
Malam ini Fani berusaha meminta maaf pada Arya, dan mengakui kesalahannya itu. Bagaimanapun juga, Fani gak mau berpisah dengan Arya. Cukup dengan Rangga saja, Fani merasakan merelakan orang yang dia cintai pergi.
"Sayang, aku mohon maafkan aku. Iya aku salah, tapi itu karena aku cemburu. Aku mohon please?" Fani terus membujuk Arya sampai dirinya mendapatkan Maaf.
"Sudahlah, biarkan aku sendirian. Aku mau tenang dulu, jangan tambah bikin aku pusing." jelas Arya yang mulai sedikit mabuk.
Iya Arya mabuk, karena fikiranya sangat kacau. Di satu sisi, dia sangat bingung dengan permintaan sang Mama, tapi disisi lain ada Fani. Bahkan kepala Arya serasa mau pecah, jika dihadapkan dengan dua wanita itu.
"Tapi.." belum sempat Fani melanjutkan perkataannya, tapi dia sudah di buat terkejut dengan apa yang terjadi didepan matanya.
Bug...
"Arya!" teriak Fani saat melihat Arya di pukul oleh seorang berpakaian serba hitam, bahkan kini Arya langsung tak sadarkan diri akibat pukulan itu.
"Kalian gila! Sebenarnya siapa kalian, mau apa kalian, sampai memukul calon suamiku!" bentak Fani yang tak terima.
"Ini perintah, Bos!" tanpa tunggu lama, dua orang tadi langsung menyeret Fani dan Arya. Entah kemana mereka akan membawa Fani dan Arya, tapi yang pasti mereka orang bayaran.
"Lepaskan aku! Apa yang kalian inginkan? Cepat lepaskan, atau aku teriak!" teriak Fani sambil memberontak.
"Diam! Lebih baik mulutmu diam, atau aku bunuh kamu di sini." seketika lidah Fani langsung keluh, dia sangat takut dengan kata-kata bunuh!
Fani hanya bisa pasrah dan mengikuti kemana arah yang dituju kedua orang itu. Mata Fani langsung melotot, saat dirinya diseret ke sebuah kamar apartemen. Dan Fani tau ini kamar siapa, karena dulu sebelum berpisah dengan lelaki yang dia cintai, Fani selalu menginap disini, ditempat ini.
"Ka... Kalian sekongkol dengan Rangga, mau apa kalian bawa aku kesini?" teriak Fani. Fani sangat tak mau masuk kedalam sana, karena dia sudah melupakan Rangga dan Fani gak mau berurusan dengan dia lagi.
"Lebih baik diam!" dengan gerak yang sangat kasar, dua orang itu langsung menyeret Fani agar masuk kedalam kamar apartemen itu.
"Lepas!"
"Wah, sudah lama tak berjumpa. Ternyata kamu semakin cantik Fani, dan kamu juga semakin garang. Ternyata waktu 2 tahun merubah segalanya." tubuh Fani langsung limbung saat mendengar suara orang yang dia hindari. Hatinya bergetar, dan sangat takut untuk menatap orang yang dia tinggalkan demi kebahagiaan orang tuanya.
"Ra... Rangga." Fani langsung membuka matanya dan perlahan menatap lelaki yang pernah singgah di hatinya itu. Lelaki yang sangat gagah, dan kekar.
__ADS_1
"Iya Sayang. Ini aku, mantan kekasihmu!" jawab Rangga dengan nada menekan terlebih lagi di bagian 'Mantan kekasihmu'
"Mau apa kamu? Dan ini apa, kenapa kamu menyuruh anak buahmu, bahkan sampai melukai Arya!" tanya Fani dengan nada kesal.
"Aku lakukan ini semua, agar aku bisa balas dendam dengan kamu. Ingat kamu terlah menghancurkan aku, hanya demi tua bangka itu. Demi mereka kamu meninggalkan aku begitu saja, dan apa kau tau bertapa sakitnya aku? Aku sangat hancur Fani! Hingga aku melihat mu bersama orang lain, itu membuat aku semakin hancur." ucap Rangga panjang lebar.
"Mau balas dendam, kenapa bawa-bawa Arya! Kamu hanya dendam dengan ku, bukan dengan Arya!" bentak Fani sekali lagi. Rasa takut yang tadi ada tiba-tiba hilang, saat tau Rangga ingin balas dendam. Rangga semakin marah saat Fani lebih membela Arya, dan ingin sekali Rangga langsung melenyapkan lelaki bernama Arya itu.
Dengan sangat kasar, Rangga langsung menarik tubuh Fani hingga terjatuh di atas ranjang berukuran King. Bahkan di mata Rangga kini hanya ada amarah, yang sangat tinggi.
"Sakit, Rangga." ringis Fani saat pinggangnya terbentur pinggiran ranjang.
"Sakit kan? Itu tak sebanding dengan yang aku rasakan sekarang, kamu harus merasakan juga Fani!" tanpa ampun Rangga langsung menampar pipi Fani, dan menarik baju yang dikenakan Fani.
"Apa yang mau kamu lakukan? Jangan gila kamu, kita ini saudara. Kamu Kakak ku sekarang." bentak Fani.
"Kamu rasakan ini!" ucap Rangga dengan senyuman yang amat licik. Fani sangat ketakutan, teriakan minta tolong akhirnya sia-sia saat Rangga mulai mengoyak mahkota milik Fani. Hancur hati Fani saat mendapatkan perlakuan tidak senono dari kakak tirinya, sekaligus mantan kekasihnya.
Fani hanya bisa menangis, meronta agar perlakuan Rangga berhenti. Namun laki-laki itu, sama sekali tak mendengarkan jeritan Fani. Bahkan di otak Fani sekarang hanya satu, bagaimana dia berkata dengan Arya jika dirinya sudah tak semurni air pegunungan.
Sedangkan disisi lain, kota Malang. Terdapat seseorang yang sedang kedinginan, diluar rumah seseorang demi mengintai Dira. Lelaki itu adalah Pras, Bodyguard yang di utus Arya untuk mencari keberadaan Dira.
Hari ini adalah keberuntungan Pras, karena sekian lama akhirnya dirinya bisa menemukan kekasih Bos besarnya itu. Sungguh Pras merasa seperti dapat undian berhadiah, saat menemukan Dira. Dengan sangat cepat Pras ingin menghubungi Arya, tapi dia urungkan saat melihat paras cantik seorang Dira Larasati.
Wanita yang sangat cantik, bibir yang sangat sexy, rambut yang sangat indah dan panjang, belum lagi lekuk tubuh yang seperti biola Sepanyol. Ya Pras terpanah dengan kecantikan Dira, yang sangat sempurna itu. Jika dikatakan, Pras jatuh cinta pada pandang pertama.
"Bolehkah aku memiliki dia? Tapi jika aku ingin memiliki dia, berarti harus berhadapan dengan Bos Arya. Bisa-bisa aku di gantung di tiang listrik." gerutu Pras sambil melihat Dira yang bersenandung riang, di halaman rumahnya.
"Apa wanita ini tak punya rasa dingin? Aku saja yang memakai jaket masih menusuk di tulang, ingin rasanya bersembunyi di balik selimut tebal." gerutu Pras sekali lagi. Namun tanpa Pras sadari, gerak-gerik Pras sudah di ketahui oleh Dira. Hingga Dira disampingnya pun tak terasa.
"Mas..."
Pras langsung terjungkal saat punggungnya di tepuk oleh Dira, sungguh Pras sangat terkejut melihat Dira berada di sampingnya. Dengan kewarasan yang tersisa sedikit, Pras langsung menoleh ke arah dimana Dira tadi berdiri, dan ternyata sudah tak ada disana.
__ADS_1
"Astaghfirullah, dia ada di hadapan ku. Bidadari yang sangat cantik, yang aku kagumi ada di depanku." gunam Pras dalam hati.
"Mas, gak apa-apa?" tanya Dira sekali lagi, karena tak mendapat jawaban dari Pras.
Namun bukan jawaban yang Dira dapat, tapi malah rasa terkejut, saat Pras tiba-tiba pingsan dan terjatuh di kakinya.
"Mas!" teriak Dira. Dira sangat panik, bahkan sampai bingung dengan kelakuan Pras. baru saja di ajak bicara malah pingsan, dan membuat orang bingung. Apalagi nanti jika di ajak berkenalan, pasti langsung mati berdiri.
"pak, tolong saya. Tolong angkat orang ini masuk kedalam rumah, dia pingsan." teriak Dira saat melihat orang berjalan.
"Loh kok bisa pingsan, Mbak Dira?" tanya Pak Sugeng.
"Gak tau! Tadi saya ajak bicara malah pingsan, saya jadi takut pak." jelas Dira dengan ketakutan. Dira sangat takut, Pras terkena alergi dingin.
"Mungkin kaget, melihat kecantikan Mbak Dira." canda salah satu warga. Dan tentu saja Dira langsung melotot, mendengar candaan Pak Wawan.
"Aduh Pak, jangan bercanda dulu. Bantu saya bopong orang ini, saya takut dia alergi dingin." omel Dira. Setelah mendapat omelan dari Dira, para warga langsung menolong Pras dan membawanya masuk kedalam rumah kontrakan Dira.
"Makasih ya, Pak," ucap Dira saat Pras sudah dibaringkan di atas sofa.
"Iya mbak, kita kan gotong-royong. Kalau gitu, saya tinggal dulu. Kalau ada apa-apa, saya ada di pos depan." Dira hanya menganggukkan kepala, dan setelah itu pak Wawan dan pak Sugeng langsung pergi dari rumah Dira.
Dira memandang wajah Pras, seperti pernah melihat lelaki ini, tapi entah dimana. Sangat penasaran itulah, yang dirasakan Dira.
"Siapa, lelaki ini? Kenapa aku sangat familiar dengan dia, tapi di mana?"
.
.
.
happy Reading
__ADS_1
Ini adegan baru, fresh. Dulu di sana gak ada penjelasan, Fani di culik Rangga. Tapi disini aku jelaskan, 😃