
"Kak, aku mau bicara penting!" teriak Dira saat beru masuk kedalam kamar.
Namun seketika Dira, di kejutkan dengan keberadaan Arya saat ini. Di mana, Arya sudah rebahan di kasur, tanpa pakaian sambil mengelus emas bayangannya.
"Kak! Pakai gak bajunya, aku mau bicara dulu sama kamu!" teriak Dira sekali lagi.
Namun Arya seakan tak mau mendengarkan Dira. Yang ada, malah Arya turun dan berjalan mendekati Dira. "Gluk!"
Dira langsung menelan ludahnya sendiri, saat melihat tubuh kekar Arya. Sungguh pemandangan yang sangat nikmat, apalagi badan kotak-kotak seperti roti sobek. Otot-otot yang sangat menggiurkan, apalagi emas batangan yang sudah berdiri kokoh.
"Lupakan saja dulu, Sayang. Kita mengisi asupan nutrisi dulu, aku sudah menunggu sangat lama sampai bosan." Arya berbicara sangat lembut tepat di daun telinga Dira, hingga menimbulkan sensasi aneh.
"Kak ... tapi ini sangat penting, dan ini menyangkut anak kita," ucap Dira sambil memejamkan mata, karena menikmati ciuman yang yang di lakukan Arya di daerah lehernya.
Tak menggubris, itulah yang dilakukan Arya. Arya lebih suka mengigiti leher Dira, dan membuat karya terindah di sana. Bahkan tangan Arya mulai mere*mas lembut gunung kembar, yang semakin kesini makin besar.
"Tanganku sekarang gak muat, saat aku mere*masnya. Bahkan sekarang terlihat berisi, gak seperti dulu satu kepalan saja sudah ada di genggaman."
Dira tak perduli lagi dengan ocehan Arya, karena Dira lebih memilih meresapi apa yang di lakukan Arya. Hingga Arya membuka bajunya pun, Dira masih diam.
Setelah itu, Arya sedikit menunduk dan mulai mneghi*sap lembut buah kismis milik Dira. Di mainkan lidahnya di puncak kismis itu, dan sedikit di gigit agar menambah sensasi untuk Dira.
"Uuuhggh ...."
__ADS_1
Tangan Dira mulai bergerak, dan menekan kepala Arya agar tak melepaskan apa yang dia lakukan. Dira sudah mulai terpancing, yang di bawah juga semakin aduhai rasanya.
Dira merasakan Arya begitu kuat, menye*dot kismis nya. Hingga Dira ingin berteriak, tapi dia tahan takut anak-anaknya mendengar. Tak lama setelah itu, tangan Arya mulai menelusup masuk ke cela-cela miss Vi Dira.
"Basah," ucap Arya yang sangat membuat Dira malu. Tapi, mengingat betapa nikmatnya sentuhan Arya membuat Dira menjadi muka gedek.
"Masukkin, Kak," bisik Dira sangat lembut.
"Baiklah tuan Putri, mau gaya seperti apa? Apakah kita melakukannya sambil berdiri, tapi aku ada di belakangmu dan tak bisa melihat expresi wajahmu saat mendapatkan pelepasann," balas Arya sambil terus mengobrak-abrik goa hantu Dira.
"Terserah mau seperti apa, yang penting puas. Jika kamu nyaman seperti ini, maka lakukan. Aku akan selalu menurut, karena kamu suamiku," balas Dira, sebelum akhirnya dia meraih wajah Arya dan meluumat habis bibir suaminya.
Arya sudah tak tahan, akhirnya mendorong Dira ke tembok agar Dira bersandar di sana. Setelah itu, Arya mengangkat satu kaki Dira dan di letakkan di pinggulnya.
Percintaan mereka sungguh panas, hingga mereka lupa akan suara yang harusnya mereka kecilkan. Mereka tak perduli lagi, yang mereka tau hanya satu. Yaitu, nikmat.
Arya merasa bosan dengan posisi itu, akhirnya langsung menggendong Dira dan menaik-turunkan tubuh Dira dengan posisi di gendong. (Woee malah gendong-gendongan, aku tersisih)
Dira kembali meraih bibir Arya, dan kembali memainkan lidah satu sama lainnya. Mereka terus melakukan itu tanpa bosan, tanpa capek. Bagi mereka, kepuasan selalu datang dari mereka masing-masing. Selalu mengimbangi, itu kunci pertama agar mereka tak bosan melakukan itu.
"Aagg ... agggg ...." Arya semakin keras, memompa Dira. Hingga kates gantung yang ada di depan Arya, kocar-kacir kesana-kemari.
"Diraaaaaaa!"
__ADS_1
"Kakkkkkkk!"
***
"Mbok Gini, dengar suara aneh gak? Aku seperti mendengar kucing berantem, tapi setau Ardi kita gak ada pelihara kucing ya?" tanya Ardi saat menuju dapur untuk mengambil air putih.
Sebenarnya tujuan awal bukan air putih, melainkan Ardi mencari suara gaduh yang membuat dia penasaran. "Mbok, gak dengar apa-apa Den." Bohong mbok Gini. Padahal dia mendengar sangat jelas, suara tuan-nya.
"Ih, coba dengar lagi deh Mbok. Suaranya saja, sampai bunyi Plok Plok Plok, gerrrr gitu." Ardi gak mau mengalah. Karena dia benar-benar penasaran, dengan suara itu.
"Sudahlah, Den. Itu urusan orang dewasa, Aden nanti tau kalau sudah menikah bagaimana dua kucing beradu suara," balas mbok Gini sebelum meninggalkan Ardi.
Mbok Gini lebih memilih pergi, daripada harus mendapatkan pertanyaan yang tak bisa dia jawab. Sedangkan Ardi kembali mencari sumber suara itu, namun sayangnya sudah berhenti.
"Yah, Hilang."
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1