Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 102 Extra part 2000 lebih


__ADS_3

"Kak, Dira boleh jujur gak?" tanya Dira saat berada di kantor Arya. Setelah melewati kemacetan kota jakarta, akhirnya mereka sampai di kantor Arya. Dan semua orang menyambut mereka dengan ramah tamah, apalagi mereka juga memuji kecantikan Dira.


"Boleh, Sayang. Memangnya kamu mau bicara apa, sini biar Kakak dengarkan," balas Arya sambil menutup laptopnya. Dira pun berjalan menghampiri Arya, dan duduk di pangkuan Arya.


"Tapi kakak janji, jangan bilang Opah. Kalau sampai Opah tau, bisa-bisa Dira akan di marahin habis-habisan," ucap Dira sambil bergidik. Niat hati ingin ekting, tapi Dira malah ketakutan beneran. Sedangkan Arya yang merasa aneh dengan gelagat Dira, pun langsung memandang istrinya dengan tatapan menyelidiki.


"Kamu gak berbuat aneh-aneh kan? Dan satu lagi, aku mencium bau balsem dari tadi. Hanya saja saat aku mau tanya lupa," ucap Arya sambil melirik Dira.


"He He He.... Sebenarnya tadi aku hanya sandiwara, aku pura-pura nangis agar kakak dan Papa larang Opah bawa aku pergi," ucap Dira cengengesan.


"Jadi maksudnya kamu, bohong?" tanya Arya yang masih tak percaya.


"Iya, Kak. Aku lakukan itu semua karena aku gak mau ninggalin kakak dengan keadaan sakit, nanti kalau kakak sembuh aku akan pergi sendiri ke vila Opah. Sekarangkan kakak lagi sakit, jadi aku akan rawat kakak dulu," balas Dira dengan tersenyum lebar. Sedangkan Arya tak habis pikir dengan istrinya, yang bisa menangis dalam sekejap saja.


"Kamu harus jadi aktor, Dira. Kamu tau, kakak tadi sudah sangat marah dan ingin memukul Opah tau. Karena aku gak suka ada orang yang bikin kamu nangis, tapi omong-omong, kamu kok bisa sih nangis sampek gitu? Katamu hanya sandiwara?" tanya Arya sangat heran.


"Dira memang nangis beneran, Kak. Tadi pas Kakak ada di toilet, Dira sedikit olesin kelopak mata Dira pakai balsem. Sumpah itu sangat perih dan pedih, tapi aku harus tahan samapai kakek masuk ke dalam kamar," balas Dira sambil tertawa lepas.


Kaget? Itu yang dirasakan Arya, dia gak percaya istrinya bisa memiliki ide pake balsem. Jelas saat Dira masuk kamar mandi, dia sudah dengan keadaan nangis. Teryata dia gak bisa nahan rasa pedih di matanya, bukan karena kasihan dengan aku, gumam Arya dalam hati.


"Serius kamu pakai balsem? Jelas saja saat aku mengecup keningmu tadi bau balsem, ternyata istriku sangat nekat, sampai pakai balsem agar bisa nangis," ucap Arya sedikit kesal saat mengetahui kenyataan.


"Tapi usahaku berhasil kan? Dira gak jadi pergi, dan Dira akan tetap bersama Kakak sampai sembuh," balas Dira sambil menciumi pipi Arya.


Sedangkan Arya hanya bisa menghela napas berat, ingin dia marah, tapi Arya gak tega. Arya takut jika Dira menangis, dan itu sangat menyiksa untuk Arya.


"Besok-besok gak perlu seperti ini, kasihan mata kamu. Aku gak mau kamu sakit mata, Sayang," ucap Arya sambil memeluk erat tubuh sang istri.


"Baik, pak Bos!" balas Dira dengan semangat. Arya yang merasa gemas dengan ucapan Dira pun langsung menarik tengkuk Dira agar lebih mendekat, dengan sangat lembut Arya mendaratkan sebuah ciuman yang sangat lembut.


Luma*tan demi luma*tan mereka lakukan, lidah Arya terus mengakses isi mulut Dira. Lidah mereka saling berbelit satu sama lain, decapan demi decapan terdengar di dalam ruangan Arya.


Mereka berdua terhanyut dalam ciuman yang mereka lakukan, tangan Dira juga langsung melingkar di leher Arya. Dengan sangat rakus mereka melakukan ciuman, namun sayangnya ciuman yang sangat membara itu terganggu dengan datangnya Seto.


