
Setelah perdebatan sengit dengan Dinda, akhirnya kini Dira menghubungi Seto. Dira sangat berharap jika Seto dapat membantu dirinya, dan mengeluarkan Arya dari penjara.
"Hallo, ada apa lagi? Kurang puaskah kamu menyiksa aku di kantor, kapan kamu kembali dodol!" teriak Seto tiba-tiba, saat panggilan itu terhubung.
"Emm ... Seto, ini aku Dira." Seto pun langsung terdiam membisu saat mendengar suara Dira. Sungguh Seto merutuki kebodohannya, yang terlebih dahulu ngomel, tanpa tau siapa yang menghubungi.
"Maaf Nyonya, saya sudah lancang. Ada apa Nyonya menelpon saya, apa ada perintah untuk saya?" tanya Seto gelagapan. Beginilah Seto, walaupun dia bersahabat dengan Arya. Tapi dia gak mau kurang ajar dengan Dira, dia tetap memanggil Dira Nyonya.
"Seto, kak Arya di tangkap polisi karena tuduhan penganiayaan terhadap Serlin waktu di bali. Serlin membuat tuduhan palsu hingga kak Arya di jebloskan ke penjara. Yang anehnya, hasil visum kok menunjukkan jika memang kak Arya yang menganiaya Serlin?" ucap Dira dengan bingung.
"Pasti Serlin ada main dengan dokter itu Nyonya. Ada dua kemungkinan sih, Serlin ada hubungan dengan dokter itu atau Serlin menyogok dokter gadungan," balas Seto. Dira pun langsung paham, memang benar ada dua kemungkinan dan kemungkinan itu yang di ucapkan Seto.
"Bisa jadi. Eh ... Tapi kamu gak usah panggil aku Nyonya, sungguh gak enak di dengar tau gak. Lebih baik kamu panggil aku Dira daja, kalau kamu panggil aku Nyonya berasa aku ini tua banget," protes Dira saat Seto terus memanggilnya Nyonya.
"Tak pantas jika saya hanya memanggil nama saja, Nyonya. Bisa-bisa Tuan nanti marah karena tak menghormati majikan, jadi maaf saya akan tetap memanggil Nyonya," balas Seto sangat sopan. Tentu Dira langsung mendengus, bagaimana bisa dia bisa memanggil Arya dengan sebutan nama. Tapi untuk memanggil Dira saja, Seto gak mau.
"Terserah kamu deh! Kita balik ke pembicaraan tadi. Jadi sebelum kakak di bawa polisi, kakak sempat berpesan untuk menghubungi kamu. Kakak bilang kamu di suruh ke Bali untuk cari bukti dan mengambil CCTV di hotel juga Restauran yang kami kunjungi. Kamu harus cari sedetail mungkin, jangan lupa harus detail!" ucap Dira panjang lebar. Sedangkan Seto hanya mendengarkan ucapan Dira, di sebrang sana.
"Baiklah, kalau boleh tau alamat dan tepat hotelnya di mana?" tanya Seto.
"Aku kirim via watsapp nanti. Ingat aku mau kamu cepat melakukan ini, aku gak mau suamiku semakin lama di dalam penjara. Aku beri kamu waktu dua hari, kamu mengerti Seto?" balas Dira sangat serius.
"Mengerti, Nyonya." Dira pun tersenyum puas karena Seto langsung mengerti, dengan apa yang dia ucap.
"Oh, ya. Tolong kirim nomor rekening kamu, aku akan Mentransfer uang buat kamu. Barang kali si pemilik hotel atau resto perlu tabokan uang," Ucap Dira sekali lagi. Namun dengan cepat Seto menolak, karena memang dia tak membutuhkan uang. Dia seorang CEO, mana mungkin mengandalkan uang Arya.
__ADS_1
Berulang kali Dira memaksa, tapi tetap saja. Seto tak mau menerima uang itu, dia bilang memiliki uang cukup. Jadi tak perlu memakai uang Arya, apalagi di saat kesusahan seperti ini.
"Ya sudah, jika itu maumu. Oh ya, kamu harus cepat ya?"
"Iya, Nyonya." Panggilan pun berakhir. Setelah itu Dira menuju ruang tamu untuk menemui Dinda, karena ada hal penting yang ingin dia tanyakan.
"Ma ..." panggil Dira sangat lembut. Sedangkan Dinda hanya menatap tajam Dira, Dinda masih dongkol dengan menantunya itu.
