Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 92 hantu di pohon beringin


__ADS_3

Di tempat pemakaman yang sangat sepi, dan tak ada seorang pun di sana. Ada Dira yang sedang mengunjungi makan suaminya, siapa lagi jika bukan makan Almarhum Vano.


Karena merasa kesal dengan kelakuan Sean, bercampur dengan malu. Akhirnya Dira memutuskan untuk menenangkan diri di makam mendiang suaminya, karena Dira berpikir hanya tempat ini yang selalu membuat Dira tenang.


Dulu saat dirinya di sembunyikan Sintal, tiada hari yang terlewat bagi Dira untuk menyambangi makam Vano. Setiap pagi Dira selalu datang ke tempat TPU, untuk menemui Vano dan mengirim doa.


Hatinya selalu tenang jika sudah berada di sini, hingga terkadang Dira sampai lupa waktu karena asik membersihkan makam Vano. Memang terlihat sangat jelas, makam Vano selalu bersih dan selalu ada bunga baru di pusar makam Vano. Bahkan Dira juga khusus menyewa seseorang untuk mengganti bunga di makam Vano setiap hari.


"Hai,Van. Bagaimana kamarmu, apa hari ini kamu bahagia melihat aku datang? Maaf selama dua bulan ini aku tak pernah menengok kamu, karena aku sibuk melayani kakakmu itu," ucap Dira sambil terkekeh saat mengingat kelakuan Arya.


"Tapi kamu jangan khawatir, di setiap do'aku selalu ada namamu. Setiap hari aku selalu mendoakan kamu tenang disana, dan bahagia melihatku bersatu dengan kak Arya." Ucapnya sekali lagi. Bahkan kiri Dira mencabuti rumput-rumpu yang mulai tumbuh di makam Vano.


"Terima kasih juga, karena kamu memberikan seseorang lelaki yang sangat mencintaiku, Van. Pilihanmu tepat, dia selalu setia denganku, tapi dia agak mesum," ucap Dira dengan tersenyum geli. Bagaimana gak geli, saat mengingat kelakuan Arya yang kelewat mesum. Hingga dirinya merasa malu, karena ketahuan Seto.


"Kamu tau, Van? Dia seperti anak kecil yang selalu minta susu, kelakuannya aneh tapi aku suka. Sifat dia denganmu sangat berbeda, dia seperti anak kecil dan manja, sedangkan kamu bijak dan dewasa," ucap Dira sekali lagi.


"Aku terkadang bingung dan berpikir, Apa kalian tertukar? Sebenarnya kamu kakaknya dan arya adalah adikmu, tapi memang sih umur tak menentukan sifat seseorang. Tapi ada satu hal juga yang mengganjal di hatiku, apa kamu bahagia jika aku dengan arya?" tanya Dira sambil mengelus batu nisan Vano. Dira masih merasa ragu, apakah Vano bahagia melihat dia bersama Arya.


"Aku sangat takut jika kamu gak bahagia, jika aku bersama Arya. Walaupun kamu yang menyuruh aku menikah dengan Arya, tapi aku takut juga kalau kamu cemburu di sana," ucap ngawur Dira. Namun tak lama setelah itu terdengar kekehan seseorang, dan Dira pun langsung merinding mendengar kekehan tersebut.


"Astaghfirullah! Apa ada hantu ya, walaupun ini siang tapi kan tetap ini kuburan!" ucap Dira sambil menoleh kanan ke kiri, untuk mencari sumber suara. Dira yang tak menemukan siapa-siapa semakin takut,karena suara tawa seseorang semakin jelas dan semakin dekat.

__ADS_1


"Aku baca doa saja, mungkin suaranya akan hilang jika aku membaca doa," gerutu Dira dengan gemetar. Kaki Dira sangat lemas hingga tak bisa bergerak, ingin sekali Dira lari tapi sungguh sekarang kakinya seperti di paku. Bahkan tak bisa di angkat sama sekali, yang bisa di lakukan Dira hanya duduk jongkok sambil membaca AYAT KURSI.


"HA...HA...HA.... Memang Kakak pikir aku hantu apa, pakek di bacain ayat kursi. Ini aku Mila kak, coba deh liat di atas pohon," teriak Mila dengan tertawa. Sedangkan Dira yang mendengar suara Mila pun langsung mendongak, dan melihat Mila yang bergelantungan di atas pohon beringin.


"Ngapain kamu di atas situ! Jadi tadi itu suara kamu Mila, sumpah kamu bikin kakak mau jantungan tau gak!" balas Dira yang sedikit kesal. Sedangkan Mila hanya senyum-senyum tak jelas, seperti orang gila.


"Cepat turun, kamu!" bentak Dira. Mila yang tau kakaknya marah pun akhirnya turun, setelah turun Mila kembali tersenyum gak jelas untuk menyembunyikan rasa kecewa di dalam hatinya.


"Jangan berlagak senyum. Aku tau kamu lagi patah hati, aku tau kamu sakit hati tapi jangan seperti ini. Berpura-pura tersenyum tapi hati kamu sakit, sini kakak peluk." Mila pun langsung memeluk tubuh Dira dan menangis sesegukan di pelukan Dira.


"Kak ... Hati aku sakit. Kenapa sih Pras gak pernah jatuh cinta dengan Mila, apa yang kurang dari Mila? Mila bisa buat dia jadi kaya, kenapa Pras malah nikah sama gadis desa itu?" ucap Mila dengan tangisan yang begitu pilu. Sedangkan Dira hanya bisa memberikan masukan saja, karena dia tau apa yang di katakan Pras adalah kebohongan belakang.


"Mungkin dia bukan jodoh kamu, Mila. Buka hati untuk yang lain, aku yakin banyak orang yang suka dengan kamu, apa kamu mau kakak rubah penampilan kamu biar ada lelaki yang tertarik denganmu?" tawar Dira. Sedangkan Mila masih memikirkan ucapan Dira, karena memang dia belum bisa move on dari Pras.


"Tapi apa aku bisa melupakan Pras? Pras adalah cinta pertamaku Kak, dan aku juga jatuh cinta pada pandang pertama. Apa aku bisa menerima lelaki lain?" tanya Mila dengan pandangan bingung.


"Kakak yakin kamu bisa Mila. Kakak akan membantu kamu, jika pilihan Pras adalah Zahra kamu harus terima. Karena dari awal hubungan kalian hanya pura-pura, kamu memaksa Pras agar dia mau jadi pacar kamu kan awalnya?" Mila pun menganggukkan kepala.


"Sudah jangan sedih lagi. Jangan sering ke kuburan juga, gak baik buat kamu, kalau kamu kesambet gimana? Sekarang ayo kita pulang." Mila pun menurut dengan ucapan Dira. Mila memilih pergi dengan Dira, untuk menenangkan hatinya.


****

__ADS_1


Sedangkan di lain tempat, Sintal juga Arya masih bingung mencari keberadaan Dira. Mereka kehilangan jejak Dira, karena harus menunggu Sintal yang membayar Ice cream yang mereka makan tadi.


"Apa Dira sudah ketemu?" tanya Sintal dengan napas ngos-ngosan.


"Belum, Kak. Lagian pertanyaan kamu aneh tau gak, udah tau aku selalu sama kamu, jelas kamu tau jawabannya!" jawab Arya dengan malas. Sedangkan Sintal langsung garuk-garuk kepalanya, karena terlalu panik dia tak bisa berpikir.


"Kita harus cari kemana lagi? Ke rumah gak ada, ke rumah kamu juga gak ada, ponselnya juga gak aktif," gerutu Sintal sangat prustasi.


"Kamu juga. Kejar Dira pakek tenaga kura-kura, bisa-bisanya kalah cepat dari perempuan!" Sintal pun menyalahkan Arya. Jelas Arya tak terima, karena tuduhan Sintal adalah tuduhan palsu.


"Hey Bambang! Kamu tau kan aku baru keluar dari penjara, jika aku kejar Dira pakai taksi, terus siapa yang akan membayar argonya? Dompet dan ponselku saja di bawa Dira semua, kan masuk bui kemarin gak boleh bawa apa-apa!" balas Arya yang juga mulai tersulut.


Memang saat Sintal membayar ice cream, Arya sempat mengejar Dira. Namun sampai di perempatan, Dira langsung naik taxi dan membuat Arya putar haluan untuk menunggu Sintal.


"Ya maaf, aku lupa!"


*


*


*

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2