
"Van, kamu sudah pulang?" tanya Dira yang melihat anaknya itu baru masuk ke rumah.
"Bagaimana latihannya, apakah kamu gak menemukan kesulitan?" Dira bertanya kembali.
Vano pun langsung mendekati Dira, dan mencium pipi Dira. Vano memang seperti ini, jika baru pulang dari luar. Selalu mencium pipi Dira, bahkan ini seperti kewajiban khusus bagi Vano.
"Alhamdulillah enggak, Mommy. Oh ya, tadi Vano ambil tabungan Vano. Sekitar tiga puluh jutaan, Mommy. Maafkan Vano ya, karena sudah ambil uang itu. Padahal Vano sudah berjanji gak akan ambil uang itu, karena Vano ingin mandiri," ucap Vano sambil menatap Dira. Sedangkan Dira hanya tersenyum lembut pada Vano.
"Sayang, itu uang kamu. Mau kamu pakai untuk apapun, terserah kamu. Yang penting jangan di buat foya-foya, jika untuk foya-foya mungkin Mommy akan marah." Dira berkata sambil mencubit hidung Vano.
Entah kenapa Dira merasa sikap Vano mirip almarhum Vano, yang selalu mandiri tanpa meminta bantuan siapapun. Padahal Arya selalu memberikan uang, dan itu tidak pernah di ambil sedikitpun.
Semenjak SMP, Vano selalu mengandalkan cameranya untuk bekerja. Lumayan, karena sekali ada orang menyewa Vano. Dia akan mendapatkan bayaran 80-100ribu an. Sebab itu, Vano gak pernah meminta uang.
"Bukan, itu bukan uang Vano. Itu uang Daddy, dan Mommy. Vano kan sudah pernah bilang, jika Vano ingin mandiri. Jadi, Vano masih belum membutuhkan uang itu." Jelas Vano sekali lagi.
Dira semakin terharu dengan Vano. Memiliki Empat anak yang berbeda-beda wataknya, membuat Dira belajar satu hal. Menjadi orang tua itu gak gampang, apalagi sifat dari keempatnya sangatlah berbeda.
__ADS_1
Tapi dari sini juga Dira belajar, untuk sabar, tegar, dan juga ikhlas. Anak-anak nya adalah anugerah terindah bagian Dira, jadi seburuk apapun anaknya, mereka tetap darah dagingnya sendiri.
"Mommy, kok nangis? Apakah ucapan Vano menyakiti Mommy, atau apa?" tanya Vano sangat panik, saat melihat Dira meneteskan air mata.
Dira pun menghapus air matanya, dan memegang lembut pipi Vano. "Mommy, menangis karena bahagia. Ini itu air mata kebahagiaan, karena Mommy sangat bangga dengan kamu, Nak."
"Vano gak melakukan apapun, Mom. Kenapa harus di banggakan, sudah jangan nangis, nanti Mommy terlihat jelek, dan Daddy gak akan suka nanti." Vano berkata sambil menghapus air mata Dira. Sedangkan Dira langsung mengambil tangan Vano, dan menciuminya.
"Oh ya, kalau boleh Mommy tau. Untuk apa uang 30 juta itu, tumben sekali kamu butuh uang sebanyak itu?" tanya Dira sangat penasaran. Pasalnya Dira tau sekali, jika anaknya gak pernah menghabiskan uang 50 ribu sehari. Beda dengan Ardi, yang selalu habis lima ratus ribu setiap harinya.
"Tadi, teman Vano ada yang masuk rumah sakit. Namnya Lessy, kasihan orang tuanya gak ada uang, Mom. Sebenarnya ada, tapi itu hanya cukup untuk hidup selama satu tahun. Jadi, Vano merasa kasihan, ya rumah sakitnya aku bayarin. Karena aku gak tau sampai berapa hari, jadi Vano kasih 30juta, sebagai uang muka dulu." Jelas Vano sangat serius.
"Dia sakit apa, Van? Apakah serius, kalau kamu mau nolong orang jangan setengah-setengah ya Nak. Kalau bisa, Mommy mau bertemu teman kamu. Mommy jadi penasaran dengan, Lessy," ucap Dira yang mulai penasaran.
Sedangkan Vano merasa lega, karena Dira gak marah. Sebenarnya tadi dia takut Dira marah, karena dia mengeluarkan uang sebanyak itu. Tapi, melihat expresi Dira, Vano jadi yakin, tidak ada kemarahan di mata Dira.
"Kata om Handoko, Lessy kena penyakit lemah jantung. Dan tadi pingsan di tempat latihan Vano, entah kenapa dia ada di sana. Tapi, setelah menerima telepon dari seseorang, bahkan mengancamnya, penyakitnya langsung kambuh hingga pingsan."
__ADS_1
Dira langsung membulatkan matanya, saat mendengar ada seseorang mengancam Lessy. Walaupun belum pernah bertemu dengan Lessy, tapi Dira merasa Lessy ini anak yang sangat baik.
"Ya Allah, Van. Ayo antar Mommy ke rumah sakit, pokoknya Mommy mau melihat keadaan Lessy. Tunggu di sini, Mommy mau ganti baju dulu." Tanpa menunggu jawaban Vano, Dira langsung berlari ke kemar.
Padahal Vano ingin bilang, jika Lessy melarangnya bertemu dia lagi. Demi kenyamanan dia, dan keluarganya.
"Aduh, gimana ini? Lessy melarangku dekat-dekat dengan dia, tapi aku gak bisa menolak Mommy."
Vano pun di buat bingung, mau gak mau dia harus mengantar Dira kerumah sakit. Tapi, sambil menunggu Dira, Vano membuka ponselnya, karena dia sadar, sudah terlalu lama mematikan ponsel.
"Astaghfirullah, Lima puluh lima panggilan, dari Alena."
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading