
"Vano tetap anak Papa, sampai kapanpun akan tetap jadi anak Papa. Vano tetap Vano nya, Papa Ryant."
Deg...
Ryan pun langsung melepaskan pelukan itu, dan langsung menatap tajam Vano. Ryant merasa tadi Vano nya lah yang bicara, bukan Vano kecil.
"Kamu bilang apa tadi, Van? Coba ulangi lagi, Opa ingin mendengarkan ucapanmu sekali lagi," ucap Ryant sangat berharap.
"Bicara seperti apa, Opa? Vano gak paham dengan ucapan Opa, daritadi Vano diam sambil memeluk Opa," elak Vano.
Vano sangat merutuki kebohongannya, karena secara gamblang bicara seperti itu. Entah dorongan darimana, tapi tiba-tiba mulutnya bicara seperti itu.
"Opa mendengar sangat jelas tadi, kamu memanggil Opa dengan sebutan Papa. Opa mohon jangan berbohong dengan Opa, jelas-jelas kamu memanggil Opa dengan sebutan Papa." Ryant terus memaksa Vano.
Aduh, bagaimana ini. Aku juga gak sengaja berkata seperti itu, tadi itu reflek. Entah mengapa aku seakan mendengar ungkapan hari Opa, dan membuat aku terhanyut. Kalau aku jujur, aku takut Opa gak akan mengira aku berbohong. Agggrrhh, gumam Vano sangat kesal.
"Opa, mungkin Opa sangat lelah. Jadi, Opa halusinasi. Sekarang kita ke ruang makan saja yuk, kita makan sama-sama. Tante Aira sudah ada di sana, kita ajak Zidan juga," ucap Vano.
Vano berusaha sekuat mungkin agar Ryant melupakan ucapannya tadi. Vano meresa sangat bersalah, karena telah membuat Ryant kepikiran dengan ucapannya barusan.
"Baiklah.Tapi Opa serius, tadi dengar kamu bilang seperti itu. Tapi jika kamu gak mau mengaku, ya sudah. Ayo kita ke ruang makan saja," balas Ryant. Setelah itu Ryant langsung berdiri, dan mendorong kereta Zidan.
Sedangkan Vano langsung bernapas lega, akhirnya Ryant mau menurut juga. Andai kata Ryant terus bertanya, maka Vano akan semakin kesulitan.
"Huft ...."
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Dira pergi ke rumah Dewi. Semalam dia gak jadi menyusul Arleta, karena anak bontot nya itu sudah menghubungi lebih dulu jika mereka akan menginap di sana.
Sebenarnya Dira sangat rindu dengan Arleta, dan ingin tinggal bersama dengan Arleta. Tapi, sayangnya Arleta gak mau tinggal dengan Dira. Hingga kemarin Arleta ingin pindah sekolah, ke Bandung.
"Mommy!"
Teriak Arleta saat melihat Dira masuk ke dalam rumah. Bahkan Arleta langsung minta di turunkan langsung, dan berlari ke arah Dira.
"Anak Mommy ya, sudah gak sayang lagi sama Mommy. Sedih deh jadinya Mommy ini, karena di cuekin sama Arleta." Dira pun pura-pura menangis.
"Maaf Letta, Mommy. Tapi Letta suka tingal sama Mama, boleh ya?" Arleta pun berusaha memohon.
"Mommy, kan ada kak Ardi, kak Vano, dan kak Raya. Boleh ya, Mom? Sekali saja, nanti kalau Arleta sudah besar, Arleta akan pulang," ucap Arleta sekali lagi..
Sedih sekali hati Dira, saat mendengar keinginan anaknya itu. Dira ingin sekali membesarkan Arleta, tapi pilihan Arleta pada Sintal dan itu sudah tak bisa di ganggu gugat.
"Sudahlah Dir, Arleta akan baik-baik saja denganku. Aku janji akan rawat dia sampai gak kekurangan apapun, kamu jangan khawatir," ucap Sintal yang membuat Dira semakin sedih.
"Kak, kamu jahat sekali sama aku Kak. Aku yang mengadung Arleta, tapi setelah lahir dia gak mau sama aku." Dira pun langsung menangis.
Dira gak perduli dia di lihat anaknya, tapi yang pasti hatinya sedang sedih. Besok anaknya akan kembali ke Bandung, dan Dira akan bertemu dengan anaknya seminggu sekali saja.
Sedangkan Dewi yang tau anaknya sangat terpukul, akhirnya mendekati Dira. Dewi berusaha memeberikan semangat pada Dira, dan membuat dia mengerti akan keputusan Arleta.
__ADS_1
"Mama tau kamu sangat sedih, Nak. Tapi coba pikirkan Arleta, dia lebih suka tunggal di sana. Jadi apa salahnya, jika kamu coba selama setahun ini," ucap Dewi sambil mengambil Arleta.
Namun sayangnya Arleta enggan ikut Dewi. Arleta merasa sedih melihat Dira menangis, apalagi saat setetes air mata keluar dari bola mata Dira.
"Letta, sayang sama Mommy. Jangan nangis lagi, Letta gak jadi tinggal sama Mama-papa. Letta gak mau Mommy nangis." Arleta pun akhirnya ikut menangis.
Baru kali ini Arleta melihat Dira menangis seperti itu. Arleta benar-benar tak bisa melihat air mata Dira, setiap Arleta melihat itu, hati Arleta langsung sakit.
"Loh, gak jadi ini?" tanya Sintal pura-pura kecewa. Padahal ini rencananya dengan Dira, pura-pura dramatis agar Arleta tak jadi ikut dengan Sintal.
Namun satu hal yang Sintal tak tau. Sebenarnya Dira benar-benar menangis, karena dia akan berjauhan dengan Arleta.
"Gak mau ninggalin, Mommy. Nanti aku kerumah Papa satu minggu sekali saja, tapi Papa janji. Selalu kabari Arleta tentang kak Edo, kalau gak kasih kabar aku akan marah," balas Arleta sangat menggemaskan.
Semua orang pun langsung tertawa, karena yang di jadikan masalah oleh Arleta selalu Edo. Anak tetangga sebelah Sintal, yang selalu di kejar-kejar oleh Arleta.
"Siap, Bos."
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1