"Eh.... Bisa gak kalian ciuman di rumah saja. Kalian benar-benar gak tau malu, untung aku ini sabar orangnya, kalau tidak sudah aku penyet kamu kaya ikan Panggang!" ucap Seto dengan geram. Sedangkan Dira langsung menunduk malu, semenjak Seto tau tentang video CCTV itu.


"Lagian kamu nyelonong saja, ketuk pintu dulu gak bisa?" jawab Arya sangat kesal karena kegiatannya di ganggu oleh Seto.


"Mau apa lagi, kalau bukan bantu kamu tuan Arya Wiguna! Atau saya sudah tak di perlukan lagi? Kalau iya itu malah lebih bagus, karena aku akan pergi!" ucap Seto sedikit menyindir.


Karena merasa tak di butuhkan lagi, akhirnya Seto memutuskan untuk pergi. Namun saat dia akan berbalik, Arya langsung melarang Seto pergi karena dia ingin menanyakan sesuatu.


"Tunggu dulu, Seto!" panggil Arya sangat kencang. Seto pun langsung berhenti dan memandang Arya dengan kesal.


"Apa?"


"Kenapa kamu suruh Opah ke sini? Asal kau tau, dia membuat aku dan Papa tertekan tau gak. Opah juga menyuruh Dira juga Mama tinggal di vila bersamanya," ucap Arya sangat kesal. Ini semua terjadi juga karena Seto, jika Seto gak comberan Opah nya gak akan ke Indonesia.


"Itu biar kalian tau rasa. Aku mendatangkan Opah itu biar kalian gak melakukan hal-hal mesum di luar rumah. Mataku bahkan sampai ternodai berkali-kali, dan...." Ucapan Seto pun terhenti saat Dira berteriak.


"Stop! Jangan di terus kan, sumpah aku malu banget saat mengingat kamu pernah melihatku bertelanjang dada waktu itu. Jadi aku mohon jangan di bahas lagi, cepat pergi sana!" Usir Dira sambil menutup telinganya dengan jari tangan. Sedangkan Seto tak mau ambil pusing, karena dia di suruh pergi ya udah dia pergi


"Baiklah aku akan pergi. Tuan karena istri anda menyuruh saya pergi, jadi saya mohon undur diri," ucap Seto sedikit memicingkan matanya.

__ADS_1


"Dasar Seto gilak!" teriak Dira sangat kencang.


Setelah itu Arya berjalan ke arah pintu dan langsung mengunci pintu ruangannya, karena takut ada yang nyelonong kembali.


"Sudah aku kunci pintunya, sekarang kita lanjutkan lagi. Nanggung, ini terlanjur berdiri. Gak di tuntaskan gak enak," ucap Arya sambil memeluk Dira dari belakang.


"Kak, lebih baik di rumah saja. Aku takut nanti ada orang lagi, jadi lebih baik.... Aahhh...." Dira pun tak melanjutkan ucapannya karena Arya langsung mere*mas gundukan nanti sintal milik Dira.


"Jangan banyak bicara waktu kita gak banyak, Sayang." Setelah itu Arya langsung mencium bibir Dira dengan ganas. Sentuhan demi sentuhan Arya lakukan, agar Dira kembali berhasrat.


Hingga kini Dira mulai di abang batas, dia sudah tak tahan dan menyuruh Arya segera memasukkan miliknya. Dengan senang hati Arya memasukkan adik kecilnya itu, hingga desahan kecil pun lolos dari mulut Dira


"Ahh... Kak pelan-pelan, aku gak bisa mendesah panjang di sini!" Protes Dira saat Arya memompanya begitu cepat.


"Keluarkan saja, Sayang. Aku suka mendengar suara sexymu itu, suaramu begitu membuat aku bergairah," jawab Arya dengan terengah-engah.


"Gak mau! Aku takut ada karyawanmu yang mendengar, kamu tau ini kantor Kak, dan kamu nekat memasukiku di sini." Protes Dira lagi. Arya yang merasa jengkel pun langsung melepaskan lele beruratnya secara tiba-tiba. Hingga sang empu merasa kehilangan.


"Kok di lepas?" Dengus Dira.


