
Malam hari di keluarga Bramastya. Semua orang sedang menikmati makan malam kecuali Dira, dia merasa tak selera makan karena sangat merindukan Arya. Dewi yang merasa khwatir, akhirnya menghampiri Dira yang sedang melamun.
"Kamu kok lesu gitu sih, Nak? Ayo makan dulu, Mama gak mau melihat kamu seperti ini," ucap Dewi sangat khwatir.
"Dira gak lapar, Ma," balas Dira sangat lesu. Bahkan Dira merasa tak ada semangat hidup lagi, karena berjauhan dengan Arya.
"Mau Mama suapin?" Dira pun langsung menggeleng. Sungguh dia tak ada selera makan, Dira ingin pulang melihat Arya. Tapi, Sintal selalu melarang dirinya.
"Kakak tau kamu kangen Arya, tapi kamu harus makan Tia dan kak Ital gak akan mempertemukan kamu dengan Arya jika kamu tak mau makan!" Seketika sendok yang Dira penggang langsung terjatuh saat Sintal menyebut nama kecilnya. Sedangkan Sintal hanya tersenyum melihat expresi Dira yang terkejut, menandakan Dira hapal dengan nama yang dia ucapkan.
"Dari mana Kakak tau, nama kecil Dira?" tanya Dira dengan gemetar. Angga yang sadar, putrinya mulai bertanya-tanya. Akhirnya dia memulai pembicaraan, yang menurut Angga sangat mencengkam
"Baiklah karena semua sudah selesai makan. Jadi lebih baik kita umumkan ini sekarang, dan ini tugas kamu Sintal untuk mengungkapkannya," ucap Angga. Sedangkan Dira semakin bingung, dengan drama yang dilakukan keluarga Bramastya.
"Dira kenapa kamu memanggilku dengan sebutan kak Ital? Dan kamu harus menjawabnya dengan jujur," tanya Sintal yang membuat Dira takut.
"Karena saat melihat Kakak, Dira ingat dengan kakak Dira yang entah ada dimana sekarang," balas Dira dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Dewi tak bisa menahan air matanya lagi, hingga membuatnya nangis sesegukan.
"Kemana Kakakmu Dira?" tanya Sintal sekali lagi. Sedangkan Dira semakin tak bisa menahan air matanya saat mengingat masa lalunya dulu, dimana dia harus terpisah karena di culik.
"Kak Ital entah di mana. Yang Dira ingat kami main lari-lari di sebuah taman, dan setelah itu ada orang yang menculik Dira," ucap Dira dengan gemetar. Sedangkan Angga, Sintal pun langsung tersenyum. Mereka senang, karena ingatan masa kecil Dira masih terngiang.
"Akulah kak Ital, Dira. Aku kakakmu, dan kamu adalah Tia adik kak Ital, ALEXIA SINTIANA BRAMASTYA." Jantung Dira pun semakin berdetak tak karuan, dia masih tak percaya dengan perkataan Sintal. Karena ini bagai mimpi di siang bolong, dan gak mungkin jadi kenyataan.
Gak... Ini pasti mimpi, ayo bangun Dira. Ini mungkin efek terlalu merindukan kak Arya, jadi aku ngelantur. Mana mungkin dia kak Ital, mana mungkin mereka keluargaku yang selama ini menghilang. Ayo sadar, Dira! gumam Dira yang tak percaya.
"Dan mereka adalah orang tua kita, Tia. Ini Mama dan Papa, setelah sekian lama akhirnya kami menemukanmu. Kami sangat merindukan kamu, Tia." Dira pun langsung menggeleng cepat. Dia masih tak percaya, dengan semua ini.
"Tidak... Jika kalian keluargaku, mana buktinya? Jika pun ada bukti aku gak yakin kalian merindukanku," ucap Dira sambil menangis.
"Mama sangat merindukan kamu, Sayang. Setiap hari Mama mencari kamu hingga Mama ingin bunuh diri, jika bukan karena Sintal, Mama gak mungkin hidup sekarang." Angga yang melihat istrinya histeris pun langsung menghampirinya dan memeluk Dewi sangat erat.
