Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 28


__ADS_3

"Bodoh, kamu Arya! Bagaimana bisa kamu membiarkan Fani menyentuhmu, ingat Dira yang sedang menunggumu disana!" gerutu Arya sambil menarik kencang rambutnya. Setelah itu Arya langsung mencuci muka, dan berusaha mengendalikan emosinya.


"Kamu bisa, Arya! Ayo berjuang demi Dira, ingat ini demi Dira!" ucap Arya menyemangati dirinya sendiri. Namun tak lama setelah itu, ponsel Arya berdering sangat kencang hingga membuat Arya terkejut. Dengan gerakan cepat, Arya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.


"Dira," lirih Arya. Setelah itu Arya langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Sayang," ucap Arya sangat lembut.


"Hallo, Kak." jawab Dira lesu.


"Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu sakit, atau apa?" tanya Arya yang khawatir. Terdengar suara helaan napas, yang sangat berat di sebrang sana dan Arya tau jika Dira sedang tidak baik-baik saja.


"Sayang?" Panggil Arya sekali lagi.


"Kak."


"Iya, Sayang." Kini Arya mulai takut, karena tak bisanya Dira seperti ini. Ingin sekali Arya mengumpat keras, agar Dira cepat berkata tanpa berbelit-belit.


"Kak, aku rindu. Kakak selalu membohongi Dira, katanya setiap seminggu sekali akan ke Malang. Tapi, ternyata sampai sebulan kak Arya belum ada tuh kesini."


Damm... Skakmat Dira langsung jujur jika dirinya sangat merindukan Arya, bahkan Dira juga mempermasalahkan janjinya yang seharusnya datang seminggu sekali namun di urungkan Arya karena Fani selalu membuat dia sibuk, dengan dirinya.


"Dira..."

__ADS_1


"Iya, aku tau aku memang wanita simpan. Jadi tak seharusnya aku bilang rindu, dan mengharapkan kehadiran Kakak. Maaf kalau gitu, Dira mau siap-siap jualan dulu. Sampai nanti." Dira pun langsung mematikan ponselnya sebelum Arya menjawab ucapannya, sungguh Arya merasa sangat bersalah telah menggantung Dira.


Dengan cepat Arya menghubungi Dira kembali, namun usahanya sia-sia karena Dira sudah mematikan ponselnya.


"Sial!"


Dengan cepat Arya keluar dari kamar mandi, dan bergegas mengakhiri hubungannya dengan Fani. Walaupun Arya belum mendapatkan bukti tentang kelakuan Fani, tapi Arya benar-benar sudah muak dengan semuanya.


"Arya bisa jelaskan, kenapa kamu membentak ku tadi? Apa aku salah jika menginginkanmu, aku ini kekasihmu Arya! Apa salah aku meminta hak ku?" cecar Fani saat melihat Arya keluar dari kamar mandi.


"Apa kamu bilang tadi? Hak? Kita hanya kekasih Fani, bukan pasangan yang sudah menikah! Andai kamu tau, sampai sekarang kejadian malam itu belum bisa ku ingat. Bahkan aku juga sudah menganggap kejadian malam itu tidak pernah terjadi," balas Arya tak kalah keras dari Fani. Sungguh Fani sangat terkejut dengan ucapan Arya, bahkan Fani juga merasakan sakit di hatinya saat Arya berkata seperti itu.


"Terus selama ini kamu anggap aku apa, Arya? kita bahkan sudah tidur bersama, dan kamu juga menikmati tubuhku saat itu. Bagaimana bisa sekarang kamu bilang, ini tak pernah terjadi!" tanya Fani dengan tubuh bergetar.


"Kamu menuduhku menjebakmu, Arya?" tanya Fani dengan memicing kan matanya. Sebenarnya Fani sangat takut jika Arya sadar, yang melakukan itu bukan dirinya melaikan Rangga.


