
Sesampainya di dalam ruangan, mereka bertiga duduk di atas sofa. Sedangkan Gibran yang melihat Seto terlalu dekat dengan Arya, langsung menengahi mereka berdua, karena Gibran tak suka melihat mereka berdekatan.
"Minggir! Jangan dekati Honey, aku gak suka. Karena kamu, Honey kehilangan satu ginjal!" Celetuk Gibran sambil menatap sinis Seto. Sedangkan Seto langsung mendengus, melihat tingkah manusia jadi-jadian.
"Gibran, tolong jangan keras-keras jika bahas ginjalku. Karena Dira gak tau ini semua, aku gak mau dia terlalu memikirkan sesuatu yang gak penting. Waktu itu dia tanya tentang bekas operasiku, tapi aku bilang itu bekas goresan karena jatuh waktu masa kecil. Jadi aku minta sama kalian, jaga rahasia ini," ucap Arya sangat serius.
Waktu itu, setelah melakukan malam ke tiga. Dira melihat bekas Operasi Arya, namun Arya berbohong karena gak mau membahas ini dengan Dira. Kenapa waktu Malam ke tiga Dira tau bekas luka itu, karena waktu Malam pertama Dira malu-malu kucing untuk melihat seluruh tubuh Arya.
"Baiklah, Honey. Aku akan merahasiakan ini semua, aku juga gak mau calon anak kita kenapa-napa." Arya pun langsung terbelalak karena mendengar ucapan itu lagi.
"Dia ponakanmu, bukan anakmu. Ingat kamu Om nya, bukan Mamanya. Lagian gak lucu, jika kamu di panggil Mama Gibran!" protes Arya sedikit kesal.
"Loh, bagus kan Mama Gibran. Aku akan menjadi Mama terbaik nanti, jika kalian kerepotan aku bisa bergantian dengan kalian. Asal Dira siapkan ASI, karena ASI aku gak keluar," ucap Gibran cengengesan.
"Nasibmu, Arya. Dapat lekong." Celetuk Seto terbahak-bahak. Namun tak lama setelah itu, Seto mendapatkan hadiah cubitan dari Gibran.
"Awww ... sakit bodoh!"
"Biarin, aku gak perduli!" Mereka pun adu mulut hingga Arya pusing sendiri. Selalu saja begini, gak di Telepon gak bertemu langsung mereka selalu bertengkar.
"Sudah, jangan ribut! Sekarang aku tanya sama kamu Gibran, ada apa kamu datang ke sini gibran? Apa di sana kamu kurang nyaman, atau ada sebab lain?" tanya Arya sambil menyodorkan obat yang harus di minum Gibran. Tadi sebelum masuk ke ruanga, Arya sempat menanyakan apakah dia dapat obat dari tempat rehabilitasi dia.
"Terima kasih, honey Arya," ucap Gibran dengan tersenyum. Setelah itu Gibran meminum obatnya dengan sangat semangat, hingga air yang dia minum tumpah.
"Pelan-pelan, Gibran!" balas Arya dengan geram.
"Jangan marah-marah, Arya. Jika kamu membentak aku terus, sama saja kamu dengan wanita-wanita itu. Terus untuk apa kamu menyelamatkan aku, dan menyuruh aku kuliah sambil menjalani pengobatan." Gibran pun langsung menundukkan kepalanya. Gibran meresa Arya sudah tak menginginkan dia lagi, jadi buat apa dia hidup.
Sedangkan Seto langsung memegang bahu Arya dan memberikan isyarat agar melembutkan suaranya. Walaupun Seto kesal, tapi Seto juga tau perasaan Gibran yang selalu di bully. {Jadi stop bully, seseorang ya guys)
__ADS_1
"Maaf, aku gak sengaja," ucap Arya sangat menyesal. Arya gak bermaksud memarahinya, tapi jika gak di giniin kapan sembuhnya.
"Kamu mengirim aku ke Australia untuk berobat dan kuliah kan, Arya? Kamu juga bilang itu demi aku, agar sembuh total. Tapi nyatanya kamu membuat aku semakin gila di sana, di sana gak ada siapa-siapa, yang ada hanya dokter dan suster. Bahkan mereka sering bilang aku ini gak waras," ucap Gibran mencurahkan isi hatinya.
"Mereka bilang seperti itu?" tanya Seto terkejut. Padahal Arya memilihkan tempat yang sangat bagus, tapi Seto gak menyangka dokter di sana seperti itu.
"Serius, Eto! Aku gak bohong, suer. Mereka hanya memberiku obat saja, tapi aku di larang keluar. Eh, boleh keluar tapi saat aku kuliah saja. Itupun juga di dampingi dua perawat, dan gegara dua perawat itu aku semakin di bully. Katanya orang gila kok kuliah, apa gak habis-habisin uang," ucap Gibran jujur.
Arya benar-benar merasa terkejut dengan semua ini, Arya gak menyangka Gibran menderita di sana. Aplagi Dokter yang merawat Gibran juga gak bilang, jika Gibran akan kembali ke Indonesia.
"Dokter gilak itu, dia makan gaji buta! Padahal Arya selalu mengirim uang untuk keperluan kamu," balas Seto.
"Tunggu, terus kamu kok bisa kesini? Apakah dokter Felix mengizinkan kamu pulang, atau kamu kabur?" tanya Arya sangat curiga.
"He he he, aku kabur. Sebelumnya aku sudah kabur dua bulan, sambil ngurus segala hal aku di tolong Kakek tua. Dia yang membiayai semua kepulanganku, dan memberikan aku uang saku agar gak tersesat," balas Gibran cengengesan. Sedangkan Arya hanya menghembuskan napas kasar, dia benar-benar geram dengan dokter Felix.
Padahal selama dua bulan ini, dia selalu mengirimkan uang bahkan lebih. Arya akan menuntut dokter itu, dan agar dia di hukum seberat-beratnya.
"Ehh, enak saja. Aku udah sarjana, berkas-berkas ada di koper. Aku kan ingin jadi pengacara, jadi aku harus giat untuk membantu orang yang kena body shaming," balas Gibran sangat bangga.
"Gitu baru hebat, ayo semangat jadi pengacara!" Seto pun memberikan semangat pada Gibran. Walaupun dia enek liat gaya sok ke perempuan dia, tapi Seto tetap sayang Gibran.
"Sini, sini aku peluk. Jarang-jarang loh, aku mau peluk kamu. Karena kamu baik hati, maka aku berikan hadiah pelukan." Gibran pu langsung memeluk Seto begitupun Seto, dia membalas pelukan Gibran. Seto bukan jijik, hanya geli melihat tingkah Gibran yang kemayu itu. Jadi terkadang dia ngegas, dengan Gibran.
"Empuk juga, tapi masih nyaman punya Honey Arya," ucap Gibran sangat lirih. Sedangkan Seto langsung tertawa mendengar ucapan Gibran, memang dari segi ukuran badan Seto agak gemuk dikit.
"Sudah pelukannya, aku mau bicara serius sama kamu dulu Gibran. Apa kamu mau melanjutkan terapimu itu, di Indonesia? Tapi aku akan mencarikan seseorang agar kamu merasa nyaman, dan itu harus perempuan," ucap Arya yang membuat Gibran langsung melepaskan pelukan hangat Seto.
"No! Aku gak mau, nanti aku di bully lagi. Perempuan yang boleh dekat denganku, cukup Istrimu saja. Yang lain aku gak mau," balas Gibran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa maksud mu? Ingat aku gak mau istriku di bagi-bagi, Dira hanya milikku dan kamu harus cari wanita lain. Enak saja maunya sama istri orang," ucap Arya sangat kesal.
"Siap yang mau bagi-bagi. Aku maunya wanita yang dekat dengan aku hanya istrimu, bukan orang lain. Maksudnya aku gak mau nambah, nanti aku di bully lagi!" Gibran pun mulai tersulut juga.
"Tetap saja gak boleh! Pokoknya kalau kamu mau tetap di sisiku, kamu harus nurut. Kalau kamu gak mau nurut ya ...." Arya pun menggantung perkataannya. Sedangkan Gibran menatap Arya bingung, namun beberapa menit Gibran sadar apa yang di maksud Arya.
"Iya ... iya aku mau. Tapi aku mohon jangan pulangkan aku, nanti Mamaku bisa marah tau anaknya begini, Pleaseee jangan pulangkan aku. Oke aku mau terapi lagi, tapi jangan suruh aku pulang," ucap Gibran memohon. Dia gak mau orang tuanya tau tentang kebelokan nya, karena mereka belum tau saja sudah acuh bagaimana kalau mereka tau pasti akan di buang.
"Nah begini baru anak baik. Sini aku peluk, tapi hanya peluk jangan cium-cium." Tentu saja gibran langsung kegirangan saat di perbolehkan memeluk Arya, dengan sangat cepat Gibran menghambur ke peluk Arya dan mengendus-endus harum tubuh Arya yang di ciptakan oleh si istri pertama Arya, siapa lagi jika bukan LERVEA.
"Aku sangat merindukan kamu, Honey," ucap Gibran sambil menggesekkan wajahnya di dada bidang Arya.
"Mau aku jitak Kepalamu! Sudah aku bilang hanya peluk, gak usah macem-macem, 🙈"
"Iya maaf"
.
.
.
Happy Reading
...Seto, Arya, Gibran Versi kehaluanku 🙉🙈🙊...
...Jas hitam Bambang Arya, baju putih Abang Seto, yang lagi Galon gak boleh di panggil Mama ya Mama Gibran 🐣...
...Yang Berdua itu Seto&Arya 🙈...
__ADS_1