"Kenapa? Gak enak kan pas lagi dalem-dalemnya di lepas, kamu sih ngomel terus jadi kita udahan saja," balas Arya yang merajuk. Sedangkan Dira merasa di campakkan di atas meja pun langsung mendengus, dengan cepat Dira turun dari atas meja dan menghampiri Arya.


"Serius kamu ngambek?" tanya Dira yang berdiri di hadapan Arya. Namun emosi dira semakin memuncak saat Arya tak menjawab pertanyaannya, dengan cepat Dira membenarkan pakaiannya setelah selesai Dira langsung bergegas pergi meninggalkan Arya.


Namun belum juga Dira melangkah, Arya sudah menariknya hingga Dira terjatuh di atas pangkuan Arya. Dira yang terkejut akan kelakuan Arya pun langsung memukul pundak Arya.


"Kakak!" Densus Dira sangat kesal.


"Mau kemana kamu, Sayang. Kita belum selesai loh, aku juga belum sampai puncak sedangkan kamu sudah 4x mencapainya," bisik Arya dengan tatapan menggoda. Dira yang merasa malu dengan ucapan Arya pun langsung menunduk dengan pipi yang bersemu merah, Arya sangat gemas jika melihat Dira menahan malu.


Sebenarnya anak ini punya berapa kepribadian sih? Kadang dia berani, kadang pemalu, kadang sangat cengeng, kadang sangat manja, kadang konyol, kadang membuat aku sampai kualahan. Aku sampai bingung menebak isi hati Dira, apa aku kurang dalam mengenal Dira ya? gumam Arya terheran-heran. Arya bingung dengan sifat istrinya yang seperti bunglon, dan itu semua membuat Arya bingung harus memperlakukan Dira seperti apa.


"Tadi kamu sangat kesal, kenapa sekarang kamu jadi malu-malu kucing. Tapi gak apa-apa, aku suka," ucap Arya dengan manja. Seketika bibir Dira langsung tersenyum saat melihat Arya kembali menjadi manja, entahlah Dira sangat suka jika Arya manja. Dan Dira juga gak perduli jika hubungan mereka di bilang terlalu drama, yang penting mereka bahagia.


"Mau minum susu gak? Kayanya Kakak sudah gak minum susu lama banget, ini juga sudah sakit gak di minum," ucap Dira sambil menunjuk ke arah dadanya. Padahal baru semenit tadi Arya meminum itu, tapi Dira seakan lupa dengan semuanya.


"Aku mau, sepertinya aku juga mulai haus, aku buka ya?" ucap Arya wajah sok imut. Inilah sikap Arya dan Dira, mereka seperti bunglon tiba-tiba berubah mood, dan expresi.


"Boleh, Kak." Arya yang mendapatkan persetujuan pun langsung membuka kemeja Dira lagi, perlahan-lahan Arya menanggalkan baju milik Dira dan bra yang melekat di gundukan montok itu.


Arya mere*mas kedua gundukan itu seperti mere*mas spon yang kenyal. Arya terus melakukan itu hingga Arya menemukan perbedaan di dua gundukan kesayangannya, dengan cepat Arya menimbang nimbang payu*dara Dira dan sedikit di kepal.


"Kamu apaan sih kak?" Protes Dira saat Arya tidak segera meminum nutrisinya, malah menimbang nimbang payu*daranya.


"Ada yang berbeda Sayang, ini gunung kembar kamu tambah montok, tau gak? Dan lagi ini kenapa kismisnya agak gelap ya?" Ucap Arya dengan memandang seksama dua gundukan itu.


"Aku juga merasa gitu sih, Kak. Bra aku sudah gak muat tau, yang tadinya uk 36, sekarang jadi 39," balas Dira dengan jengkel. Dira merasa kesal karena bajunya sudah gak ada yang muat, apa lagi bra, malah gak bisa tertampung.


"Jelas aku baru liat bra model renda tadi. Ternyata itu baru kamu beli ya, tapi kenapa aku gak menerima tagihan dari kartu kredit aku?" tanya Arya dengan heran.


"Karena aku pakai uang yang di berikan Vano, Kak. Sebelum kami menikah, Vano memberi aku kartu ATM untuk keperluanku dan aku baru menggunakannya setelah menikah dengan Kakak. Walaupun gak banyak sih," balas Dira. Sedangkan Arya merasa kesal karena istrinya tak mau memakai uang darinya, malah memakai uang Vano.


"Berikan kartu itu. Sekarang aku suamimu, jadi aku yang menanggung semua kebutuhanmu. Aku gak semiskin itu kali Dira, sampai-sampai kamu gak mau pakai uangku!" Geram Arya.

__ADS_1


"Apa salahnya sih Kak, aku pakek uang Vano? Kan aku juga pakeknya baru 3 kali saja, itu pun juga saat kakak sedang sibuk," Jawab Dira dengan bingung.


Gak ada salahnya sih, tapi aku kan kesal juga. Dira sudah menjadi tanggung jawabku, tapi masih pakai uang Vano. Aku berasa gak berguna.


"Sudahlah jangan bahas ini, aku gak mau berdebat. Tapi lain kali kalau mau beli apapun bilang aku, dan kamu harus pakai uang aku. Aku gak mau di cap suami gak mau kasih nafkah," ucap Arya sambil mengecup lebut bibir Dira.


"Baik, Bosku!" Setelah itu Arya menaruh mukanya di sela-sela lipatan gunung kembar, sambil menikmati semua itu Arya ingat sesuatu.


"Sayang, kapan kamu haid? Sepertinya aku akan menggempurmu lebih sering, sebelum tamu bulanan datang," ucap Arya yang masih di asik dengan bantal empuk Dira.


"Aku haid biasanya tanggal dua puluh, sekarang tanggal berapa? Sepertinya sih sudah waktunya," balas Dira sambil mengelus rambut tebal Arya.


"Kapan kamu terahir haid? Perasaan semenjak kita menikah kamu sama sekali belum haid, memang haid itu berapa bulan sekali?" tanya Arya dengan gemas dan sedikit menggigit kecil kismis coklat Dira, hingga membuat Dira terpekik.


"Aaaw! Sakit Kak!" Pekik Dira sambil mengelus benda kecil itu. Sedangkan Arya hanya tersenyum puas, melihat Dira cemberut kembali.


"Maaf."


"Gak apa-apa. Memang akhir-akhir ini aku agak sensitif, mungkin mau haid," ucap Dira lagi. Namun saat dia asik menekan-nekan benda kecil itu, Dira jadi ingat perkataan Arya barusan.


"Kak.... Kamu tadi bilang selama kita menikah, aku sama sekali belum halangan kan? Sekarang aku tanya, berapa lama kita menikah? " tanya Dira dengan serius.


"Kurang lebih dua bulanan, memang kenapa?" Jawab Arya santai. Sedangkan Dira langsung terbelalak, mendengar penuturan Arya.


"Kakak mana kalender? Aku mau liat sekarang juga, cepetan lepas ini dulu." Dira pun langsung bangkit dari pangkuan Arya dan mencari letak kalender. Setelah menemukan kalender, Dira benar-benar di buat kaget.


"Kamu kenapa, Sayang," Ucap Arya dengan menghampiri Dira.


"Kak aku sudah gak haid selama sebulan kak. Bagaimana aku bisa lupa dengan waktu bulananku, ini gara-gara kakak sih!" ucap Dira dengan kesal. Sedangkan Arya semakin bingung dengan maksud Dira.


"Memangnya kenapa?" Tanya Arya dengan kesal.


"Apa mungkin di perutku sudah tumbuh benih-benih kecebong? Tapi aku sama sekali gak merasakan apa-apa." Gumam Dira lirih sambil mengelus perutnya, sedangkan arya makin jengkel karena Dira gak menjawab pertanyaan nya.


"Jawab Dira!" Arya pun semakin kesal dengan Dira hingga mengucapkan kata-kata yang begitu menekan.


"Kakak kita harus ke rumah sakit." Ucap dira dengan membenarkan bajunya dan tak memperdulikan ucapan Arya.


"Buat apa?"


"Aku mau periksa. Apa benar benih-benih kecebongmu mulai tumbuh, kalau iya berati kamu mempunyai bibit unggul," Jawab Dira dengan malas.


"Bibitku memang unggul. Tapi benih-benih kecebong itu apa, aku baru dengar tau." Dira pun memutar bola matanya karena Arya sama sekali gak faham dengan maksudnya.


"Kemungkinan di dalam perut istrimu ini, tumbuh Arya atau Dira junior kakaku," balas Dira dengan nada penekanan hingga membuat Arya terkejut.


"Apa!"


*


*


*

__ADS_1


*


Happy Reading


__ADS_2