"Jika kalian rindu, kemana saja kalian selama ini? Asal kalian tau, aku di kira anak jadi-jadiannkarena penculik itu membuang Tia di semak-semak yang penuh dengan lumpur. Tia di amuk masa dan ingin di bunuh, tapi untung ada ibu dan bapak," teriak Dira sangat histeris.
"Mereka rela di usir dari kampung untuk melindungi Tia, tapi sayang Allah lebih saya mereka. Bertahun-tahun Dira hidup sendiri dan terlunta-lunta, bahkan Tia juga mencari kalian di bandung tapi kalian sudah pindahn" Dira pun langsung terduduk lemas dengan menangis sesegukan.
"Aku selalu merindukan kalian, tapi..." Dira pun tak bisa melanjutkan ucapannya karena terlalu lemas, tanpa tunggu lama Sintal langsung memeluk adiknya itu. Dengan sangat erat, dan penuh sayang.
"Maafkan Kakak, jika saat itu Kakak gak lemah pasti kita akan hidup bahagia selamanya. Maafkan Kakak, Tia,"ucap Sintal sambil menangis pilu. Satu keluarga akhirnya menangis, menangis terharu dan bahagia karena mereka bisa berkumpul kembali.
"Tia merindukan kalian. Tia sangat merindukan kalian, setiap malam Tia selalu berdoa agar di pertemukan dengan kalian. Hingga Tia merasa lelah dan menyerah, Tia capek mencari kalian, tapi kenapa di saat Tia sudah lelah malah kalian kembali? Aku... Aku..." Belum sempat Dira melanjutkan perkataannya, Dira lebih dulu pingsan. Sedangkan Dewi yang khawatir pun semakin histeris, takut kehilangan putrinya lagi.
__ADS_1
"Selamatkan adikmu! Mama gak mau kehilangannya lagi, cepat selamatkan," ucap Dewi sangat histeris. Namun tanpa diduga, setelah berkata Dewi ikut pingsan karena kelelahan.
"Urus Tia, biar Papa yang urus Mamamu," ucap Angga. Sintal pun hanya menganggukkan kepala, dan langsung menggendong Dira masuk kedalam kamar.
****
"Eh... Kita bertemu lagi, pak Galak," ucap Mila saat melihat Arya duduk termenung di tepi pantai. Sedangkan Arya yang merasa kesal, langsung mendengus melihat Mila.
"Kamu itu setan, ya? Kok setiap aku ada, kamu juga ada! Bikin kepalaku makin sakit saja," ucap Arya sangat tak bersahabat.
"Aku sudah bilang kan, kita itu jodoh." kekeh Mila.
"Amit-amit punya jodoh kaya kamu, aku yakin orang yang akan menjadi suamimu nanti pasti akan ngelus dada, karena mendapatkan istri jadi-jadian kaya kamu," ucap Arya tanpa di filter.
"Idih... Jahat kali kau, Pak. Tapi omong-omong, kamu kelihatan berantakan banget? Beda dengan empat bulan yang lalu, aku tau ini pasti putus cinta kan?" Mila pun terkekeh sangat puas. Namun tak lama kemudian datang lah Pras dengan membawa minuman yang di minta Arya.
"Ka... Kamu kenapa ada di sini?" ucap prasasti dengan terbata-bata saat melihat Mila. Sungguh sekarang tubuh Pras sangat gemetar, karena melihat wanita gila yang selalu mengusik dirinya.
"Kamu kenal dengan cewek gila ini?" tanya Arya yang penasaran.
"Gak Tuan, tapi dia cewek aneh," ucap Pras. Sedangkan Mila hanya cengar-cengir menatap Pras, dan sedikit main mata.
"Memang aneh dia!" jawab Arya sangat kesal.
"Kamu gila ya? Aku gak mau nerima tawar mu itu, lebih baik aku jomblo seumur hidup dari pada harus pacaran dengan kamun" Arya pun terbelalak mendengar perkataan Pras.
"Kamu serius, dia minta kamu jadi pacarnya?" Pras langsung mengangguk. Tanpa permisi Mila langsung memeluk tubuh Pras dengan erat, dan tak memperdulikan Arya yang terlihat kaget.
"Kalau kamu gak mau jadi pacarki, jangan salahkan aku jika tulang kamu patah-patah hari ini. Lagian aku lihat mana mungkin cowok lempeng kaya kamu bisa melawan karate aku," bisik Mila di telinga Pras.
"T... Tuaan tolong saya," ucap Pras dengan gemetar.
"Ogah... Hidupku sudah runyam dan belum mendapat titik temu, kamu malah minta tolong. Lagian kamu kan bodyguard Dira, bagaimana bisa kamu jadi lempeng gitu sih?" tolak Arya dan setelah itu meninggalkan dua sejoli itu.
"Tuan tunggu!" Arya sama sekali tak memperdulikan teriakan Pras, karena Arya ingin sendiri dan merenung.
"Jadi bagaimana keputusanmu, Sayang?" ucap Mila sambil senyuman mengancam.
"Ibu tolong anakmu ini."
****
__ADS_1
Pukul delapan malam Dira sadar dari pingsan, saat Dira mengeliat dia baru ingat kejadian tadi saat dimeja makan.
"Aduh... Kepala ku sangat sakit," ucap Dira sambil memijit pucuk hidungnya. Saat Dira melihat sekelilingnya, Dira baru sadar jika Sintal ada di sebelah ranjangnya.
"Ternyata kak Ital yang aku cari selama ini adalah kamu Kak. Sungguh aku sangat bahagia tapi, juga sedih. Kenapa baru sekarang kita bertemu?" ucap Dira sambil mengelus kepala Sintal.
"Maafkan kakak Tia, kakak pantas di hukum. Kakak yang membuat kamu terlunta-lunta, maafkan kakak," igau Sintal saat sedang tidur. Sungguh hati Dira seperti teriris saat mendengar perkataan kakaknya saat terjaga.
"Kak bangunlah, tubuhmu pasti sakit jika tidur dengan duduk begitu. Bangunlah Tia sudah memaafkan kakak," ucap Dira sambil membangun kan Sintal.
"emmm..." gunam Sintal saat mengeliat.
"Kamu sudah sadar, Dek?" tanya Sintal sambil mengucek matanya
"sudah kak."
"Dek, maafkan kakak ya?" ucap Sintal sekali lagi. Dira pun tersenyum, dan mulai berbicara.
"Sudahlah Kak. Kakak gak salah, Tia hanya sedikit terkejut tadi. Tia senang akhirnya bisa menemukan kalian, Tia tambah senang di saat semuanya masih sehat," ucap Dira dengan tersenyum.
"Kakak bahagia jika kamu mengerti Tia. Oh ya apa kamu sudah kangen calon suamimu itu, jika iya kakak mau memberi tau kamu sesuatu," ucap Sintal. Sedangkan Dira langsung berbinar mendengar perkataan Sintal.
"Apa, Kak? Cepetan bicara, apa Dira sudah boleh bertemu dengan kak Arya?" ucap Dira sangat senang.
"Kalau bertemu kakak belum izinkan." Seketika wajah berbinar Dira luntur, saat Dira masih belum boleh bertemu dengan Arya.
"Tapi kakak akan pertemukan kalian di pelaminan, tiga hari lagi. Kakak juga sudah membicarakan semuanya dengan mertuamu, dan mereka setuju kamu menikah tiga hari lagi," ucap Sintal.
"Kakak serius?" tanya Dira dengan penuh harapan.
"Serius sayang!" Dira pun langsung menghambur kepelukan Sintal, hingga Sintal terjungkal karena belum siap menerima Serangan Dira.
Brukk...
"AKU SANGAT MENCINTAIMU, BROTHERS," teriak Dira dengan sangat senang. Baru kali ini Dira merasa bahagia seperti menang lotre, karena mendapatkan dua kabar bahagia malam ini.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading