
"Bagaimana pak? Apa menantu saya bisa keluar sekarang, kasian istrinya kalau sampai suaminya yang tak bersalah harus tetap di penjara," tanya Angga.
"Kita belum bisa mengeluarkan pak Arya, sebelum penangkapan dokter Ara. Setelah dokter Ara di tangkap baru kita bisa proses, Pak," jawab pak polisi.
"Kapan dokter gadungan itu di tangkap? Jangan terlalu lama, bisa-bisa banyak korban lagi dan jelaskan jika Serlin, meminta Ara memalsukan semuanya?" balas Angga sedikit kesal.
"Sekarang juga bisa, Pak. Kita akan kesana sekarang dan setelah itu kita akan menangkap Serlin, barulah nanti kita proses pembebasan pak Arya," ucap Pak polisi sekali lagi.
"Apa saya boleh ikut?" tanya Angga.
"Silahkan, Pak." Jawab pak polisi lagi.
"Emm.. Tapi saya minta jangan ganggu anak saya dulu di dalam, biarkan mereka temu kangen dulu. Maklum pengantin baru, saya juga gak tega pisahin mereka lagi." Mohon Angga sebelum ikut pergi. Angga tak tega jika harus memisahkan Dira, dan Arya sekali lagi.
"Iya Pak saya akan biarkan mereka sebentar. Tapi juga harus ada batas waktu nya pak,masalah nya yang mau menjenguk keluarga nya bukan hanya anak bapak" Jawab pak polisi.
"Baiklah. Sean kamu di sini saja temani Tia, jangan kemana-mana sebelum saya datang. Walaupun kamu pengacara, tapi aku tugaskan kamu menjaga Tia juga. Sampek lecet sedikit, kamu akan ku masukan penjara!" Ancam Angga saat menitipkan Dira. Sedangkan Sean langsung mendengus, karena kena lagi.
"Baik, Om," jawab Sean pasrah.
"Untung Om sendiri. Kalau bukan udah aku tuntut sampai ke meja hijau. Tapi sayangnya dia Om ku, sendiri" gerutu Sean saat Angga pergi dari kantor polisi. Walaupun mereka saling kenal, tapi Sean dan Angga bersikap profesional di saat kerja. Mereka akan bersikap normal jika dalam masalah serius, dan akan bersikap manja jika sedang kumpul bareng.
Setelah itu di sisi lain, Dira masih asik menyusui Arya. Tanpa rasa lelah dia tetap menuruti, semua keinginan Arya.
"Gimana sudah puas, Kak?" tanya Dira sambil mengelus rambut Arya dengan sangat manja.
(Peringatan ini hanya, ke gesrekkan author. Jadi jangan tanya, memang ada kek gitu? Jawabannya tidak ada, karena ini hayalan saya sendiri.)
"Belum! Masih kurang, pengen terus minum susu. Nanti kalau aku kekurangan kalsium, badanku lemes tau gak? Jadi gini aja terus," rengek Arya seperti bayi.
__ADS_1
"Kamu itu lucu, Kak. Bagaimana jika nanti kita punya anak, tentunya kamu sudah tak bisa minum susu lagi. Kamu harus rela jika nanti anakmu yang meminum ASI ku, dan papanya harus ngalah," balas Dira sambil terkekeh. Sedangkan Arya masih, fokus menyedot kalsiumnya. Kalsium cap, enak Dira.
"Gak apa-apa nanti di ambil anakku. Tapi hanya 6 bulan saja gak lebih, setelah itu kamu kasih dia sufor saja dan ASI nya untuk aku. Karena papanya juga butuh nutrisi," jawab Arya yang hampir tak bisa di artikan karena mulut nya masih tersumpal dengan daging kecil itu.
"Aku niatnya mau dua tahun, Kak. Dira ingin anak kita nanti full ASI bukan sufor, lagian ini demi anak sendiri loh." Arya yang gemas mendengar ucapan Dira pun langsung menggigit aset berharganya. Hingga membuat sang empu terpekik, dan langsung mencubit Arya.
"Aduhh! Kak sakit. Ya uda stop deh, jika kakak gigit terus. Kamu kira gak sakit apa di gigit? Coba sini punyamu aku gigit, pasti kamu akan mengadu sakit!" teriak Dira dengan kesal. Tapi berbeda dengan Arya, dia malah terkekeh dengan menarik sedikit daging mungil Dira.
"Gemas tau gak, aku itu. Kamu tau saat masuk mulutku itu seperti lagi makan permen kecil, terus kenyal kayak yupi. t
Tapi sayangnya kecil, sepertinya aku harus sedot tiap hari agar cepat tumbuh itu yupi kecilku," ucap Arya sambil tertawa. Sedangkan Dira semakin kesal, dengan tingkah laku Arya.
"Kamu kira puti*ing ku makanan? Enak saja di samakan dengan yupi, kalau sama dengan yupi kenapa gak makan saja itu yupi!" ucap Dira sangat marah. Dengan cepat Dira mengancingkan bajunya lagi, Dira sudah merasa badmood dengan ucapan Arya.
"Loh kok di tutup sih? Aku kan belum puas, balikin lagi gak?" rengek Arya yang kesal. Namun Dira terlanjur marah, dia gak mau memberi Arya jatah.
"Gak! Udah cukup minumnya, ini sudah lewat 25menit. Jadi sekarang aku mau keluar menemui papa di luar," Jawab Dira sangat ketus. Sedangkan Arya langsung mencegah Dira keluar, karena dia belum merasakan puas.
"Biasa, suka ngancem! Ya sudah sini minun lagi, tapi awas jika gigit lagi. Aku gak akan segan-segan langsung getok Kepala kamu itu, kamu kira enak di gigit!" Arya pun langsung mengangguk mendengar perkataan Dira. Setelah itu Dira kembali ke pangkuan Arya dan Arya mulai rakus melahap Nutrisi tak ternilai itu.
***
Keributan terjadi di rumah sakit SS (sintal&Sintia), semua orang di sana pada bingung karena melihat dokter Ara di seret oleh polisi. Semua orang pun menggunjing Ara, begitu pun dengan Sintal dia juga terkejut dengan semua ini.
"Lepaskan saya! Saya gak bersalah, itu hanya kekeliruan saja," teriak Ara sambil memberontak.
"Kalau ingin membela diri, nanti di kantor. Kalau di sini gak bisa, anda harus tetap ikut kami!" balas pak Polisi. Polisi terus menyeret Ara, hingga membuat Sintal penasaran dan bertanya.
"Ada apa ini?" tanya Sintal.
__ADS_1
"Tal, tolong aku. Aku hanya di jebak, ini semua fitnah. Tolong aku, Sintal!" teriak Ara sangat histeris. Sintal semakin bingung dan penasaran, dengan semua ini. Hingga Angga datang, dan menjelaskan semuanya pada Sintal.
"Salah paham apanya?
Kamu tau jika perbuatan kamu salah, memalsukan data visum dan membuat orang yang tak bersalah masuk penjara! Saya akan kasih tau kamu, orang yang kamu palsukan data visumnya itu adalah menantu saya. SUAMI ANAK SAYA!" bentak Angga yang tak bisa menahan emosinya lagi. Sedangkan Sintal langsung terkejut, mendengar semuanya.
"Tunggu! Kenapa Arya sampai masuk penjara, dan kenapa dokter Ara juga terlibat?" tanya Sintal yang kebingungan.
"Kemarin malam Arya di masukan penjara oleh Serlin,bmantan pacar Arya. Dan Serlin menyuruh Ara memalsukan hasil visum hingga membuat Arya masuk penjara, dan membuat anak ku menangis histeris. Kamu Ingat ini baik-baik Ara, air mata yang keluar dari mata Sintia akan di bayar dengan kehancuran. Sekarang nikmati masa kehancuranmu Ara, semoga dengan ini kamu bisa memikirkan kesalahanmu apa," ucap Angga panjang lebar. Setelah itu polisi langsung membawa Ara pergi dari gedung rumah sakit.
Setelah kepergian Polisi, Sintal masih penasaran hingga menatap Angga dengan tatapan bertanya. Dia bingung, sungguh sangat bingung saat ini.
"Bisa Papa jelaskan? Kenapa aku gak di kasih tau masalah ini, dan bisa-bisanya kalian menyembunyikan ini dari Sintal?Sintia adik Sintal, Pa. Sintal wajib tau apa yang terjadi dengan dia, kenapa Papa tega dengan Sintal," ucap Sintal sangat kecewa.
"Sebenarnya Tia semalam mencari kamu untuk meminta bantuan dari kamu. Tapi setelah kami menceritakan keadaan Fani, Tia gak mau mengganggu kalian. Jadi Tia menyuruh Papa membantunya mencari bukti, lagian benar apa kata Tia. Kalau kalian tak perlu terbebani masalah ini, buktinya sekarang selesai kan?" balas Angga dengan tenang.
"Kalian sungguh tega. Sekarang dimana Sintia, Sintal ingin menemui Sintia," tanya Sintal sangat khawatir.
"Masih ada di kantor polisi. Ini papa mau balik jemput mereka, kata pak Polisi jika Ara dan Serlin di tangkap. Maka Arya akan bebas," Jelas Angga.
"Kalau gitu Sintal ikut."
"Kalau gitu ayo, berangkat." Mereka berdua pun akhirnya pergi ke kantor polisi, dan melihat keadaan Dira di sana.
*
*
*
__ADS_1
Happy Reading