
Suara langkah kaki yang sangat terburu-buru terdengar sangat nyaring di gedung sekolah milik Alisya, karena ingin segera menemukan ruangan UKS.
Wajah cantik yang bisanya terpancar, kini tiba-tiba suram saat wanita itu mendapatkan telepon dari pihak sekolah. Dia adalah Lisma, orang tua Alisya. Lisma sangat terkejut, saat mendapatkan kabar jika anaknya itu melakukan perbuatan mesum di dalam toilet.
Hati Lisma sangat menolak saat tau ini, karena Lisma tau seperti apa Alisya itu. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal tak senonoh, dengan orang lain yang jelas-jelas Alisya menjalani hubungan dengan Ardi.
"Dek, ruang UKS di mana?" tanya Lisma sangat panik.
"Di sana Tante. Tante lurus saja, ruangannya ada di pojok sendiri," balas salah satu siswa yang ada di sana.
Lisma yang tak mau tunggu lama, langsung berlari agar segera sampai di sana. Lisma sangat khawatir dengan anaknya itu, apalagi mereka tinggal terpisah selama ini.
Setelah sampai di ruangan yang Lisma tuju. Lisma langsung masuk dan melihat ada seorang dokter yang memeriksa anaknya itu, bahkan Lisma juga melihat Alisya begitu terpuruk saat ini.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" tanya Lisma sangat khawatir. Namun, Alisya yang mendengar suara Lisma langsung menoleh.
"Mama—"
Tenggorokan Alisya pun terasa tercekat. Dengan sangat cepat Alisya bangkit dari tidurnya, dan langsung memeluk Lisma.
"Mama, ini semua gak seperti yang mereka pikirkan. Ini hanya salah paham, dan Ardi juga marah sama Alisya," isak Alisya sangat pilu.
Daritadi Alisya selalu memikirkan Ardi. Walaupun Ardi tau dia pingsan, tapi Ardi gak mau menengok dirinya. Sungguh hancur hatinya, saat melihat itu semua.
"Mama percaya sama kamu, Nak. Kamu anak Mama, dan sampai kapanpun Mama akan percaya denganmu. Masalah Ardi, biarkan Papamu saja yang mengurus," jelas Lisma yang berusaha menenangkan Alisya. Lisma gak menyangka, Ardi akan percaya dengan salah paham ini. Padahal yang Lisma tau, Ardi sangat mencintai Alisya.
__ADS_1
"Tapi, Ma—"
"Shuut ... jangan banyak bicara, kamu harus netralkan hatimu. Mama percaya sama kamu, dan Mama akan selalu ada di depanmu," ucap Lisma sambil menciumi pipi Alisya.
Setelah itu Lisma berbicara dengan dokter yang menangani Alisya. Beruntunglah Alisya hanya mengalami Shock saja, dan membutuhkan istirahat yang cukup agar tak mengalami gangguan mental.
Setelah selesai, Lisma langsung menuju ruang kepala sekolah. Lisma ingin membicarakan ini semua, dan mencari solusi yang tepat. Lisma gak mau anaknya di tuduh yang tidak-tidak, apalagi di tuduh berbuat mesum.
"Jadi bagaimana Bu, apakah Ibu setuju dengan usul kami. Demi menjaga kehormatan sekolah, kami mengeluarkan Alisya. Kejadian ini bisa mencoreng nama besar sekolah ini, dan saya juga menyarankan agar menikahkan Alisya dengan Alfa."
Seketika Lisma langsung terkejut. Dia merasa gak terima jika anaknya di keluarkan, apalagi kepala sekolah itu seenaknya menyuruh orang menikah.
Lisma gak mau anaknya itu terjebak pernikahan tanpa dasar cinta, seperti dirinya dulu. Menikah tanpa cinta, hanya demi menghindari orang yang sangat dia cintai.
"Jangan sembarangan kalau memberikan usul, Pak. Kalau bisa Bapak cari dulu bukti, baru menuduh orang. Anak saya gak mungkin melakukan itu, dan untuk menikahkan mereka, saya gak setuju!" Tolak Lisma mentah-mentah.
"Tap—"
"Gak usah tapi-tapian! Suruh kesini Alfa, saya mau tanya apa yang terjadi sebenarnya. Memecahkan masalah bukan seperti ini, asal ambil keputusan. Intinya saya gak terima jika anak saya di keluarkan, apalagi sampai menikah dengan orang asing." Bantah Lisma. Lisma benar-benar murka saat ini, ingin sekali dia memakan kepala sekolah itu.
Akhirnya kepala sekolah itu menurut, dan segera memanggil Mahen. Sedangkan Mahen yang merasa bersalah, hanya bisa menundukkan kepalanya saja, takut jika dirinya akan di aut dari Universitas yang dia pilih selama ini.
(Pemilik sekolah itu membangun gedung sekolah ada tiga sekolah, antara SMP, SMA, dan Universitas atau Kampus. Lah si Ardi suka bolos kelas, demi bisa makan siang sama Alisya. Entah didikan siapa itu suka bolos, seperti Arya suka bolos kerja he he he)
"Permisi," ucap Mahen sangat takut. Mahen gak berani sedikitpun memandang kedua orang itu, apalagi menatap langsung.
__ADS_1
"Duduklah. Ibu ini adalah orang tua Alisya , beliau ingin tau yang sebenarnya dan kamu harus menjelaskan tanpa berbohong sedikitpun!" jelas kepala sekolah sangat tegas.
Mahen hanya bisa mengangguk, dan mulai menjelaskan. Lisma gak percaya hanya demi mendapatkan nama alamat Raya, dia sampai berbuat nekat dan akhirnya menjadi runyam. Lisma langsung memijit pelipisnya, dan langsung berdiri mendekati Mahen. .
Plak!
Satu tamparan langsung lolos di pipi Mahen. Lisma sangat kesal dengan Mahen, apalagi alasan dia hanya sepele tapi berimbas besar.
"Jika kamu ingin mendapatkan seseorang, jangan pernah pakai cara kotor. Jelas Raya memakai nama Pimoy, karena dia tau kamu laki-laki ceroboh! Apa kamu gak mikir, gara-gara perbuatanmu ini Ardi marah besar, apa kamu gak mikir!"
Plak!
Lagi-lagi Lisma menapar Mahen. Mahen hanya bisa diam, karena dia merasa ini semua salahnya. Jika dia bisa bersabar, maka gak akan serumit ini.
"Saya gak mau tau. Bagaimanapun caranya, kamu harus berusaha menjelaskan pada Ardi. Anak saya sangat terpuruk karena ulahmu, dan saya gak mau tau, intinya saya mau secepatnya!" Teriak Lisma sekali lagi.
Mahen hanya bisa mengangguk. Mahen akan berusaha membuat Ardi percaya, dan menjelaskan segalanya jika ini hanya salah paham.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1
Masih Ingat ( Alfa Mahendra) gak?