
Jangan lupa komen ya, dan like. Aku crazy up nie, jangan sampai loncat-loncat kayak lompat tali.
---
"Vano!"
Vano langsung menoleh saat mendengar suara Alena. Vano sangat hafal suara Alena, hanya saja tadi seperti samar-samar. Tapi sekarang Vano mendengar suaranya sangat jelas, dan benar saat Vano menoleh dia melihat Alena berlari ke arah dirinya.
"Lena, kenapa kamu di sini? Bukannya kamu di rumah sama Om, kok sekarang di sini?" tanya Vano sangat penasaran.
"Van ... aku kesini karena ingin berbicara sesuatu, dan kalian harus dengar." Alena berbicara sambil menundukkan kepalanya. Alena sangat takut, bahkan dia juga mengigit bibirnya sendiri saking nervous nya.
"Kalau masalah sepele jangan dulu, Lena. Kamu tau kan, Lessy sedang berduka. Aku gak mau ada pertengkaran, dan memicu penyakit Lessy. Tolong kasihani Lessy sedikit saja, jika kamu masih punya hati." Tolak Vano secara halus.
Tapi, bagi Alena itu sangat menyinggung dirinya sendiri. Alena jadi merasa selama ini dia hanya pembuat onar saja, hingga Vano bicara seperti itu.
"Gak lama kok, ini penting banget malahan." Mata Alena langsung berkaca-kaca, dan ingin menumpahkan seluruh air matanya itu.
"Jangan menangis, kamu nanti jelek." Vano reflek mengelus lembut pipi Alena. Bahkan Vano juga mengusap air mata yang akan jatuh dari pelupuk, matanya.
Dari sinilah Alena semakin menangis. Alena merasa Vano gak akan seperti ini nanti, bahkan mungkin ini belaian lembut yang terakhir. Mungkin saja setelah Alena jujur, Vano semakin benci dengan dirinya, dan tak mau melihat wajahnya lagi.
"Kamu kenapa sih, Lena? Sudah jangan nangis, ayo kita ke sana. Makanannya sudah di tunggu Mommy-Daddy, mereka belum makan soalnya," ucap Vano sambil meraih tangan Alena.
Alena hanya diam saja, sambil memandang tangan Vano. Alena mengerahkan genggaman itu, dan merasakannya sebelum dia di tinggalkan.
"Van, jika aku melakukan kesalahan dan itu sangat fatal, apakah kamu akan menggenggam ku seperti ini?" tanya Alena sangat lirih, tapi dapat di dengar oleh Vano.
"Tentu saja, aku akan berada di sampingmu. Aku juga akan selalu menggenggam tanganmu ini, agar kamu kuat, dan tetap semangat."
Alena hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Vano. Alena tau pasti Vano akan melepaskan genggaman tangannya, karena kejujurannya nanti.
Setelah lama melewati lorong-lorong rumah sakit, akhirnya kini mereka sampai di depan ruang rawat inap.
"VIP Melati," gumam Alena sambil menatap pintu itu.
Vano sama sekali belum melepaskan tangannya. Vano membuka pintu, dan di sana sudah ada Dira juga Arya.
Dira yang tau Vano membawa Alena, hanya bisa tersenyum. Hati mereka gak tenang, bahkan berpikir akan ada keributan lagi yang membuat Lessy semakin kambuh.
"Tante, bagaimana keadaan Lessy?" tanya Alena sangat kikuk.
"Dia belum sadar, Len. Mungkin beberapa menit lagi, soalnya tadi dokter memberikan obat tidur." Dira membalas pertanyaan Alena.
__ADS_1
Sedangkan Alena hanya mengangguk saja, dan kembali melihat Lessy. Alena bingung kenapa Lessy di kasih alat-alat seperti itu, padahal dia hanya melihat Lessy gak bisa napas. Bukan sakit kerat, tapi infus di pasang pada kedua tangan Lessy.
"Daddy, ini kopinya. Daddy dan Mommy makan saja dulu, biarkan Lessy aku yang mengurus. Kalian pasti lapar, kan?"
Dira pun langsung memandang Arya. Mereka sangat ingin makan, tapi melihat ada Alena, membuat mereka takut untuk meninggalkan Lessy pada Vano.
"Emm, sepertinya kita gak jadi lapar. Kamu keluar saja sama Alena, mungkin Alena butuh berdua saja sama kamu, Van." Tolak Arya. Arya gak mau sampai Lessy histeris lagi melihat Alena, dan membuat penyakitnya kambuh.
Alena yang paham betul maksud Arya langsung berkaca-kaca. Belum jujur saja Arya sudah bersikap seperti ini, apalagi nanti saat dia jujur. Itulah kata-kata yang ada di otak Alena saat ini.
"Daddy ...."
"Benar kata, Daddy. Kita gak jadi lapar, kalian keluar saja, kata dokter juga kan gak boleh banyak orang di sini. Ya kan, Kak?" tanya Dira sambil mencubit Arya agar Arya peka.
"Ah, iya. Sudah sana, kalian keluar sa—"
"Aku paham kok, Om. Sudah jangan seperti ini, aku datang kesini habis ingin jujur sama kalian saja. Tapi sebelum itu, kalian makan dulu. Aku gak mau nanti kalian lapar, biarkan aku keluar sebentar," ucap Alena memotong ucapan Arya.
Hatinya sangat sakit, mendapatkan prilaku seperti ini. Tapi dia sadar, ini kesalahannya. Apapun nanti keputusannya, dia akan terima.
"Lepas tanganku, Van. Aku keluar sebentar, nanti kalau Om dan Tante selesai makan, aku akan kembali." Vano pun melepaskan tangan Alena.
Alena bergegas pergi, dan memegang gagang pintu. Tapi, saat dia berhasil membuka pintu, dia di kejutkan dengan orang yang ada di depannya itu.
Ya orang itu adalah Seto. Bahkan Seto membawa beberapa polisi ikut ke rumah sakit, dan yang sangat mengejutkan adalah tangan Seto di borgol.
"Pa-Papa, kenapa di borgol. Pak, apa salah Papa. Aku mohon lepaskan papaku, pak aku mohon." Teriak Alena sangat histeris.
Vano yang melihat semua itu, langsung memeluk Alena. Vano juga bingung sebenarnya ada apa ini, tapi dia berusaha diam dan mencari jawaban dari mulut Seto sendiri.
"Pak, bisakah saya bicara sebentar dengan anak saya. Beri saya waktu 20 menit, untuk berpamitan." pinta Seto.
"Baiklah, saya tunggu di luar."
Polisi pun langsung keluar meninggalkan mereka semua. Seto menatap marah pada anaknya, walaupun dia gak tega.
"Pa, kenapa Papa seperti ini. Aku mohon, Papa jujur. Sebenarnya kenapa?" tanya Alena sangat histeris. Tapi sayangnya Seto gak mau berbicara, dia hanya ingin menyampaikan sesuatu pada Arya.
"Arya, aku mau bicara penting. Bisakah kita bicara sebentar, aku gak punya waktu lama soalnya." Arya mendekati Seto dan langsung memeluknya.
"Kamu kenapa, kamu punya salah apa sampai di borgol seperti ini? Jangan ngada-ngada kamu, apa kamu gak ingat anak kamu masih kecil-kecil," ucap Arya sambil menangis.
Seto pun juga langsung menangis. Dia sempat meminta izin dengan Lisma, jika dia mengorbankan dirinya, apakah dia terima. Karena jujur saja, dia gak bisa melihat Alena di penjara.
__ADS_1
Tapi, dengan tegar Lisma menerima keputusan Seto. Dia rela kehilangan suaminya, demi menyelamatkan anaknya itu. Setelah mendapat persetujuan, Seto langsung menuju kantor polisi dan menyerahkan dirinya.
Seto mengaku, telah merencanakan pembunuhan terhadap orang tua Lessy dan di bantu oleh Lorena. Sekarang Lorena juga di bekuk polisi, tapi Lorena juga gak mau menyebutkan nama Alena, karena Lorena juga gak mau Alena kenapa-kenapa.
"Dengarkan aku, Ar. Aku titip Lisma, dan juga anak-anak. Aku terpaksa melakukan ini, karena aku gak mau anakku masuk penjara." Seto pun kembali menangis.
"Maksudnya apa? Kamu jangan membuat aku bingung," ucap Arya sangat kebingungan.
"Ini salahku, aku yang gak bisa mendidik Alena. Semoga dengan cara seperti ini, Alena bisa berpikir dewasa. Aku sudah gagal mendidik dia, tapi aku juga gak tega melihat anakku di penjara." Alena semakin terisak. Dia gak menyangka, Seto akan berbuat sedemikian rupa.
"Maksudnya?"
"Aku yang membunuh orang tua, Lessy. Aku juga yang meneror Lessy, seharusnya aku yang di hukum bukan Papa."
Dira yang mendengar ucapan Alena langsung menutup mulutnya. Begitu juga Vano, dia langsung melepaskan genggaman tangannya pada Alena.
Mereka sangat shock mendengar penjelasan Alena, dan mereka gak habis pikir Alena akan se nekat ini.
"Gila, ini sungguh gila! Apakah ini lelucon, coba jelaskan Alena!" tanya Vano sangat murka.
Vano benar-benar bleng saat ini. Orang yang sangat dia cintai berbuat hal keji seperti ini, bahkan membuat nyawa orang melayang.
"Semuanya benar Vano, aku yang melakukan semuanya. Maafkan aku, aku—"
"Kamu keterlaluan, Alena! Apa salah Lessy sampai kamu seperti ini, apakah kamu punya otak ha? Aku kecewa sama kamu, Lena. Aku kecewa, harusnya kamu yang mendekam di penjara, bukan om Seto!" Teriak Vano sambil mengeluarkan umpatan umpatan kasar. Vano sangat kecewa, dan menyesal telah mengenal Alena.
"Maaf, aku salah."
"Kata maaf gak bisa mengembalikan nyawa orang, Alena! Memang kamu bisa mengembalikan nyawa om Handoko, dan tante Lusi? Bisa gak!"
"Vano!"
Teriak Seto saat melihat Vano akan melayangkan tangannya ke Alena. Sesalah apapun Alena, dia gak akan membiarkan anaknya di sakiti.
"Sudah, jangan bertengkar. Kalian bertengkar pun orang tuaku gak akan kembali, aku gak mau orang yang gak bersalah menanggung ini semua. Aku juga gak akan menuntut kalian, tapi aku mohon, jangan dekati aku lagi. Aku gak mau berurusan dengan kalian, terserah kalian mau apa. Aku hanya ingin tenang, aku mau pergi dari lingkungan kalian."
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1