Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Aku Belum Memaafkan mu


__ADS_3

"Sudah, jangan bertengkar. Kalian bertengkar pun orang tuaku gak akan kembali, aku gak mau orang yang gak bersalah menanggung ini semua. Aku juga gak akan menuntut kalian, tapi aku mohon, jangan dekati aku lagi. Aku gak mau berurusan dengan kalian, terserah kalian mau apa. Aku hanya ingin tenang, aku mau pergi dari lingkungan kalian."


Seketika semua langsung menoleh ke arah Lessy. Ternyata Lessy sudah sadar, dan dia mendengar semuanya. Lessy sangat memahami perasaan Seto, apalagi Alena juga anaknya.


Orang tua manapun gak akan rela jika, anaknya mendapatkan masalah. Sesulit apapun, dia akan tetap membelah anaknya.


"Les, kamu sudah bangun Nak? Apa yang kamu rasa, apakah kamu inginkan sesuatu?" tanya Dira sangat khawatir.


"Lessy gak apa-apa, Tante. lessy mau duduk, Lessy capek tidur." Lessy berusaha duduk, tapi dia kesulitan karena banyak alat yang menempel pada dadanya.


"Sini aku bantu, jangan banyak gerak." Vano hendak membantu Lessy tapi, Lessy langsung menepis tangan Vano.


"Aku bisa sendiri, lebih baik kamu jaga perasaan Alena. Ini semua salahku, karena telah menyukai kekasih orang lain. Jika, aku gak datang ke lapangan, mungkin kejadian ini gak akan terjadi. Kita di sini sama-sama salah, dan gak ada yang benar. Jadi lupakan semua, aku mau hidup tenang," ucapnya sekali lagi.


Vano, Dira, Seto, dan Arya langsung tersentuh dengan ucapan Lessy. Walaupun dia di sakit, Lessy tetap bicara dengan tenang.


"Gak bisa, ini harus di urus. Ini tindakan kriminal, Lessy," ucap Vano.


"Dan yang seharusnya di hukum, yaitu Alena, bukan Om Seto. Ayolah Om, jangan seperti ini. Jangan karena Alena, Om jadi mengorbankan Bima, dan juga Naira. Mereka juga anak Om, mereka juga berhak mendapatkan kesih sayang Om." Jelas Vano.


Vano gak mau sampai Bima kehilangan sosok ayah, dan Vano sangat tau. Hukuman penjara bagi pembunuh juga gak sedikit, bisa sampai 20 tahun atau hukuman mati.


"Iya, Seto. Apakah kamu gak ingat bagaimana perjuanganmu dulu dengan Lisma, tapi sekarang kamu dengan mudahnya menelantarkan Lisma hanya demi menggantikan Alena?" Pertanyaan Arya membuat otak Seto sangat mendidih.

__ADS_1


Seto bingung sekarang. Dia terlanjur menyerahkan diri, dan bilang jika dirinya yang merencanakan pembunuhan itu.


"Aku bingung, aku gak tau harus bagaimana lagi. Pikiranku terbagi dua, aku gak bisa berpikir." Seto langsung terduduk lemas.


Seto bimbang mau mengambil keputusan seperti apa saat ini. Dia juga baru sadar, jika dia masih ada Bima yang masih saja berusia 6 bulan. Sedangkan Naira, seumuran dengan Arleta.


"Pa, aku yang salah. Maka aku yang akan menanggung semua, Papa gak boleh meninggalkan adik-adik, juga Mama. Bilang sama Mama, aku minta maaf, jika selama ini suka menyakiti hatinya. Itu di luar keinginanku, aku hanya terhanyut dengan hasutan nenek. Jadi, maafkan aku." Alena pun langsung menangis.


Seto yang melihat anaknya mulai menyadari kesalahannya, langsung memeluk Alena. Walaupun Seto gak bisa memeluk, setidaknya dia bisa mendekap anaknya itu dengan tangan terborgol.


Setelah berpelukan, Alena langsung menghampiri Lessy. Alena memberanikan diri untuk meminta maaf, dia juga sadar, ini salahnya dan dia harus meminta maaf.


"Maaf, ini semua salahku. Aku akan menerima hukuman apapun, agar bisa menebus dosa-dosaku," ucap Alena sambil menggenggam tangan Lessy.


Alena tau perbuatannya sangat fatal, jadi dia gak akan merasa tersinggung dengan ucapan Lessy.


"Mungkin bagi orang, ini sangat tidak adil. Tapi, membalas seseorang gak perlu dengan kekerasan. Mulai detik ini, sampai seumur hidup, kamu akan merasakan bagaimana rasanya di benci orang, tapi gak tau apa salahnya mu, sampai di benci seperti itu."


Lagi-lagi Alena hanya bisa menangis. Marah pun tak mungkin, dia hanya bisa menerima cacian Lessy. Mungkin dari sini Alena mulai sadar, jika sikapnya harus di rubah.


***


"Kalian, kenapa menangkap saya! Kamu mau main-main ini ceritanya, kamu gak takut dengan kekuasaan yang aku miliki!" teriak Lorena saat di masukan ke dalam ruangan intrograsi.

__ADS_1


Setelah penangkapan, Lorena langsung di bawah ke kantor polisi. Polisi ingin mengintrograsi Lorena, mencari tau motif Lorena sampai membunuh seseorang.


Tapi, sayangnya Lorena gak mau membuka suara dan selalu membela dirinya sendiri. Lorena sangat pintar bersilat lidah, hingga membuat Polisi kesulitan.


"Aku akan melepaskanmu, tapi kamu juga harus jujur! Kenapa kamu melakukan ini semua, apakah kamu gak punya hati sampai melakukan ini?" tanya Bayu—selaku polisi yang mengintrograsi Lorena.


"Kamu jangan nuduh saya sembarangan, kamu mau saya tuntut!" Teriak Lorena sangat kencang.


"Saya gak takut di tuntut, jika kamu salah! Silakan apa yang kamu mau lakukan, tapi yang pasti aku akan berusaha menemukan bukti jika kamulah yang merencanakan semua ini!" Karena merasa kesal, Bayu langsung meninggalkan Lorena begitu saja.


Bukan Bayu namanya, jika dia gak bisa menemukan bukti-bukti yang ada. Bayu akan melakukan apapun, karena dia merasa gak tega dengan anak korban. Bayu akan usut kasus ini sampai tuntas, dan kemungkinan Lorena akan mendapatkan hukuman mati.


"Joko, ikut saya ke tempat kejadian. Aku mau liat tempat TKP, aku pasti menemukan bukti. Jangan panggil aku Bayu Samudera, jika gak bisa menyelesaikan ini semua!" seru Bayu sambil mengambil jaket, dan memakainya.


"Baik, Pak."


.


.


.


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2