Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - My Spoiled Family : Kehilangan


__ADS_3

"Ungghh ...." Dira pun melengguh saat mulai tersadar dari pingsannya.


"Tia kamu sudah sadar, Nak?" tanya Dewi Sangat bahagia.


Dewi sempat khwatir karena Dira pingsan hampir 2 jam lamanya. Dewi sempat berpikir tidak-tidak, saat Dira tak kunjung bangun.


"Kepalaku sakit, Ma. Aku juga mual, rasanya gak enak. Mulutku sarannya pahit, seperti habis mengunyah obat," ucap Dira sangat lirih.


Sedangkan Dewi hanya tersenyum lembut. Dewi sangat paham bagaimana rasanya orang hamil, apalagi usianya masih muda.


"Itu wajar, Sayang. Memang hamil pertama kamu gak pernah seperti ini?" tanya Dewi sangat lembut.


"Dulu Tia doyan makan, apapun masuk. Eh ... tapi kenapa Mama tanya seperti ini?" tanya Dira penasaran.


"Tia, apa kamu sudah haid?" tanya Dewi basa-basi. Dewi gak mau Dira kaget tentang kehamilannya ini.


"Belum, Ma. Tapi memang aku belum dapat haid dua bulanan, dan setelah melahirkan aku baru dapat haid tiga bulan lalu," balas Dira.


"Oh ...."


"Memangnya kenapa sih, Ma?" tanya Dira yang semakin penasaran.


Dewi pun membalas Pertanyaan Dira dengan tersenyum, dan setelah itu Dewi mendaratkan tangannya di atas perut Dira.


"Gak papa, Sayang. Hanya saja di sini ada kehidupan lagi, dan baru saja berusia 8 minggu," balas Dewi Sambil tersenyum lembut.


Kaget, itu yang di rasakan Dira. Dira sengaja gak percaya dengan ucapan Dewi, dan menganggap ini hanya lelucon belakang.


"He he he, Mama gak usah ngelucu deh. Gak mungkin Tia hamil, kita saja baru sekali melakukan itu. Sudah jangan bahas ini, aku mau melihat kak Arya dulu." Sangkal Dira sambil menyebabkan selimut yang ada di tubuhnya.

__ADS_1


"Mama serius, Tia. Kalau gak percaya, ini ada hasil USG dari dokter. Saat kamu pingsan, dokter sempat melakukan USG untuk memastikan segalanya dan memang benar kamu hamil anak ke dua," ucap Dewi yang membuat Dira membeku.


Dira langsung mengambil buku kecil yang ada di tangan Dewi. Dengan seksama Dira membaca hasil itu, dan tanpa sadar Dira meneteskan air mata.


"Ini gak bohong kan, Ma?" tanya Dira dengan suara bergetar.


"Gak, Sayang. Kamu sekarang sedang mengandung anak Arya lagi, dan kamu sama sekali gak menyadari itu."


Dira pun semakin menangis. Dira melupakan segalanya karena terlalu fokus dengan Arya, bahkan Dira juga lupa, sesudah melakukan hubungan dengan Arya gak langsung meminum pil KB.


"Aku mau ke ruangan kak Arya. Aku mau kasih tau dia, barangkali kak Arya sadar setelah tau aku hamil lagi," ucap Dira sambil menghapus air matanya.


Dewi hanya mengiyakan ucapan Dira, dan membantu Dira berdiri. Sebenarnya Suster menyuruh Dira pakai kursi roda, tapi Dira menolak itu.


Dengan langkah tergesa-gesa, Dewi juga Dira menuju ruang ICU. Sedangkan Angga belum juga kembali dari kantin bersama Baby-Twins, dan juga Elin serta Mbok Ria.


"Ada apa, Bu?" tanya Suster yang baru saja keluar.


"Sus, suami saya kemana?" tanya Dira sangat panik. Dira sudah berpikir yang tidak-tidak tentang kondisi Arya, saat melihat ruang ICU kosong.


"Oh pak Arya?"


"Iya, siapa lagi jika bukan Arya!" balas Dira sangat ketus.


"Pak Arya sudah di pindah ke rumah sakit lain, dan yang membawa pergi ibu Dinda," balas Suster itu.


"Apa!"


Dira langsung terkejut mendengar ucapan Suster. Dira gak menyangka jika mertuanya akan setega ini, dan membawa Arya tanpa pamit.

__ADS_1


"Sus, apakah ini serius?" tanya Dewi sambil memompang tubuh Dira. Entah kenapa tubuh Dira langsung lemas saat mendengar kenyataan itu, dan tak ada semangat hidup lagi.


Dira merasa sangat kehilangan saat ini, apalagi dengan kondisi dia sedang berbadan dua. Dira sangat marah dengan Dinda, yang seenaknya membawa suaminya.


"Saya serius, Bu. Bahkan sudah dua jam yang lalu pak Arya di pindahkan, oleh bu Dinda," jelas Suster sekali lagi.


Setelah itu Suster tersebut pamit undur diri, dan masuk kedalam. Sedangkan Dewi berusaha menuntun Dira untuk duduk di kursi, karena semakin lama tubuh Dira semakin merosot.


"Tia kamu harus sabar, Nak. Kita akan cari Arya, kamu harus tenang." Dira sama sekali tak menjawab ucapan Dewi.


Yang Dira tau saat ini dia kehilangan suaminya. Air mata terus-menerus jatuh, hingga tanpa mereka sadari ada darah yang mengalir deras dari pangkal paha Dira.


"Akkhh ...." pekik Dira saat merasakan sakit yang luar biasa.


"Kamu kenapa, Tia?" tanya Dewi sangat panik.


"Sakit ...."


Dengan sangat panik Dewi melirik ke bawah, dan bertapa terkejutnya Dewi saat melihat banyak darah.


"Ya Allah, Tia!"


.


.


.


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2