
Aku benar-benar tak mampu menerima kenyataan ini, aku belum siap untuk melihat wajah Kak Arya yang sudah terbujur kaku dibalik kain putih jenazah. Rasanya enggan sekali aku menerima ini, aku harap ini bukanlah Kak Arya, suamiku yg amat begitu aku cintai.
"Kak ... izinkan Dira menolak kebenaran ini, sungguh Dira belum rela melepaskan kepergianmu." Dengan berat hati Dira memberanikan diri membuka kain itu. Perlahan-lahan tangan Dira mendekati kain itu, dan membuka kain putih yang menutupi seluruh tubuh Arya.
"Ha?"
Dira pun langsung membekam mulunya sendiri. Betapa terkejutnya Dira saat kain penutup jenazah itu dibuka, karena yang Dira lihat bukanlah sosok Arya. Yang tak lain adalah jenazah orang asing, yang sama sekali Dira tidak tahu itu siapa.
Dira pun langsung menjauh dari tubuh jenazah orang asing itu, dan menatap tajam suster yang mengatakan jika Arya telah tiada.
"Sus, siapakah orang ini? Dan juga siapa nama jenazah ini? Kenapa suster menipu saya?" tanya Dira yang masih kaget akan segalanya.
"Nama jenazah ini adalah Arya Santos, beliau berusia 34 tahun. Meninggal akibat gagal jantung. Almarhum meninggal saat diperjalanan menuju rumah sakit tadi," jawab suster itu.
Dira pun langsung terbelalak mendengar penuturan suster itu. Dira sangat merutuki dirinya, karena tak melihat terlebih dahulu saat suster itu memanggil keluar Arya.
"Aiihss! Kenapa gak bilang dari awal, seharusnya suster memanggil nama lengkapnya agar gak keliru seperti ini!" seru Dira sangat kesal.
Tak lama setelah Dira ngomel-ngomel, Keluarga pihak jenazah yang asli berhamburan datang ke ruang jenazah. Bahkan mereka langsung mendorong Dira, hingga dia terpojok di pinggir tembok.
"Terus di mana suami saya, Sus? Suami saya namanya Arya Wiguna, bukan Arya Santos!" Dira bertanya dengan sangat kesal, tapi Dira juga merasakan kelegaan hati karena jenazah itu bukanlah suaminya.
"Sa ... saya, gak tau," balas suster itu dengan takut.
"Bagaimana, Sih!" tanpa tunggu lama Dira langsung meninggalkan ruang pemulasaran jenazah. Dira ingin menemui Angga, agar tak memberi tau Dinda terlebih dahulu.
"Papa ...." seru Dira saat melihat Angga berjalan dengan Seto.
"Tia, baru saja Papa mau menghampiri kamu. Tadi saat Papa akan menelpon mertuamu, Seto terlebih dahulu menelpon dan memberi tau jika Arya sudah di pindahan ke ruang ICU," jelas Angga sambil memeluk putrinya.
"Iya, Pa. Di sana bukan kak Arya, dia orang lain. Dia bukan suami Dira," balas Dira sambil menangis.
__ADS_1
"Ternyata di UGD ada dua orang bernama Arya, jadi kita salah sangka, Nak," ucap Angga yang terus memeluk Dira.
"Aku mau menemui Kak Arya, Pa," lirih Dira. Dira benar-benar merindukan suaminya, rasanya Dira ingin sekali terus berada di dekat suaminya.
"Suami bucinmu sedang di pindahkan ke ruang ICU, Dira," gerutu Seto sangat kesal. Bagaimana tidak kesal, jika Dira terlalu percaya begitu saja saat suster memanggil nama Arya.
"Jangan ledek suamiku! Memangnya kamu mau aku ledekin itu istri dan anakmu, kalau mau sini aku ledekin kamu dulu. Dasar Seto suami-suami takut istri, gak berani lawan Sekar. Bisanya tunduk, kalau Sekar bicara A kamu akan A. Dulu aja nolak, setelah itu malah lembek," dumel Dira sambil menunjuk wajah Seto.
