Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 85


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah Serlin, mereka memutuskan untuk pulang. Namun saat di tengah jalan, Angga mengirimkan mobilnya sejenak.


"Gimana? Apa kamu dapat merekamnya, atau tidak?" tanya Angga saat mobil sudah menepi.


"Sudah dong, Pa. Terus sekarang gimana, apa Papa tadi sudah foto laporan palsu Serlin? Tadi sempat berdebar jantung aku, Pa," ucap Dira sambil mengelus dadanya.


"Kamu kalau melakukan misi jangan sampai gemetar, bisa-bisa kamu kalah sebelum perang. Jadi kalau mau berbuat apa-apa, bilang sama Papa dulu. Karena Papa akan membantu kamu, sampai titik darah penghabisan," balas Angga sambil memeluk erat putri kesayangannya itu.


"Terima kasih, Pa. Sekarang kita harus kemana pa?" tanya Dira yang masih nyaman di pelukan Angga.


"Kita pulang dulu Sayang. Ini sudah malam gak mungkinkan kita ke kantor polisi, besok pagi-pagi kita ke sana untuk melihat suamimu sekaligus melaporkan dokter Ara," balas Angga. Sebenarnya ada guratan kecewa di wajah Dira, tapi Dira membenarkan ucapan Angga. Ini sudah larut malam.


"Terus, Serlin bagaimana?"


"Anak papa ini kok lemot banget, Ya? Jelas kita kesana memberikan bukti-bukti ini Sayang, dan nanti polisi yang urus. Kita juga bisa tuntut Serlin balik dengan tuduhan pencemaran nama baik ,biar dia kapok," balas Angga sedikit gemas. Setelah mendengar ucapan Angga, Dira pun langsung tersenyum.


"Kalau gitu kita pulang sekarang, Pa. Aku ngin tidur nyenyak sebelum menyaksikan kekalahan Serlin, tapi Dira tidur sama mama ya?" Mohon Dira dengan wajah imut. Sedangkan Angga hanya bisa mengalah, demi anaknya ini.


"Iya gak apa-apa. Nanti kita tidur bertiga seperti kamu masih bayi, Papa rindu waktu-waktu itu," ucap Angga dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Dira, malah menjahili Angga.


"Enak saja. Maksudnya hanya aku dan mama, Papa sementara tidur di kamar tamu." Angga pun langsung melongo mendengar perkataan Dira. Sedangkan Dira malah cekikikan, melihat expresi Dira.


"Loh kok bisa?"


"Bisa dong." Dira pun menjulurkan lidahnya dan tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua pun akhirnya ketawa bersama-sama, dan tak sadar mereka belum juga menjalankan mobil.


Papa akan lakukan apa pun demi kamu, Sintia. Selagi Papa ada umur, Papa akan berikan semuanya untuk kamu. gumam Angga sambil menyalahkan mobil kembali.


***


"Dira, kakak kangen," gerutu Arya sambil duduk bersender di tembok yang lembab dan dingin itu. Arya kini sudah berada di dalam jeruji besi, setelah menjalani serangkaian interogasi tadi.

__ADS_1


"Apa kamu mikirin kakak? Ahh.. Kakak kangen di peluk kamu, kakak butuh asupan gizi. Sepertinya susu kakak habis deh, sebab itu kakak jadi lemes," Gerutu Arya lagi. Hingga membuat orang di sebelahnya tertawa lepas. Sedangkan Arya yang merasa di tertawakan menoleh dengan sinis, ke arah orang tersebut.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Arya sangat ketus.


"Gak apa-apa. Kamu mengingatkan saya dengan istri saya, pasti kamu pengantin baru ya?" balas seseorang napi. Namun balasan orang tersebut membuat Arya semakin kesal, dan ingin menimpuk orang tersebut.


"Kalau iya kenapa?" jawab Arya sangat tak bersahabat.


"Aku hanya tanya saja, dan gak perlu ngotot. Dulu saya juga seperti kamu, gak bisa lepas dari istri. Ingin nya di kasih pasokan terus menerus, tapi semua itu harus di kurangin setelah kita punya anak," balas pak Napi.


"Kenapa harus di kurangi?" tanya Arya yang mulai tertarik dengan pembicaraan si napi.


"Memang kamu mau merebut jatah anakmu? Apa kamu mau berebut susu dengan anakmu, setelah anak lahir semuanya milik anak. Bapaknya hanya kebagian kue apem doang, itu pun sulit banget saat kita mau makan kue itu!" balas pak Napi sedikit kesal, karena Arya sama sekali gak faham.


"Lah kenapa kok susah? Tinggal nunggu anak tidur dan kita beraksi, setelah itu makan deh sepuasnya," ucap Arya santai. Sedangkan napi tersebut langsung menepuk jidatnya.


"Ternyata kamu lemot ya 😏" gerutu pak Napi.


"Pikir nanti saja itu. Yang penting sekarang aku harus gempur Dira terus sebelum isi, semoga saja Dira isi setelah aku puas," ucap Arya lirih. Namun dapat di dengar pak Napi.


"Jika Allah berkehendak kamu gak akan bisa berkutik. Siapa tau istri kamu sekarang sedang mengandung, dan kamu akan merasakan yang namanya MORNING SICKNESS. Semoga kamu menikmatinya, nanti," ucap pak Napi. Jelas Arya semakin kesal, dengan ucapan seorang napi itu. Mereka baru kenal, tapi dia terus-menerus ngoceh.


"Seperti peramal saja, kamu!" Dengus Arya.


"Nantikan saja. Kalau sudah terjadi, ingat perkataanku ya?"


"Jangan bahas itu. Lebih baik bahas yang lainnya, misal tentang kehidupanmu dan kenapa sampai masuk penjara?" Arya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Memangnya kamu tertarik dengan ceritaku?" Tanya pak Napi.


"Apa boleh buat. Hanya kita yang berada di ruangan ini, daripada sepi mending aku mendengarkan kisahmu," Jawab Arya sambil menaikan bahunya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan cerita kan kenapa aku bisa sampai di sini. Sebelumnya perkenalkan aku Hendra, dulu aku pengusaha tapi adikku memfitnahku telah membunuh istrinya, padahal dia sendiri yang membunuh istrinya karena gak sengaja ketusuk dengan pisau yang dia bawa," ucap Hendra yang mulai bercerita.


"Lah kok bisa kamu yang di tangkap?" Tanya Arya yang penasaran.


"Karena Heru melarikan diri dan meninggalkan ku sendiri di kantor bersama jasad istrinya. Waktu itu Rahma masih bernafas dan aku berusaha mencabut pisau itu. Tapi tiba-tiba polisi datang di saat melihat aku memegang pisau tersebut, dan yang lebih aneh Heru datang lagi dengan berpura-pura terpuruk seperti kehilangan. Sungguh gak waras adikku itu," balas Hendra dengan tersenyum miring.


"Sebentar! Kenapa Heru ada di kantor kamu, dan kenapa Heru membawa pisau?" Tanyanya lagi dan Heru mulai bercerita lagi.


"Heru datang meminta hak nya. Orang tua kami meninggalkan warisan, tujuh puluh persen jatuh ke tangan saya dan heru tiga puluh. Heru gak Terima dengan keputusan itu, dia marah-marah gak jelas dan berniat membunuh ku. Tapi sayang Rahma melindungiku dari Heru dan berakhir Rahma lah yang tertusuk, sungguh malang nasipnya," ucap Hendra panjang lebar.


"Lah sekarang perusahaanmu,bagaimana?" tanya Arya sangat penasaran.


"Di ambil alih Heru semua. Istriku di usir dan sekarang tinggal di gubuk kecil, aku ingin keluar secepatnya tapi tak ada yang menolongku," ucap Hendra sedikit tersenyum.


"Sudah berapa lama bapak di sini?" Tanya Arya yang mulai terhanyut. Mata Arya tanpa sengaja mengeluarkan air mata, saat mendengar cerita Hendra.


"Enam bulan. Aku hanya memikirkan anakku, dia masih kecil kami menikah selama 18 tahun baru di karuniai seorang anak laki-laki dan dia baru berusia 2 tahun, " balas Hendra sambil menangis. Sedangkan Arya semakin menangis, mendengar semuanya. Arya tak tega, melihat nasip Hendra dan keluarganya.


"Jika aku bebas nanti, aku akan berusaha membebaskan kamu. Aki akan menyuruh Dira melihat keadaan istrimu. Kamu tenang saja orang yang membuatmu begini, akan aku buat hancur," janji Arya dengan tekad yang membara.


"Kamu serius?"


"Aku serius. Kalau boleh tau perusahaanmu, namanya apa? Biar aku hancurkan nanti," balas Arya.


"Perusahaan LL GRUP."


.


.


.

__ADS_1


happy Reading


__ADS_2