
Kini Dira dan Sintal sudah sampai di depan rumah keluarga Bramastya, dengan sangat gugup Dira melangkah kan kaki memasuki rumah itu.
Sintal yang tau Dira sedikit gugup, akhirnya langsung menggandeng tangan Dira dan menuntut Dira masuk ke dalam rumah. Saat memasuki rumah Dira melihat ibu-ibu berusia 50an sedang menata makan siang, di meja makan.
Kenapa jantungku berdebar dengan cepat? Aku juga ingin menangis setelah melihat wanita itu, kenapa aku sangat ingin memeluknya? gumam Dira dalam hati.
"Dek kamu, kenapa?" tanya Sintal yang melihat Dira diam dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dira gak tau, tapi Dira ingin menangis setelah melihat ibu itu. Dia siapa, Kak?" sintal pun langsung menoleh ke arah yang di tunjuk Dira. Setelah melihat reaksi Dira, Sintal semakin yakin jika Dira adalah adiknya.
"Dia, Mama Dewi," balas Sintal. Namun tak lama kemudian, Dewi melihat ke arah Sintal dan Dira. Betapa terkejutnya Dewi saat melihat Dira, hingga Dewi menjatuhkan piring yang dia pegang.
Prang....
Dira dan Sintal pun langsung terkejut dengan suara pecahan piring tersebut, sedangkan Dewi berdiri kaku melihat Dira. Tanpa perduli banyak pecahan piring, Dewi langsung berlari menuju Dira hingga kakinya terluka.
"Mama awas ada pecahan, kaca!" teriak Sintal. Namun Dewi tak menghiraukan teriakan Sintal, karena dewi terus berlari dan sekarang berdiri di hadapan Dira.
Sedangkan Sintal sangat khwatir, melihat darah bercucuran di kaki Dewi. Panik? Jelas panik, siapa yang tak panik melihat orang tuanya berdarah-darah.
"Tante kakinya, berdarah," ucap Dira sangat lembut. Namun Dewi tak mendengar itu, Dewi langsung memeluk Dira sangat erat dan menangis sejadi-jadinya.
"Tia kamu pulang, Nak? Kamu pulang, Mama sangat merindukan kamu, kenama saja kamu selama ini? Mama merindukan kamu, Sayang," ucap Dewi Sambil menangis. Sintal yang melihat tangisan Dewi pun juga ikut menangis.
"Terima kasih ya Allah, engkau telah mengembalikan anak ku Tia. Terima kasih," ucap Dewi lagi.
Dira sebenarnya bingung, tapi Dira juga menikmati pelukan Dewi. Pelukan yang sangat hangat, nyaman dan lembut. Dira merasa di peluk ibunya sendiri.
"kamu sehat kan, Nak?" tanya Dewi Sambi memegang pipi Dira.
"baik, Tante," balas Dira sangat lirih.
"kamu lapar gak? Mama tadi buat makanan kesukaan kamu, Mama masih sangat ingat kamu suka sop ayam. Ayuk ikut Mama," Dewi pun langsung menarik tangan Dira dan membawanya ke meja makan. Namun saat Dira di tarik, Dira baru sadar jika namanya buka Tia melainkan Dira.
__ADS_1
"Maaf Tante, tapi Dira buka Tia. Tadi Dira diam, karena Dira ikut terbawa suasana. Saya Dira, Tante bukan Tia." Dewi pun langsung menatap Dira dengan sangat lekat. Ada rasa tak suka, saat Dira memanggil Dewi dengan sebutan Tante.
"Kamu marah sama, Mama?" Dira pun langsung menggeleng. Karena untuk apa marah, kenal saja baru ini.
"Kalau tidak kenapa kamu gak mengakui kalau kamu Tia anak Mama? Kenapa kamu tega sama, Mama," ucap Dewi sambil menangis. Sedangkan Dira menjadi panik, saat Dewi mulai menangis sangat pilu.
"Bukan begitu, Tante. Kak, coba jelaskan," ucap Dira sangat putus asa.
"Bahkan kamu gak mau panggil, Mama. Sintal lihatlah adikmu, dia melupakan Mama, Nak. Adikmu dendam sama Mama, karena tak menemuka dia dulu," ucap Dewi sambil menangis. Karena merasa kasihan, Sintal langsung memeluk tubuh Dewi sangat erat.
