
Dua minggu sudah Arya bangun dari koma. Sekarang dia mulai aktif kembali di kantor, dan memulai pekerjaannya kembali. Hari ini juga ada acara pertemuan dengan rekan bisnis Arya, hingga dia membawa Dira sekaligus.
Sebenarnya Arya gak mau Dira kecapean. Tapi, pertemuan ini harus membawa pasangan. Arya gak mungkin membawa orang lain, jika ada istrinya. Hingga sekarang mereka berdua ada di hotel bintang lima, untuk menghadiri pertemuan itu.
Setelah dari kantor, Arya langsung meluncur ke lokasi perempuan. Dira juga sudah terlihat sangat cantik, dengan gaun warna merah yang sangat cocok dengan warna kulitnya.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok kelihatannya seperti menahan sesuatu, apa kita pulang saja?" tanya Arya sangat khawatir.
"Perutku agak aneh saja. Tapi gak apa-apa kok, kita lanjut saja. Nanggung sudah sampai sini juga, masa harus balik. Gak enak sama orang-orang," jelas Dira.
Arya tersenyum lembut, dan merapikan helaian rambut Dira. Arya sangat tau istrinya sedang merasakan sesuatu, hingga Arya akan ke atas bertemu sebentar setelah itu pulang.
Mereka berdua pun masuk lift khusus. Di sana mereka hanya berdua, di dalam lift yang sangat luas dan besar itu.
"Kak, lift ini besar sekali? Beda dengan yang lain, apa ini khusus untuk tamu penting saja?" tanya Dira menatap kagum.
"Iya, Sayang. Ini khusus untuk tamu penting, agar gak berbaur dengan pelanggan biasa," jawab Arya. Setelah itu Arya meraih pinggang Dira, agar mereka tak saling jauh.
Njlakkkk ....
Arya dan Dira pun langsung terkejut dengan bunyi keras seperti benda jatuh itu. Arya juga merasakan, lift bukanlah naik melainkan merosot.
"Kak!" pekik Dira sangat takut. Goncangan itu membuat Dira terkejut, sekaligus tubuhnya terasa terhenyak kebawah.
"Dira, kamu tenang ada aku." Arya pun langsung menggendong Dira dengan posisi Bridal style. Arya gak mau Dira terlalu terguncang, dan lebih baik jika Arya menggendongnya.
"Kak, aku takut!" Dira pun semakin erat memeluk Arya.
"Ada Kakak di sini, kamu tenang saja."
Arya terus-menerus menenangkan Dira. Setelah itu Arya melihat, lift nya terhenti di lantai tujuh belas. Arya sangat takut, jika lift ini jatuh lagi. Dengan cepat Arya mendekati bel darurat, dan berusaha mencari pertolongan.
__ADS_1
Pihak hotel juga sudah bergerak cepat saat mengetahui itu. Sedangkan Arya hanya menunggu keajaiban, agar pintu lift terbuka.
Ya Allah apa lagi ini? Aku mohon selamatkan anak-istriku, aku rela menukar nyawaku agar mereka tetap aman. Jangan kau beri cobaan lagi, ya Allah. Doa Arya dalam hatinya.
Namun tak lama setelah itu, Arya mendengar rintihan kecil dari mulut Dira. Arya sangat terkejut hingga dia bertanya, apakah Dira merasakan sesuatu. "Dira, kamu gak apa-apa Sayang?"
"Kak ... perutku sakit, sangat sakit Kak!" Dira pun mencengkram keras kemeja Arya.
Bingung, panik, pusing, bercampur jadi satu. Arya sangat kebingungan, kenapa saat seperti ini Dira merasakan kontraksi.
"Apa sangat sakit?" Dira hanya mengangguk. Setelah itu rasa sakit yang mulai timbul, membuat Dira menggigit pundak Arya.
"Awww, sakit! Kak, sangat sakit Kak!" Rintihan Dira pun membuat Arya semakin bingung.
Arya menurunkan Dira, dan melihat ada darah yang menetes. Namun Arya gak tau, dan baru tau saat meletakkan Dira di lantai lift.
"Sabar, Sayang."
"Halooo, ada apa!" jawab Sintal sangat kesal. Pasalnya dia sekarang sedang sibuk mengurus keperluan anaknya.
"Kak, aku gak mau debat dulu. Aku dan Dira sekarang terjebak di dalam lift, namun sayangnya Dira mengalami kontraksi. Aku sudah memencet tombol bantuan, tapi sayangnya mereka belum menemukan kita," ucap Arya sangat panik. Arya saat ini menangis. Arya tak tega melihat Dira kesakitan, bahkan Dira terus mengeluh kesakitan.
"Kok, bisa?"
"Gak tau, tiba-tiba liftnya merosot kebawa dan berhenti di lantai tujuh belas," balas Arya sangat kesal.
"Sekarang bagaimana keadaan Dira? Apakah dia baik-baik saja, atau bagaimana?"
"Dira sedang kesakitan, dan mengeluarkan darah Kak! Aku sangat takut, jika terjadi ...."
Arya pun tak jadi meneruskan ucapannya, karena Dira tiba-tiba berteriak. Bahkan Arya melihat ketuban Dira pecah, hingga keluar begitu banyak.
__ADS_1
"Kak, air ketubanya pecah!"
Arya pun langsung menggenggam tangan Dira. Arya menangis pilu melihat nasib istrinya ini, apalagi di dalam lift gak ada seseorang. Arya juga mengabaikan teriakan Sintal dari ponsel, karena Arya lebih memilih menemani Dira yang kesakitan.
"Halooo! Brengsek, jawab dodol! Aku mau bicara, jangan ikut panik nanti kalian makin bingung!" umpan Sintal berkali-kali. Arya pun mengambil ponselnya, dan menghidupkan loudspeaker ponselnya.
"Aku sedang bingung, bodoh! Aku takut, gak usah maki-maki juga kali!" Kini Arya yang mulai geram.
"Sudah jangan bertengkar! Sakit ini!" teriak Dira.
Seketika Arya pun diam. Dia tak lagi berdebat, dia lebih fokus menenangkan istrinya yang mulai mengejan.
"Arya, mau gak mau kamu harus membantu Tia melahirkan. Aku akan kasih intruksi, karena jika ketuban pecah makan bayinya akan segera keluar. Sekarang dengarkan aku, kamu buka kaki Tia lebar-lebar. Setelah itu coba kamu lihat, apakah ada kepala yang terlihat dia sana?" tanya Sintal berusaha tenang.
Padahal Sintal sangat takut. Dia takut Arya salah menangani Dira, hingga berakhir fatal. Apalagi Arya sama sekali tak memiliki pengalaman, atau mengetahui tentang kebidanan.
"Ada kepala di sini, mau keluar! Astaga aku harus apa? Aku bingung, aku bingung ... ini aku harus apa lagi, kepalanya aku pegang tapi kembali masuk!" teriak Arya sangat panik.
"Aisshh ... kenapa kamu pegang, seharusnya kamu buka pinggiran pintu V Dira agar membuka jalan lahirnya," balas Sintal. Setelah itu Dira kembali mengejan, dan lagi-lagi kepala anaknya mulai terlihat.
"Muncul lagi, sekarang aku harus apa?"
"Kalian gak mempermainkan aku, kan? Ini sangat sakit, tapi kalian seperti main-main," protes Dira.
Dira merasa kehilangan tenaganya, dan mendadak gak ada semangat. Sedangkan Arya bingung, ini harus gimana lagi. Darah bercampur lendir, berada di mana-mana membuat Arya sedikit pening.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading