
Sesampainya di rumah sakit, Dira langsung berlari menuju ruang UGD sambil berteriak minta di tolong. Dengan sangat cepat petugas UGD membawa brangkar pesakitan, dan membantu Arya keluar dari dalam mobil.
Sedangkan Dira mengambil kereta dorong milik Ardi, dan menaruh anak lelakinya di sana. untuk barang-barang, dia taruh bawah kereta dorong Ardi.
"Pak, tolong parkirin mobil saya. Saya mohon, ini kuncinya. Saya mau melihat anak saya dulu," ucap Dira dengan memohon.
"Baik, Bu." Dira pun tersenyum lega saat Security mau membantu dirinya. Dira pun memberikan kunci mobilnya, dan tanpa tunggu lama dia langsung masuk kedalam untuk mendaftarkan Arya.
"Mbak, kalau bisa anaknya jangan di bawah ya? Di sini area terlarang untuk bayi, takutnya mereka terkena Virus, atau penyakit lainnya." Tegur salah satu Dokter yang tak sengaja melihat Dira.
"Gak bisa, Dok. Mereka gak ada yang jaga, jadi saya bawa kesini juga," jawab Dira.
Sepenuhnya Dira sadar jika rumah sakit tempatnya penyakit, apalagi Babby-twins masih berumur 7 bulan. Tapi dia gak punya pilihan, Elin juga gak ada, di tinggal di rumah sendiri juga gak mungkin.
"Apa gak ada sanak saudara gitu, Bu. Biarkan mereka bersama Saudara ibu dulu, kan biar aman," jelas Dokter sekali lagi.
"Emm ... itulah masalahnya, Dok. Keluarga saya ada di Jakarta semua, sedangkan saya dan suami tinggal di perumahan xxxx." Dira menjawab sambil menundukkan kepala.
Dokter muda itupun langsung menghembuskan napas kasar, dia merasa kasihan dengan Dira karena jauh dari keluarga.
"Ya sudah, tapi kalau anak Ibu terpapar Virus, itu bukan salah kami ya? Karena ibu yang memaksa untuk membawa mereka." Dira hanya menganggukkan kepala, dan kembali mengurus administrasi.
***
Tak terasa Arya sudah di tangani lebih dari tiga jam, Dira yang ada di ruang tunggu UGD sampai panik menanti kabar dari suaminya. Sejenak Dira melihat Babby-twins yang tertidur lelap, di gendongannya dan yang satunya tidur pulas di kereta dorongnya.
Dira juga sempat menghubungi Elin untuk datang ke rumah sakit, karena Dira merasa kualahan. Tapi sayangnya Elin bilang bisanya jam 6 pagi datang menjemput Babby-twins, karena dia gak berani keluar rumah sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul 01:22 dini hari, dokter juga belum terlihat keluar ataupun memanggilnya. Dira takut Arya kenapa-napa, apalagi dia melihat Arya sangat kesakitan tadi.
"Lama sekali mereka. Apakah kakak sangat parah, hingga lama sekali? Daritadi hanya Suster yang datang, untuk memberikan resep untuk di tebus. Setiap di tanya, mereka selalu bilang masih di tangani terus!" Dira merasa sangat kesal. Dira sudah tak sabar ingin mengetahui kabar suaminya, tapi salah satu dari mereka tak ada yang keluar satupun.
"Mbak, yang kuat ya? Saya yakin suami Mbak sangat beruntung mendapatkan Mbak ini, karena Mbak sangat mencintai suaminya. Jika orang lain, dia akan membiarkan suaminya pergi kerumah sakit sendiri dan lebih memilih di rumah. Tapi saya salut sama Mbak, walaupun ada anak, tapi Mbak gak menyerah," ucap tiba-tiba orang yang ada di sebelah Dira.
"Saya sudah pernah kehilangan suami dulu, Pak. Saya gak mau kejadian itu terulang lagi, aku masih berharap suami saya gak kenapa-napa."
Tak lama setelah Dira berbicara, seorang Suster memanggil Dira karena dokter membutuhkan tanda tangan Dira. Dengan cepat Dira masuk kedalam ruangan UGD, dengan membawa ke dua anaknya.
"Loh, anaknya di bawah masuk Bu?" tanya dokter Lucas.
"Iya dok, anak saya gak ada yang jaga. Langsung ke intinya saja, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Dira sambil menatap Arya yang masih tertidur di atas Brangkar pesakitan.
"Baiklah ... jadi gini, Bu. Waktu saya tanya-tanya sama pak Arya, sebelum saya kasih obat tidur. Dia bercerita pernah melakukan operasi Donor Ginjal, dan itu dilakukan kurang lebih sekitar 6 tahun lalu." Dira pun langsung terkejut.
__ADS_1
Pasalnya dia tak tau jika Arya pernah melakukan Donor Ginjal, karena memang Arya merahasiakan itu semuanya.
"Donor Ginjal? Kenapa suami saya gak bilang, terus apa hubungannya dengan penyakit suami saya sekarang?" tanya Dira sangat kebingungan.
"Ada hubungannya, Bu. Pasien yang mendonorkan ginjalnya satu, masih bisa beraktivitas normal. Tapi kalau dalam kondisi ginjalnya sehat. Tapi nyatanya pak Arya tidak mengatur pola hidupnya, hingga membuat satu ginjalnya ini rusak dan tidak bisa berfungsi dengan normal.
Semua bisa terjadi karena kurangnya minum air putih, namun lebih banyak mengonsumsi kafein. Apalagi makanan yang cepat saji, itu sangat gak bagus untuk orang yang pernah mendonorkan ginjalnya.
Seharusnya pak Arya tau apa resikonya, tapi sayangnya pak Arya tak bisa merawat dirinya sendiri. Hingga membuat pak Arya gagal ginjal."
Duarrrr....
Bagaikan di sambar petir dini hari, itulah yang di rasakan Dira. Dia gak tau kalau suaminya pernah melakukan donor ginjal, dan yang parahnya gara-gara itu Arya menjadi sakit.
Dira tak bisa membendung air matanya lagi, karena dia sangat bingung. Dira takut jika Arya seperti Vano, yang tiba-tiba meninggalkan dirinya.
"Te ... te ... terus, saya harus apa agar suami saya sembuh?" tanya Dira dengan mulut bergetar. Sungguh bibir Dira sangat keluh saat ini, apalagi mendengar kabar ini.
"Penyakit ginjal sebenarnya tidak dapat disembuhkan. Perawatan difokuskan untuk meredakan gejala, mencegah kemungkinan komplikasi, serta menghambat perkembangan penyakit gagal ginjal kronis menjadi lebih parah. Langkah penanganan yang bisa kami lakukan adalah dengan pemberian obat. Tujuan tindakan ini adalah untuk mengendalikan penyakit yang menyertai kondisi ginjal, sehingga penurunan fungsi ginjal tidak bertambah buruk. Obat yang diberikan antara lain:
-Obat hipertensi: Tekanan darah tinggi dapat menurunkan fungsi ginjal dan mengubah komposisi elektrolit dalam tubuh. Bagi penderita GGK yang juga disertai hipertensi, saya dapat memberikan obat ACE inhibitor atau ARB.
-Suplemen untuk Anemia: Untuk mengatasi Anemia pada penderita GGK adalah suntikan hormon eritropoietin yang terkadang ditambah suplemen besi.
-Suplemen kalsium dan vitamin D: Kedua suplemen ini diberikan untuk mencegah kondisi tulang yang melemah dan berisiko mengalami patah tulang.
-Obat kortikosteroid: Obat ini diberikan untuk penderita GGK karena penyakit glomerulonefritis atau peradangan unit penyaringan dalam ginjal.
