
"Apa kamu serius, Kak? Apakah kamu mau melepaskan semua fasilitas Ardi, apakah kamu gak mau memberikan kesempatan untuk Ardi?" tanya Dira saat mereka sudah masuk kedalam kamar.
Dira sedang memijit kepala Arya, karena Arya mengeluh sakit kepala. Mungkin karena memikirkan nasib Raya, yang harus menikah dengan orang yang belum Raya kenal.
"Iya, aku yakin. Ardi sudah keterlaluan, aku selama ini diam bukan berarti aku gak memperhatikan sikap Ardi. Tapi, karena memang aku ingin melihat sampai mana dia berbuat seperti ini." Dira akhirnya tak bisa berkata-kata.
Jika Arya sudah berkata, maka dia gak akan pernah merubahnya. Yang bisa Dira lakukan hanya satu, mendukung anak-anaknya dalam menjalani hidup ini.
"Jangan pikirkan Ardi, dia sudah besar. Dia pasti bisa mandiri, semoga saja dengan aku bersikap kerasa. Ardi bisa terbuka pikirnya, dan berubah menjadi dewasa," ucap Arya sambil memeluk Dira.
Dira hanya mengangguk saja, dan membalas pelukan Arya. Dira yakin apa yang di lakukan Arya, pasti baik untuk ke depannya.
***
"Kak, kamu yang sabar ya? Aku yakin kamu pasti bisa, karena kamu orang yang kuat. Pokoknya semangat terus," ucap Alisya sambil membantu Ardi membereskan pakaiannya.
Hari ini juga Ardi akan tinggal di satu desa terpencil, dan akan menjalani hidup jarak jauh dengan Alisya. Walaupun berat hati, tapi Ardi harus melakukan ini, karena memang ini sudah keputusan Arya.
"Kita gak akan pernah bertemu lagi, Al. Jarak kita sangat jauh, dan mungkin kita akan terpisah." Ardi pun langsung memeluk Alisya.
"Kak ... ingat, hubungan LDR itu sebenarnya bisa di jadikan pengujian cinta kita loh. Kita jalanin saja semua, jika memang Tuhan mempersatukan kita, maka sesulit apapun rintangannya pasti kita akan bersatu." Alisya terus saja membuat Ardi percaya akan hubungan jarak jauh ini. Sedangkan Ardi masih merasa ragu. Apakah dia bisa bertahan, dalam menjalani hubungan ini.
"Aku gak tau, Al. Seandainya Daddy mengizinkan kita menikah, mungkin kita gak akan berpisah. Pokoknya Daddy keterlaluan, aku benci sama Daddy!" teriak Ardi yang langsung di stop Alisya dengan tangannya.
__ADS_1
"Ehh, gak boleh gitu Kak. Ingat apa yang di ucapkan Om tadi ada benarnya, kamu selama ini gak bisa bersifat mandiri. Bukan aku gak mau menikah dengan kamu, Kak. Tapi, memang benar, menikah bukan hanya hidup bersama. Tapi, kita juga harus punya tabungan. Mumpung kita masih muda, kita lebih baik menempuh pendidikan lebih tinggi lagi. Siapa tau, setelah kita lulus kuliah nanti, kita bisa sukses," ucap Alisya sekali lagi.
Alisya sebenarnya ingin menikah dengan Ardi, tapi saat mendengar nasehat Arya. Alisya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya terlebih dahulu, lagian mereka juga masih muda, dan lebih baik menikmati hidup terlebih dahulu.
"Baiklah jika itu maumu, tapi kamu janji jangan pernah berpaling dariku." Pinta Ardi sambil memandang Alisya.
"Aku janji, Kak. Aku juga minta kamu jaga hati, jangan sampai ada orang ketiga di dalam hubungan kita nanti. Sampai bertemu lima tahun lagi, dan aku harap kamu sudah bisa hidup mandiri saat kita bertemu nanti." Ardi mengangguk dengan cepat.
Setelah itu mereka kembali menata baju Ardi. Alisya dengan telaten membantu Ardi, dan mungkin nanti dia juga akan ikut ke desa yang Ardi akan tinggali.
***
Alena : Van, kamu di mana?
Vano : Aku di luar, Len. Ada apa!
Vano pun menghembuskan napas sangat kasar. Baru saja dia keluar rumah, dan nongkrong dengan teman-temannya, tapi Alena sudah menghubunginya.
"Lo kenapa, Van? Jangan bilang Alena nyariin lo lagi, ahh gak asik lo Van!" seru Anton.
Anton sangat kesal dengan Alena, karena setiap Vano pergi dengannya selalu saja mengganggu. Padahal mereka harus latihan bulu tangkis, untuk mengikuti lomba antar sekolahan nanti.
"Iya, Alena tanya apakah aku pergi dengan Lessy," jawab Vano sangat cepat.
__ADS_1
"Van, bukannya gue ngelarang lo ya. Tapi, kita ini di pilih untuk mewakili sekolah kita. Aku mohon jangan bikin kecewa kepala sekolah, karena ini juga demi membanggakan nama sekolah kita." Kini Azri yang bersuara.
Mereka sebenarnya sayang dengan Vano, hanya saja mereka kesal dengan sikap Alena yang selalu melarang Vano kemana-mana.
"Iya, ini aku bilang lagi latihan. Kalian tenang saja, aku bisa kok fokus lomba ini." Setelah berkata Vano kembali membalas pesan Alena.
Vano : Len, aku gak pergi dengan Lessy. Aku ada latihan, kamu tau sendiri kan jika aku ada lomba. Jadi jangan ganggu dulu ya, aku mau fokus. Anak-anak sudah marah ini.
Begitulah isi pesan Vano. Setelah membalas, Vano langsung mematikan ponselnya dan kembali pada teman-temannya. Vano sengaja mematikan ponselnya, karena Vano yakin Alena pasti akan membalas dengan menghubungi dirinya.
.
.
.
Happy Reading.
Jangan lupa Mampir ke cerita Mahen & Raya
Judul : Mendadak Nikah
Napen : Kolom Pena
__ADS_1
Setiap hari update