"Ada apa, Dira?" jawan Dinda sangat cepat. Bahkan suara Dinda sangat bindeng, karena habis menangis.
"Emmm ... Mama tau alamat rumah, Serlin?" Dinda pun langsung menatap tak suka pada Dira. Dinda berpikir untuk apa Dira kesana, tak ada gunanya berbicara dengan orang licik.
"Gak tau!" hanya itu yang keluar dari mulut Dinda. Dinda gak mau mereka sampai bertemu, yang ada malah semakin runyam.
"Dira tau Mama, bohong. Please beri tau Dira di mana rumah Serlin, Dira ingin berbicara empat mata dengan Serlin, Ma." Dira terus mendesak Dinda agar memberitahu alamat rumah Serlin. Namun bukan Dinda namanya jika dia gampang luluh, Dinda tipe orang keras. Jika tidak, ya tidak.
"Dira kesana gak sendiri, Mama Sayang. Dira kesana bersama kak Sintal atau papa. Dira mohon, barang kali Dira ke sana hati Serlin akan luluh. Dira gak mungkin diam saja di rumah, dengan mengandalkan Seto." Mohon Dira sambil merengek. Dira tau kelemahan Dinda adalah melihat Dira merengek manja, Dinda paling gak bisa melihat menantunya begitu.
"Jangan coba rayu Mama. Sekali tidak ya tidak, ini juga demi kebaikanmu Dira!" jawab Dinda yang tak mempan rayuan Dira. Kecewa itu yang dirasakan Dira, dia harus memutar otak agar Dinda mau jujur. Hingga lewat lah Ryant.
"Papa!" gunam Dira sangat lirih. Dira mendapatkan cara baru, ya itu merayu Ryant.
"Ya sudah kalau Mama gak bolehin. Dira masih punya Papa, ya kan pa?" Ryant yang baru masuk rumah pun mengangguk tanpa tau apa yang akan di ucapkan Dira.
"Awas saja jika kamu kasih tau, Mas!" ucap Dinda dengan tatapan tajam. Sedangkan Ryant merasa bingung hanya bisa mengangkat bahu, tanda tak tau menau. Dira menghampiri Ryant dan berusaha meminta alamat Serlin.
__ADS_1
"Papa ganteng deh. Dira boleh minta tolong gak, sedikit kok gak banyak. Tadi Dira minta bantuan Mama, tapi Mama gak mau bantu Dira," ucap Dira dengan senyuman manisnya itu.
"Mau minta tolong apa?" balas Ryant sambil tersenyum. Ryant sangat beruntung mendapatkan menantu seperti Dira, karena dia tak pernah merasa canggung dengan mertuanya.
"Dira minta alamat Serlin, boleh?" tanya Dira sambil berbinar. Namun dengan cepat Dinda menjawab, dan membuat Ryant takut.
"Tidak boleh!" Ryant pun langsung bergidik, dan menatap jengah Dira.
"Kamu dengarkan Mama kamu bilang apa. Jadi papa gak bisa kasih tau kamu, maaf ya Papa gak bisa bantu.Kalau gitu Papa mau ke kantor polisi dulu, untuk melihat keadaan Arya. Kamu tenang saja Dira, suami kamu pasti pulang," ucap Ryant sambil mengelus rambut Dira. Sedangkan Dira hanya terdiam dengan berdiri, dia masih bingung harus melakukan apa.
Dira pun bingung mau apa lagi agar mendapatkan alamat Serlin, Dira juga gak mungkin tanya Arya karena dia gan mungkin memberikan alamat Serlin.
Jika minta tolong kakaknya juga gak mungkin, kan dia dokter buka detektif. Sekian lama Dira berdiri bingung memikirkan semuanya, tak lama kemudian terdengar suara notifikasi dari ponsel Dira. Dengan malas Dira membuka pesan itu, namun seketika senyuman Dira melebar saat membaca pesan yang baru masuk.
Messenger Papa Kece:
Sayang kalau minta alamat Serlin jangan di depan Mama kamu. Kamu tau bagaimana sikap istri cantik Papa itu kan? Bisa-bisa Papa gak akan di kasih jatah kalau melanggar perintahnya, Papa akan kasih tau alamat Serlin. Kamu jangan cemberut lagi jelek tau.
Alamatnya di PERUMAHAN BASUKI CACAH, BLOK A GANG 1 NOMOR RUMAH 34B. Ingat 34B jangan salah seperti Arya dulu, malu-malu keluarga.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading