hamil, tapi sayangnya Rangga gak mau tanggung jawab. Tapi malah pergi entah kemana, begitu pun juga dengan Mama, papanya Fani. Mereka juga ikut menghilang," ucap Arya. Sintal pun terkejut dengan perkataan Arya, Sintal merasa kasihan dengan nasib Fani, Sintal melihat kepribadian Fani sangat kuat karena dia mampu menanggung semua beban hidupnya.
"Aku mau melihat keadaan dia, waktu itu aku gak sengaja nabrak Fani. Dia sempat memegangi perutnya, aku takut terjadi apa-apa dengan kandungannya." ucap Sintal merasa bersalah.
"Kalau gitu ayo iku aku, ke atas," ucap Arya. Mereka bertiga pun akhirnya menuju ke kamar Fani, namun saat mereka sampai di atas. Sintal, Arya, dan Dira mendengar suara isak kan tangis dari dalam kamar Fani.
"Kak, aku dengar kak Fani menangis," ucap dira yang panik.
"Aku yakin pasti ada apa-apa dengan kandungan, Fani," balas Sintal yang juga ikut panik.
"Terus ini gimana?bKita harus apa, kan pintunya juga dikunci dari dalam. Kita ketuk pintu dari tadi juga nggak dibuka-buka," ucap Arya sama panik. Namun perkataan Arya membuat Dira semakin jengkel.
"Jangan pura-pura bodoh deh, Kak. Kakak kan suka dobrak-dobrak pintu, dan sekarang tugas Kakak adalah mendobrak pintu kamar Kak Fans," omel Dira dengan kesal.
"Halah kebanyakan mikir kamu, Arya. Biar aku saja yang mendobrak pintunya, nunggu kamu mikir bisa-bisa nyawa orang tak terselamatkan," ucap Sintal dengan panik.
Tanpa tunggu lama Sintal langsung mendobrak pintu kamar Fani. Namun mencoba beberapa kali tetap gagal, hingga akhirnya dobrakan yang terakhir berhasil membuka pintu itu.
Dengan sangat cepat Sintal masuk ke dalam kamar. Mata Sintal melirik ke sana ke mari untuk mencari Fani, hingga beberapa menit akhirnya Sintal menemukan keberadaan Fani yang sesegukan. Saat Sintal akan mendekat langkahnya langsung terhenti saat melihat kondisi Fani. Sintal sangat terkejut saat melihat kondisi Fani yang berlumuran darah dan duduk meringkuk menahan sakit.
Dengan sangat cepat Sintal menghampiri Fani dan duduk di hadapannya. Sintal bertanya Apakah ada yang sakit, namun Fani hanya terisak nggak bisa berbicara, Sintal hanya melihat tubuh Fani gemetar sangat hebat. Sungguh hati Sintal sangat sakit melihat kondisi Fani sekarang.
"Hey apa kamu baik-baik, saja?" tanya Sintal lagi.
"Tolong, anakku," ucap Fani sebelum dia tak sadar kan diri. Dengan perasaan takut Sintal berteriak ke Arya untuk menyiapkan mobilnya. Dengan sangat cepat Sintal menggendong tubuh Fani dan membawanya keluar.
Saat Arya sudah menyiapkan semuanya, begitu pun Dira yang sudah datang dengan membawa tas besar berisi pakaian Fani. Dengan cepat Sintal menaruh tubuh Fani dan melanjutkan mobilnya sangat kencang.
"Kak ayo kita, berangkat, " Arya pun mengangguk dan pergi menyusul Sintal ke rumah sakit.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading