Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - My Spoiled Family : Ada Yang Berbeda


__ADS_3

Keesokan harinya Seto mengajak Lisma untuk pergi ke rumah sakit, dan langsung menjalani serangkaian tes Lab. Lisma juga sudah menandatangani surat perjanjian yang Dira buat, dan Lisma akan mematuhi segala yang ada di dalam surat itu.


Setelah selesai menjalani serangkaian tes, Lisma langsung menuju ruangan Arya. Lisma sangat ingin melihat keadaan Arya. Lisma sangat khawatir dengan kondisi Arya, bahkan jika bisa Lisma ingin cepat-cepat mendonorkan ginjalnya itu.


Bruuukk...!


"Aduh! Lihat-lihat dong, Mas. Ini jalan umum, bukan jalan milik Mas sendiri!" pekik Lisma sambil ngomel-ngomel.


"Maaf, Mbak. Saya benar-benar gak lihat, maaf soalnya istri saya krisis jadi saya terburu-buru, dari ruang bayi," ucap laki-laki itu.


"Ya sudah, saya maafin untuk kejadian ini. Tapi jika nanti, saya lihat Mas seperti ini lagi. Maka saya akan marah sungguhan," balas Lisma sambil menatap lelaki itu.


"Terima kasih, Mbak. Kalau gitu saya permisi dulu, maaf sekali lagi." Tanpa tunggu lama, lelaki itu langsung berlari ke arah selatan.


"Ada-ada saja, untung aku gak jatuh. Kalau jatuh bisa berabe nanti," gerutunya sambil berjalan menuju ruangan Arya.


Saat sampai di sana, Lisma tak di izinkan masuk dan hanya boleh melihat dari jendela kaca. Lisma memandang Arya, yang terbaring di atas ranjang pesakitan dengan alat penunjang yang sangat banyak.


Arya masih belum sadarkan diri, dan itu membuat dokter tak bisa melakukan operasi dengan cepat walaupun nanti hasil tes Lisma cocok.


"Cepatlah sadar, Tuan. Agar saya segera mendonorkan ginjal ini, dan Tuan bisa hidup dengan baik kembali. Setidaknya saya bisa menyelamatkan nyawa seseorang, dan membuat seseorang bahagia," gumam Lisma sambil memandang Arya.


Namun tanpa Lisma tau, Seto mendengar ucapannya barusan. Setelah itu, Seto langsung mendekati Lisma dan menepuk pundak Lisma.

__ADS_1


"Sedang apa kamu, Lisma?" tanya Seto.


Lisma yang merasa terkejut langsung menoleh, dan memandang Seto dengan lekat. Seketika Seto menjadi salah tingkah, saat menatap mata Lisma.


Sial, aku kenapa ini? Kenapa aku seperti gerogi, dan ada gerilya aneh di hati ini. gumam Seto dengan mengatur kegugupan nya itu.


"Emm ... saya hanya melihat, Tuan Arya saja," balas Lisma sangat lirih. Lisma sangat takut, jika Seto akan menyindir dia seperti di Caffe.


"Kenapa kamu sangat takut, saat aku datang? Memang aku menyeramkan, hingga kamu ketakutan?" tanya Seto sedikit tak suka.


Entah kenapa dia tak terima saat Lisma takut dengannya, dan enggan menatap lagi setelah berkata seperti tadi.


"Tidak! Tuan tidak menyeramkan, sungguh." Seto pun kembali di buat aneh dengan hatinya. Tiba-tiba dia merasakan degup jantungnya semakin tinggi, saat melihat wajah polos Lisma.


"Ha?" Lisma pun semakin takut saat Seto mengumpat.


"Ehh ... jangan takut, aku memang seperti ini. Mulutku memang tak jauh-jauh dari kata umpatan, jadi jangan kaget." Seto berusaha menjelaskan pada Lisma.


"Saya sedikit terkejut saja, Tuan. Di keluarga saya, gak pernah ada yang mengumpat. Jadi saya sedikit kaget," balas Lisma sambil tersenyum manis.


"Maaf membuat kamu takut, tapi kamu gak perlu panggil aku Tuan. Lebih baik panggil Seto saja, atau apa gitu," ucap Seto sedikit menetralisir rasa gugupnya.


"Saya gak berani memanggil nama saja, bagaimana kalau Mas saja?" tanya Lisma dengan tatapan yang memikat. Sungguh ini Lisma gak ada niatan apapun, hanya Seto saja yang perlu di Service.

__ADS_1


"Seperti aneh, tapi gak papa deh. Aku izinkan kamu panggil aku Mas, karena hanya kamu yang manggil aku Mas." Lisma pun tersenyum senang.


"Benarkah, Mas?" Seto pun langsung menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka kembali ngobrol, dan duduk di ruang tunggu.


Bahkan mereka melupakan kecanggungan masing-masing, dan kembali bercerita tentang masa-masa kecil mereka dulu. Hingga mereka tak sadar, sudah hampir satu jam mereka bercengkrama.


Karena Lisma harus melihat ibunya, Lisma akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Seto. Seto hanya mengiyakan ucapan Lisma, dan memandang punggung Lisma yang semakin jauh di pandangannya.


.


.


.


Happy Reading


Wahh sekalian ya, saya mau promosikan cerita teman saya. Yuk ikutan, barangkali kalian menang. 😅


Judul : Salah kamar


Author : Ayu Firnanda


__ADS_1


__ADS_2