Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 23


__ADS_3

Setelah berhasil di usir Dinda, Arya kini sudah sampai di depan gedung tinggi yang Fani tinggali. Arya duduk di dalam mobil dan menyiapkan mental, untuk mengungkapkan semua niatnya.


Jika di tanya siapkan Arya mengatakan semuanya? Jawabannya adalah tidak, karena memang Arya belum memiliki bukti akan ancaman Fani ke Dira dan kejadian beberapa minggu yang lalu, di mana Arya bangun sudah ada di sebelah Fani.


"Sebenarnya jika ada bukti, baru aku bisa punya alasan tepat. Kalau aku sekarang memutuskan Fani, tanpa ada bukti dia pasti akan ngamuk," gerutu Arya sambil memutar-mutarkan ponsel yang dia pegang.


Arya semakin bingung dan pusing. Di satu sisi, Arya belum memiliki bukti dan disisi lain Dinda yang selalu memaksa Arya untuk memutuskan Fani walaupun tanpa adanya bukti. Bahkan Arya juga sering di buat kualahan dengan sikap Dinda yang suka terburu-buru, tanpa mempertimbangkan semuanya.


"Sayangnya, mama adalah orang tuaku. kalau bukan udah aku Cemplungin kedasar jurang, bisanya hanya marah-marah gak memikirkan anaknya yang sedang bingung cari bukti." Omel Arya sekali lagi. Namun tak lama setelah itu, Arya langsung sadar jika dirinya sedang menjelek-jelekan sang ibu.


"Tunggu, tunggu. Aku bicara begini, dosa gak ya? Apa aku sudah masuk dalam golongan anak durhaka, karena menjelek-jelekkan orang yang sudah melahirkan aku di dunia ini? Waduh jika iya, aku tarik ucapanku tadi. Mama maafkan anakmu ini, Arya hilap," gerutu Arya terus menerus. Namun tak lama setelah itu, Arya langsung turun dari mobil dan bergegas memasuki gedung tinggi itu guna menemui Fani, di apartemennya.


Lantai demi lantai akhirnya di lewati Arya dengan menaiki lift, hingga dentingan lift berhenti di lantai 7. Arya pun langsung keluar dari lift dan menuju kamar Fani, tanpa tunggu lama Arya langsung masuk tanpa memencet bel.


Cklek...


Fani yang saat ini sedang menonton TV langsung menoleh ke arah pintu, saat mendengar seseorang masuk kedalam. Berbunga itu yang Fani rasakan karena melihat Arya datang ke apartemen, setelah berhari-hari menghilang.


"Sayang!" Fani langsung turun dari sofa, dan berlari menghambur kepelukan Arya. Sedangkan Arya merasakan ada yang berbeda dari dirinya. Saat Fani memeluk tubuhnya, Arya merasakan risih dan ingin menyingkirkan tubuh Fani secepatnya.


"Fan, bisa biarkan aku duduk dulu?" ucap Arya lirih.

__ADS_1


"Oh iya, ayo kita duduk. Aku sangat merindukan kamu Arya, jadi maaf jika langsung menyerangmu," jawab Fani malu-malu. Bahkan Arya melihat mata Fani sangat berbinar saat melihat kedatangannya, dan itu membuat Arya bingung.


Astaga, kenapa aku jadi gak tega mau mutusin Fani ya? Masalahnya disini Fani tak punya salah apa-apa, bahkan hubungan kita baik-baik saja. Aku harus bagaimana ini?" gumam Arya dalam hati.


"Kamu mau minum apa, Arya? Biar aku buatkan sesuatu, kamu pasti capek habis pulang," tanya Fani sambil tersenyum. Makin bertambah lah itu rasa bersalah Arya, walaupun dia mantap menikahi Dira tapi, dia juga butuh alasan untuk memutuskan sebuah hubungan.


Keputusan ceroboh! Apa aku cari dulu bukti-bukti kejahatan Fani, dan setelah itu aku bisa bebas sama dia. Kalau sekarang aku putuskan hubungan ini, jelas nanti Dira yang akan menjadi sasaran Fani. Karena menganggap Dira adalah pelakor, dalam hubungan kami. ucap Arya dalam hati.


"Arya!" panggil Fani saat Arya tak menjawab pertanyaan-nya.


"Haa?" Fani pun menghela nafas dengan gusar. Fani sadar betul jika pikiran Arya tak ada di sini, tapi dengan cepat Fani mengontrol emosinya karena dia sadar. Jika, hubungan mereka terancam punah.


"Kamu mau minum apa, Sayang!" ucap Fani sekali lagi. Bahkan Fani memoleskan sebuah senyum yang terpaksa.


Sedangkan di tempat lain, Dira sedang melamun sendiri sambil duduk di depan teras rumah. Dira merasa kesepian saat Arya kembali ke Jakarta, bahkan kini Dira merutuki kebodohannya yang tak meminta nomor telepon Arya.


Aish... Kenapa aku bodoh sekali, kak Arya berada di sini selama hampir tiga hari, tapi aku tak meminta nomor ponselnya. Sekarang aku gak bisa menghubungi kak Arya, ahh bodoh bodoh kamu Dira." gerutu Dira dalam hati. Bahkan Dira sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mbak Dira belum tidur?" tanya Pras. Sedangkan Dira langsung melotot saat mendengar suara Pras. Dengan sangat cepat Dira menoleh kebelakang, dan menemukan keberadaan Pras.


Plakkk

__ADS_1


"Aduh," pekik Pras saat di pukul Dira.


"Sakit kan! Siapa suruh kamu bocor tentang keberadaanku disini, bukannya aku sudah bilang jangan kasih tau kak Arya?" ucap Dira dengan melotot.


"Maafkan saya, mbak Dira. Saya lakukan ini demi keluarga saya, karena Tuan Arya mengancam akan memecat saya dan mencabut semua fasilitas sekolah adik saya. Sekarang saya ikhlas, mau mbak Dira apakah. Bunuh pun tak apa-apa," balas Pras dengan menyerahkan diri.


Dira pun menatap kesungguhan dari mata Pras, rasa menyesal pun mulai menggerogoti hatinya yang lembut. Tapi, Dira masih bisa berfikir jahil dan ingin memanfaatkan kepolosan Pras.


"Baiklah, aku akan maafkan kamu jika mau menuruti perintah yang aku suruh," ucap Dira dengan tersenyum licik.


"Apapun akan saya turuti, dan sebisa mungkin akan saya tepati," jawab Pras sungguh-sungguh.


"Baiklah, aku ingin kamu telfon kak Arya dan bilang sama dia. Kalau aku sedang menangis, karena seseorang. Dan kamu juga harus bilang, kalau aku mogok makan. Gimana, mau gak?" Tantang Dira dengan sangat. Dira sangat ingin tau, gimana reaksi Arya jika di beri kabar seperti itu.


"Tapi..."


"Gak ada tapi tapian, mau atau gak!" potong Dira dengan melotot. Pasrah itu yang dilakukan Pras, karena gak mau membuat kecewa seorang Dira akhirnya dia mau menuruti permintaan konyol orang yang Pras cintai.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading


__ADS_2