"Gak nyambung banget kamu, Dira. Kenapa sekarang bahas Sekar, jangan bahas dia disini karena aku ingin bebas sebentar," ucap Seto sedikit mengecilkan suaranya.
"Gak perduli, aku aduin kamu sama Sekar nanti. Bebeb, suamimu beraninya main belakang." Goda Dira sambil meledek Seto.
"Aku tinggal nie, urus sendiri suami bucinmu itu." Seto pun pura-pura akan pergi. Tapi dengan cepat Dira menahan tangan Seto, dan menatapnya penuh kasih.
"Jangan tinggalin aku, nanti aku bingung urus kak Arya. Ya, jangan tinggalin aku," pinta Dira. Seto pun langsung meluluh saat melihat Dira seperti ini, tapi ada sedikit takut juga.
"Sudahlah, ayo kita ke ruangan Arya. Nanti kalau Arya sudah sadar, jangan seperti ini karena aku gak mau mati di tangan Arya. Nanti di kiranya aku yang kecentilan, sama kamu." Dengan cepat Dira langsung mengangguk.
"Ya sudah, ayo kita ke ruangan Arya." Mereka pun akhirnya langsung pergi menuju ke ruangan Arya.
***
Siang ini Arya sudah dipindahkan ke ruang ICU, berbagai alat penunjang hidup, peralatan hemodialisa pun perpasang di tubuh Arya. Di ruang itu dokter beserta perawat sedang mengontrol perkembangan Arya.
"Bagaimana kondisi suami saya, Dok?" tanya Dira dengan hati yang amat tegar.
"Pak Arya masih dalam kondisi kritis, saat di UGD kami memberikan obat anti nyeri dan bius untuk Pak Arya." Jelas dokter. Setelah itu Dira memandang Arya penuh kasih.
"Kapan suami saya segera oprasi, Dok?" Tanya Dira kembali yang tak lepas memandang suami yang amat dia cinta itu.
"Jika kondisi suami ibu sudah pulih dan sadar, dan memenuhi kesiapan fisik nya kami akan segera menindak lanjuti. Akan fatal resiko jika keadaan Pak Arya seperti ini untuk di oprasi," tutur dokter.
__ADS_1
Dira hanya mengangguk-anggukan kepala nya "Kalau begitu kami permisi dulu," ucap dokter.
Dira terus memandang wajah Arya dengan amat pilu, rasanya dia ingin sekali menggantikan posisinya Arya saat ini. Dirinya tidak tega melihat suaminya rapuh seperi ini.
Jam sudah menunjukan waktu maghrib, Angga pun menemui Dira untuk kembali ke rumah nya mengingat Baby-twins yang masih membutuhkan ibu nya.
"Nak, kamu pulanglah ini sudah menjelang malam. Kamu butuh istirahat, butuh makan, sedari siang kamu melupakan makan," tutur Angga.
"Dira ingin di sini Pa, menunggu Arya hingga bangun," tolak Dira.
Angga pun mengeha nafas, "Dira, kamu tidak sendiri kamu memiliki anak masih kecil, mereka membutuhkan kamu kasian, Nak." Angga mencoba menyadarkan Dira.
"Baiklah, kalau gitu Dira pamit pulang. Besok pagi Dira akan kembali lagi kesini. Maaf merepotkan Papa di sini." Dira pun memeluk erat Angga. Angga yang seakan-akan tahu putri kesayangannya rapuh pun menerima pelukan anaknya, dan berusaha menguatkan Dira.
Dira pulang diantar oleh Seto, selama dalam perjalanan Dira hanya diam dengan tatapan kosong.
"Dira aku menjadi bersalah, aku tidak seharusnya menerima ...." Seto belum sempat melanjutkan pembicaraan nya karena langsung dipotong oleh Dira.
"Ga perlu mengungkit yang sudah terjadi Seto, yang sekarang harus kita lakukan adalah berdoa dan berusaha menemui Lisma lagi," jawab Dira.
Seto benar-benar cemas akan Arya, dia memiliki hutang budi maka dia akan menemui Lisma secepatnya agar saat Arya siuman Lisma sudah siap mendonorkan ginjalnya untuk Arya.
.
.
.
Happy Reading
By. Zahra
__ADS_1