Di samping pemberian obat, pak Arya juga disarankan untuk melakukan perubahan pola hidup yang meliputi:
Menjalankan diet khusus, yaitu dengan mengurangi konsumsi garam, serta membatasi asupan protein dan kalium dari makanan untuk meringankan kerja ginjal. Makanan dengan kadar kalium tinggi, di antaranya adalah pisang, jeruk, kentang, bayam, dan tomat. Sedangkan makanan dengan kadar kalium rendah, antara lain adalah apel, kol, wortel, buncis, anggur, dan stroberi. Selain itu, batasi juga konsumsi minuman beralkohol.
Berolahraga secara teratur, setidaknya 150 menit dalam seminggu.
Menurunkan berat badan jika berat badan berlebih atau obesitas.
Tidak mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang dapat menyebabkan gangguan pada ginjal.
Menerima vaksinasi karena GGK membuat tubuh rentan terserang infeksi. Contohnya adalah vaksinasi flu dan dan pneumonia.
Berkonsultasi dan senantiasa mengamati kondisi kesehatan dengan memeriksakan diri ke dokter secara teratur.
Sementara untuk penderita gagal ginjal kronis tahap akhir atau berada pada stadium 5, maka penanganan yang dapat dilakukan mengganti tugas ginjal dalam tubuh dengan terapi pengganti ginjal, yang terdiri dari:
__ADS_1
Dialisis atau penyaringan limbah serta cairan dalam tubuh dengan mesin atau memanfaatkan rongga perut. Dialisis yang dilakukan dengan mesin disebut hemodialisis atau yang dikenal dengan cuci darah. Sedangkan dialisis yang dilakukan dalam rongga perut dengan menggunakan cairan dialisis untuk menyerap cairan atau limbah yang berlebih disebut continuous ambulatory peritoneal dialysis atau CAPD.
Tranplantasi ginjal. Untuk prosedur transplantasi ginjal, ginjal penderita diganti dengan ginjal sehat yang didapat dari donor. Penderita GGK bisa lepas dari cuci darah seumur hidup pasca transplantasi. Namun, untuk menghindari risiko penolakan organ cangkok, pasien perlu mengonsumsi obat imunosupresif untuk jangka panjang.
Dan satu lagi, biar jelas.
Gagal ginjal kronis dapat memengaruhi hampir seluruh anggota tubuh. Komplikasi yang dapat ditimbulkan, antara lain:
-Hiperkalemia atau kenaikan kadar kalium yang tinggi dalam darah sehingga mengganggu fungsi jantung.
-Penyakit jantung dan pembuluh darah.
-Anemia.
-Kerusakan sistem saraf pusat, sehingga sulit berkonsentrasi dan menimbulkan kejang.
-Penurunan imunitas tubuh, sehingga rentan terserang infeksi,
Perikarditis atau peradangan pada perikardium, yaitu lapisan yang menyelimuti jantung.
-Tulang menjadi lemah, sehingga rentan terjadi patah tulang.
-Penumpukan cairan pada bagian tubuh (edema), termasuk yang paling berbahaya di paru-paru atau disebut edema paru.
-Disfungsi ereksi atau kesuburan dapat menurun."
Dira pun semakin bingung, dia gak tau suaminya terkena gagal ginjal di tahap mana. Karena daritadi yang dia dengar hanya penjelasan saja, tanpa tau tahap-tahap penyakit suaminya.
"Terus suami saya tahap mana, Dok? Apakah masih bisa dengan obat-obatan, atau harus menjalani pencangkokan ginjal?" tanya Dira sangat kebingungan.
"Untuk saat ini masih bisa di cegah dengan obat-obatan, dan cuci darah. Dan saya saran kan, pak Arya di rawat di sini selamat satu minggu." Ada rasa lega di hati Dira, karena penyakit suaminya belum parah. Sekarang Dira hanya bisa merubah pola makan Arya, dan menjalani hidup sehat.
...My Spoiled Family...
...By. Nunuk Pujiati...
.......
.......
.... ...
...Gambar hanya pemanis😍...
__ADS_1