
kepanikan masih terlihat di wajah Arman, karena sudah 23jam istrinya belum juga bangun. Dokter bilang jika sampai tepat 24jam, Diah tidak sadar. Maka dia dinyatakan koma, setelah menjalani Operasi Caisar.
Sedangkan anak Arman masih ada di Inkubator, bayi perempuan yang sangat cantik itu belum genap delapan bulan terpaksa harus keluar dari dalam rahim karena sang Ibu mengalami pendarahan hebat.
"Sayang, ayo bangun. Apa kamu gak kasihan dengan Alisya? Dia masih membutuhkan kamu, dan dia juga butuh pelukanmu Sayang. Ayolah bangun, demi Alisya," ucap Arman sambil memegang tangan Diah.
Sebelum Diah masuk rumah sakit. Diah sempat ingin mencuci baju milik dia, dan suaminya. Namun saat di depan kamar mandi, Alvaro keponakan Arman sedang main sabun dan Diah tak bisa menghindari licin nya lantai, hingga berakhir jatuh terduduk.
Diah sempat sadar waktu jatuh, tapi setelah melihat banyak darah yang mengalir begitu saja di area pangkal pahanya, Diah langsung menjerit dan pingsan.
"Sayang, di sini juga ada Dira. Apa kamu gak mau bertemu dia, ayolah bangun. Bukannya kamu sangat merindukan Dira, karena banyak yang ingin kamu bicarakan?" ucap Arman sekali lagi.
"Kata Dira, suaminya juga sakit. Sebenarnya aku ingin menjenguk dia, tapi aku gak tega tinggalin kamu. Aku juga rindu dengan Vano, ingin berkumpul seperti dulu. Jadi ayo kamu bangun, kita sama-sama menengok Vano juga Dira." Arman terus-menerus mengajak Diah berbicara, tapi sayangnya Diah sama sekali tak merespon ucapan Arman.
Setelah itu Arman melepaskan genggamannya karena dokter memanggilnya, dengan terpaksa Arman meninggalkan Diah sebentar.
"Ada apa, Dok?" tanya Arman sangat penasaran.
"Gini, Pak. Bu Diah sepertinya mengalami koma, akibat pendarahan hebat, dan juga terjadi benturan di tulang belakangnya. Hingga menimbulkan gangguan syaraf, dan kelumpuhan. Kita hanya bisa menunggu bu Diah bangun, jika masih belum sadar kita belum bisa memastikan," jelas dokter.
Arman pun langsung mengusap wajah sangat kasar, dia gak habis pikir akan seperti ini. Keponakan sangat bandel, dan ibunya juga seorang janda jadi setiap hari Diah lah yang menemani keponakannya itu.
"Apa gak ada cara lain Dok, untuk menyembuhkan istri saya?" tanya Arman.
"Bisa, tapi kita harus menunggu bu Diah sadar. Semoga saja bu Diah sadar dalah satu jam kedepan, jika tidak, maka bisa di pastikan bu Diah mengalami Koma." Kepala Arman langsung berdenyut kencang, dia gak tau harus bagaimana lagi.
Setelah itu Dokter langsung pamit pergi, dan Arman kembali ke ruangan Diah. Arman pandang istrinya itu, dan berharap dia Bangun saat ini juga.
Bangunlah Diah, aku membutuhkan kamu. Jika kamu seperti ini, Alisya bagaimana? Dia pasti ingin melihat ibunya, apalagi sekarang ini Alisya sedang berjuang hidup di sana. Aku mohon bangunlah, Diah. ~ Arman Setyawan
__ADS_1
......................
Dira berjalan dengan gontai saat memasuki rumahnya. Dira masih memikirkan ucapan Arya, jika Dira tetap dengan pendiriannya, maka Arya melarang Dira menemui Arya.
Kenapa di kepalaku ucapan kak Arya selalu berputar-putar? Aku sudah memutuskan, jadi aku gak perduli lagi dengan ucapannya. Sekarang yang terpenting kesehatan kak Arya, nanti kesehatanku pikir belakang. Aku memang egois, gak memikirkan Baby-twins. Tapi aku lebih memikirkan jika Baby-twins tanpa daddy-Nya, pasti dia akan di ejek teman-temannya nanti karena tak memiliki Daddy. Kenapa kak Arya gak bisa mengerti aku? gumam Dira.
Setelah itu Dira masuk kedalam rumah bersama Angga, sedangkan Angga yang melihat Dira diam saja langsung melontarkan pertanyaan.
"Apakah kamu ada waktu, Tia?" tanya Angga.
Dira pun terperanjat saat mendengar suara Angga. Bahkan Dira langsung menatap bingung pada Angga, karena dia tiba-tiba bicara seperti itu.
"Memangnya kenapa, Pa?" tanya Dira lesu.
"Papa mau bicara saja sama anak Papa, masa gak boleh?" Dira pun langsung tersenyum.
Setelah selesai menidurkan Baby-twins Dira langsung keluar dari kamar, dan menemui Angga. Dira gak tau apa yang akan di bicarakan, tapi yang pasti Angga ingin berbicara dengan Dira.
"Pa, mau minum apa? biar aku buatkan," ucap Dira sambil tersenyum.
"Gak usah, Nak. Tadi Papa sudah minta mbok Ria untuk buatkan teh hangat, kamu duduk saja di sini," pinta Angga. Sedangkan Dira langsung menatap bingung karena Angga bilang minta dengan mbok Ria.
"Maksudnya, Pa?"
"Duduklah, ini Papa mau cerita." Dira pun menurut. Dira duduk di samping Angga, dan tak lama setelah itu datanglah seorang ibu-ibu paruh baya.
"Silahkan di minum, Pak. Maaf lama, soalnya saya belum paham tempat-tempat di rumah ini," jelas mbok Ria.
"Apa maksudnya ini, Pa?" tanya Dira yang masih kebingungan.
__ADS_1
"Tia, Papa bawakan pembantu rumah tangga dari Jakarta. Kamu ini memiliki bayi kembar, dan semua kamu urus sendiri. Hal kemarin jadikan pelajaran, di saat kamu panik gak ada orang sama sekali. Jadi mbok Ria akan membantu kamu di sini, dan Elin juga sudah Papa urus. Dia juga akan tinggal di sini, bersama Pacarnya," jelas Angga panjang lebar.
"Tapi untuk apa pacar Elin tinggal di sini juga?" tanya Dira sekali lagi.
"Karena dia yang akan jadi supirmu, Tia. Namanya Muhammad, dia kekasih Elin. Jadi sekarang kamu gak akan sendirian, kalau bisa Papa ingin kamu kembali ke Jakarta. Disini jauh sanak saudara, dan Papa jadi khawatir." Angga pun langsung membelai lembut rambut Dira.
Dira yang merasa terharu langsung memeluk Angga, dia tak menyangka jika orang tuanya begitu perduli dengan dia. Padahal kemarin sempat Dira berpikir, tak ada yang perduli lagi dengannya.
Tapi sekarang Dira membuang jauh-jauh pikiran itu, dan menyesal telah berpikir seperti itu. Dira menangis tersedu-sedu di pelukan Angga, bahkan terdengar sangat pilu.
"Terima kasih, Pa. Tia sangat berdosa karena sempat meragukan Papa, dan yang lainnya. Dira menyesal, Pa." Dira terus meraung di pelukan Angga.
Tak terasa air mata langsung menetes di pipi Angga, saat mendengar anaknya berkata seperti itu. Bahkan mbok Ria juga ikut menangis, melihat Dira yang meminta maaf pada Angga.
Memang seburuk-buruknya orang tua, dia gak akan pernah tega melihat anaknya menderita. Seberapa sering anaknya itu berbuat salah, tapi orang tua selalu menjadi garda terdepan demi melindungi sang anak. Dari sini aku bisa melihat, jika pak Angga sangat-sangat menyayangi nona Tia. gumam mbok Ria sambil menangis.
Setelah itu mbok Ria memilih pergi meninggalkan Dira, dan membiarkan kedua orang itu melepaskan rindu yang selama beberapa bulan ini terbendung.
......My Spoiled Family......
...By. Nunuk Pujiati...
.... ...
.... ...
.... ...
...Mau tes dong, sampai tidak 200 like?🤔 Jika sampai, aku akan crazy up 4 episode 🏃♀️...
__ADS_1