"Dira benar, Ma. Dia Dira, bukan Tia. Dia menantu keluarga Wiguna, lebih tepatnya mantan istri Vano Wiguna,"ucap Sintal sangat pelan, takut jika Dewi syok.
"Apa kamu buta Sintal! Dia adikmu, lihatlah matanya sama kaya kamu. Wajahnya juga sangat mirip dengan Mama, Sintal!" ucap Dewi sangat histeris. Sedangkan Dira, langsung meraba wajahnya dan memikirkan apakah mereka sama.
"Apa iya Dira mirip, Tante?" tanya Dira di tengah-tengah pertengkaran, Sintal dan Dewi.
"Iya Sayang, kamu sangat mirip sama Mama. Lihatlah kita bagaikan pinang dibelah dua," balas Dewi.
"Mama bisa kita bicara, sebentar?" Potong Sintal dan tanpa menunggu persetujuan Sintal langsung menarik tangan Dewi, agar orang yang berstatus mamanya itu tenang.
"Aduh!" Dewi pun langsung terduduk melihat kakinya, yang terluka parah.
"Kaki Tante luka, kak. Dan bisa-bisanya kakak menarik tangan Tante, kakak seorang dokter bukan? Lebih tau jika luka tidak cepat di obati akan menjadi infeksi! Jadi sekarang tunggu apa lagi? Cepat cari obat!" gerutu Dira sambil membawa sebaskom air hangat, untuk membersihkan luka Dewi.
"Tante duduklah, biar Dira yang bersihkan luka Tante. Kaki Tante kena pecahan kaca, harus cepat di obati, kalau terlambat bisa gawat," Dewi pun langsung menuruti permintaan Dira. Dengan perlahan Dira membersihkan luka yang ada di kaki Dewi, tanpa ada rasa jijik.
"Lihatlah dia memang Tia, Sintal," ucap Dewi sangat lirih.
****
Brakk...
"Dira!"
__ADS_1
"Dira!"
"Dira!" Panggil Arya tanpa henti. Arya sangat frustasi, dan merutuki kebodohannya itu.
"Kamu benar-benar tak punya sopan santun Arya! Papa sama Mama lagi makan, kamu sangat tak sopan masuk dengan menggebrak pintu," gerutu Ruang, sambil menyuapi Dinda. Sedangkan Dinda tak memperdulikan anaknya itu, dia sudah menyerah dan Dinda lebih asik memakan makanan yang di buat oleh suaminya itu.
"Dira mana, Pa?" tanya Arya sangat khwatir. Bahkan napasnya, sampai naik turun.
"Kamu tanya Dira sama Papa, bukannya Dira pergi ke kantormu dan membawakan makanan. Apa dia belum sampai?" tanya Ryant sedikit bingung.
"Ini semua salah Arya, andai saja Arya gak kelewatan menggoda Dira, pasti kami sudah makan siang berdua, tanpa ada gangguan," ucap Arya sangat frustasi.
"Memang kamu goda, gimana?" tanya Ryant yang penasaran.
"Tadi Arya sengaja bikin Dira cemburu, Arya pura-pura sedang bermesraan dengan Mawar dan Dira langsung pergi, sesudah melihat itu semua," Balas Arya sangat menyesal.
"Sukurin kualat sama, orang tua!" celetuk Dinda tanpa menatap Arya.
"Ma... Arya, sedang serius!" ucap Arya sangat lelah.
"Mama juga, serius!" Balas Dinda acuh tak acuh. Karena merasa terpojok kan, akhirnya Arya kembali keluar untuk mencari keberadaan Dira, dan mengelilingi kota jakarta.
"Jangan terlalu keras sama, Arya," ucap Ryant sambil mengelus lembut rambut Dinda.
"Mama gak akan marah, jika Arya benar. Dia semakin lama semakin melunjak, Pa," balas Dinda. Dan Ryant tak bisa berbuat apa-apa, yang dia bisa lakukan adalah menunggu Dinda luluh.
"Terserah kamu deh, Ma."
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading