Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Beast Brother's : Alena Yang Menyebalkan


__ADS_3

Di salah satu sekolah ternama di kota Jakarta. Vano berjalan masuk kedalam, dengan Alena yang membuntuti dirinya dari belakang. Vano sangat kesal dengan Alena, yang tak mau lepas sama sekali.


Tapi, lagi-lagi Vano ingat dengan ucapannya Mommy-Nya. Jika Vano harus menjaga Alena, sampai kapanpun. Karena tanggung jawab Alena, ada di tangan Vano. Itulah kata-kata yang selalu terniang di kepalanya, sampai saat ini.


"Vano, tungguin Alena," ucap Alena sambil berlari kecil.


Alena sangat kualahan mengikuti jejak Vano yang sangat cepat. Hingga membuat Alena berlari lebih cepat, untuk mengikuti langkah Vano.


"Ihhh, nyebelin! Vano jahat, gak mau dengerin Alena!" Alena merajuk dan menghentikan jalannya.


Bahkan Vano mendengar isakkan kecil dari mulut Alena, dan membuat Vano menghentikan langkahnya untuk melihat Alena.


"Astaga! Selalu menangis, bikin emosi saja kamu itu! Ingat kamu sudah SMA loh, Lena. Tapi kenapa sikapmu masih seperti ini, bikin kesal saja!" bentak Vano hingga membuat Alena semakin menangis.


Hiks ... hiks ... hiks ....


Vano semakin kesal, hingga mengacak-acak rambutnya sendiri. Vano tak suka dengan sikap Alena yang seperti ini, tapi Vano tak bisa melihat tangisan Alena.


Vano menghembuskan napasnya sangat kasar, dan setelah itu Vano mendekati Alena. Vano memegang dagu Alena, dan sedikit mendongakkan kepala Alena.


"Jangan nangis lagi, ayo masuk kelas. Ini sudah siang, kamu gak mau di hukum kan?" tanya Vano sangat lembut.


Tentu pertanyaan Vano langsung di jawab anggukan oleh Alena, karena dia juga gak mau di hukum gurunya hanya karena terlambat masuk kelas.

__ADS_1


"Kalau gitu ayo masuk, dan jangan berlama-lama di sini." Vano pun membalikkan badannya untuk bergegas pergi. Namun, baru saja dua langkah Alena membuat emosi Vano semakin naik.


"Alena mau di gandeng, masa kamu gak mau gandeng Alena. Kan kit ...." Belum selesai Alena berbicara, tapi Vano sudah membungkam mulut Alena.


"Emmpptt ...." Alena terus meronta-ronta, saat mulutnya di bungkam.


"Sudah ku katakan berapa kali, jangan pernah bahas hubungan kita di publik. Apa kamu mau aku marah, atau kita mau pu ...."


"Gak! Alena gak mau dengerin kata-kata itu, iya Alena janji gak akan pernah keceplosan lagi. Maafkan Alena, ya?" Alena terus memohon.


Vano pun hanya membalas dengan senyum doang pada Alena, dan setelah itu mereka berdua berjalan beriringan. Alena sangat ingin di gandeng, tapi nyatanya itu gak akan pernah terjadi karena vano tak pernah suka dengan kejadian itu.


***


Jauh di tempat lain. Raya sedang memasuki gedung perkuliahan seorang diri. Jangan tanyakan kemana Ardi, karena di sedang bucin bucinnya dengan Alisya anak dari sahabat Dira.


"Ck ... saudara gak guna! Seharusnya antar dulu ini adeknya, bukan malah bucin mulu yang ada di otaknya!" gerutu Raya terus memasuki gedung.


Brukkk ....


Raya pun terpental, saat seseorang menabrak dirinya. Sungguh Raya ingin mengumpat, dan memaki orang yang tanpa perasaan menabrak dirinya.


"Brengsek! Punya mata gak sih, lo! Buat apa punya mata, jika gak lo pakek. Apa badan gue kurang gede, untuk nampak di mata lo?" Maki Raya.

__ADS_1


Beginilah sikap Raya.Jahat, jutek, suka marah-marah. Sifatnya sangat jauh dengan orang tuanya, tapi jika di pikir-pikir sikap Raya seperti Almarhuma Dinda.


"Maaf, saya gak sengaja. Sekali lagi saya minta maaf, bagaimana kalau aku traktir untuk menebus kesalahan saya?" tawar lelaki itu. Namun bukan Raya namanya, jika dia akan girang jika di tawarin gituan.


"Ogah! Gue bukan cewek matre, yang gampang luluh karena traktiran. Sana cepat minggir, gue mau masuk kelas. Bikin badmood saja!" Raya pun menabrak tubuh kekar lelaki itu dan pergi begitu saja. Namun Lelaki yang menabrak Raya, bukannya kesal namun semakin tertarik.


"Maaf, Nona. Kita belum berkenalan, namaku Mahen. Namamu siapa?" teriak Mahen sangat kencang.


Raya pun menoleh kebelakang untuk melihat Mahen. Setelah itu, Raya membalas ucapan Mahen dengan senyuman licik.


"Nama gue, Pimoy!"


Setelah itu, Raya langsung pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan-pesan percakapan. Padahal Mahen ingin sekali berkenalan dengan Raya, tapi sayangnya Raya gak mau berkenalan dengan Mahen.


"Pimoy? Nama yang unik."


Mahen pun senyum-senyum gak jelas di Koridor kampus. Mahen merasa sangat tertarik dengan Raya, karena Mahen melihat sosok yang kuat di diri Raya. Buka seperti wanita-wanita lain, yang selalu manja, kekanak-kanakan.


Setelah puas membayangkan kecantikan Raya. Mahen langsung pergi meninggalkan Koridor, dan kembali ke tunjuan awalnya.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading


__ADS_2