"Aku tidak menuduhmu Fani! Aku hanya masih ragu. Jika memang aku melakukannya, pasti aku akan merasakan walaupun hanya sedikit saja. Tapi aku sama sekali tak ingat apapun, apalagi sampai merasakan hubungan berasamu!" ucap Arya sekali lagi. Sedangkan Fani dia mulai bingung, dan harus mencari alasan agar Arya tak mengucapkan perpisahan.


Aku harus cari cara agar Arya tetap bersamaku! Walaupun bukan Arya yang mengambil semua yang ku miliki, tapi aku benar-benar gak mau kehilangannya Arya. gumam Fani dalam hati.


"Kamu memang gak sadar tapi, aku sadar Arya! Kamu yang memulai semuanya, hingga aku merelakan kesucianku. Iya memang waktu itu, ada seseorang yang memukulmu sampai pingsan dan aku mulai panik, hingga aku meminta bantuan sama seseorang untuk membawamu ke hotel. Tapi saat kamu sadar, kamu dalam keadaan mabuk dan kamu mengajak aku melakukan itu Arya!" kilah Fani. Sekuat tenaga Fani membuat Arya mengingat kejadian, yang memang tak pernah Arya lakukan.


"Sudahlah aku gak mau membahas ini lagi, niat ku kesini hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu Fani. Maaf karena sudah mengecewakanmu tapi, aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini saja. Aku tak bisa melawan kehendak mama dan amanah vano, jadi maafkan aku kita sampai disini saja," ucap Arya dengan tegas. Sedangkan Fani langsung menggelengkan kepala, karena tak percaya dengan ucapan Arya.

__ADS_1


Sakit itu sungguh sakit, disaat Fani sudah menyerahkan hatinya. Arya tiba-tiba memutuskan hubungan demi orang lain, dan itu adalah Dira mantan adik iparnya.


"Gak mau! Aku gak mau kamu mengakhiri hubungan kita, bagaimana mungkin kamu menikah dengan Dira tanpa ada cinta. kamu hanya mencintai aku Arya, dan kamu pernah bilang itu kan? Aku cinta pertamamu," teriak Fani sambil menangis sekencang kencangnya.


Andai kamu tau, Fan. Kamu adalah orang kedua yang ada di hidupku, bukan kamu cinta pertamaku. Tapi Serlin lah cinta pertamaku, sekaligus orang yang telah meninggalkan aku di hari pernikahan. gumam Arya dalam hati.


"Sungguh maafkan aku, aku tak bisa melanjutkan semuanya Fani. Aku harap kamu bisa menemukan orang yang lebih baik dariku, yang bisa mencintai kamu setulus tulusnya," jawab Arya lirih. Fani sungguh tak terima dengan ucapan Arya, Fani kecewa, Fani murka, Fani sangat muak dengan ucapan Arya.


"Tidak! Aku tidak mau berpisah, aku gak mau berpisah Arya! Jika kamu memang ingin aku berubah, oke aku akan berubah bahkan melebihi Dira. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, aku gak mau Arya," teriak Fani sambil memohon. Hingga tanpa sadar Fani kini sudah memeluk kaki Arya, dan bersujud agar Arya mencabut keputusannya.


"Maaf Fani, ini sudah keputusan yang aku pilih. Maafkan aku jika selama ini aku tak pernah membuat kamu bahagia." Setelah mengucapkan kata perpisahan, Arya langsung bergegas meninggalkan apartemen Fani. Namun belum juga Arya melangkah jauh, Arya mendengar suara Fani yang merintih kesakitan.


"Arya, perutku sakit," ucap lirih Fani. Sedangkan Arya yang mendengar suara Fani berbeda, langsung membalikkan tubuhnya dan melihat Fani sudah pingsan dengan linangan darah yang terus mengalir dari area pangkal paha Fani. Terkejut itu yang dirasakan Arya, dengan sangat cepat Arya berlari menghampiri Fani dan membawanya ke rumah sakit.


Panggilan demi panggilan agar Fani sadar, ternyata sia-sia. Karena Fani sudah tak sadarkan diri, saat merasakan sakit yang amat luar biasa di area perutnya.


.


.


.


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2