Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Kasih judul sendiri


__ADS_3

"Opa, Letta mau makan. Opa mau makan juga gak, Letta buatin telur ceplok," ucap Arleta sambil memegang Wajan kecil khusus untuk menggoreng telur.


"Memangnya, Letta bisa?" tanya Ryant sambil mencubit kecil pipi Arleta. Ryant sangat gemas dengan cucunya itu, apalagi kalau sudah berceloteh.


"Bisa dong, Opa. Letta kan mandiri, jadi bisa buat telur ceplok. Mau rasain telurnya Letta gak, nanti Opa kasih nilai ya?"


Ryant pun mengangguk, untuk mengiyakan ucapan Arleta. Setelah itu Arleta meminta bantuan Ryant untuk menyalakan kompor. Ryant gak perlu merasa khawatir, karena kompor yang dia miliki gak mengeluarkan api seperti kompor biasa.


Setelah itu Arleta menaruh wajan penggorengan. Sebelum itu, Arleta mengambil kursi untuk dirinya. Karena tinggi tempat kompor dan dirinya beda jauh, dan Arleta membutuhkan kursi agar sejajar.


Ryant melihat Arleta begitu fokus dengan masakannya, persis dengan Dira. Ryant pun tersenyum, mengingat masa dulu saat Dira masih ada di rumahnya.


Tanpa henti, Dira memasak segalanya. Yang paling sering, saat masak ayan rica-rica kesukaan Arya. Tapi sekarang Ryant hanya sendiri, bersama Aira.

__ADS_1


Hanya Aira yang tau bagaimana keadaannya. Bukannya Dira gak perduli, tapi Ryant lah yang melarang Aira untuk merahasiakan penyakitnya. Ryant gak mau jadi beban hidup Dira. Cukup waktu dulu, saat Dinda buta arah hingga membuat Dira menderita.


"Aduh!"


Arleta pun langsung menoleh ke arah Ryant. Arleta sangat panik, saat menilai Ryant memegangi dadanya. Dengan cepat Arleta mematikan kompor, dan mendekati Ryant.


"Opa kenapa?" tanya Arleta sangat takut.


"Opa gak apa-apa. Tolong ambilkan obat Opa di kamar, Opa taruh di atas laci." Arleta pun mengangguk. Setelah itu Arleta langsung pergi meninggalkan Ryant, untuk mencari obat.


"Opa, ini obatnya."


Ryant langsung mengambil obat itu, dan langsung meminumnya. Setelah selesai, Ryant masih memegangi dadanya. Bahkan Ryant juga sedikit sulit bernapas.

__ADS_1


"Opa, jangan bikin Arleta takut. Arleta hubungi Mommy, ya? Karena tante Aira kan keluar kota, sama Om," ucap Arleta dengan linangan air mata.


Sedangkan Ryant langsung memegang pipi tembem Arleta, dan sedikit menenangkan Arleta. "Opa gak kenapa-napa, Sayang. Ingat jangan pernah bilang sama Mommy maupun Daddy, karena Opa gak mau mereka khawatir. Cukup diam saja, ya."


Arleta hanya mengangguk saja. Arleta gak tau apa yang membuat Ryant gak mau jujur, tapi karena ini amanah, maka Arleta akan diam.


"Baiklah, Opa. Tapi, Opa harus jaga kesehatan ya. Arleta gak mau Opa sakit, sekarang Opa masuk kamar saja. Nanti biar Arleta yang buatkan makan, untuk Opa." Ryant langsung mengusap rambut Arleta.


Setelah itu, Ryant langsung berdiri dan menuju kamarnya. Dengan telaten, Arleta menuntun Ryant karena takut jatuh.


Terima kasih ya Allah, walaupun Dinda sudah gak ada di sampingku, tapi kau kirimkan malaikat kecil yang sangat menyayangiku. Dia anak yang sangat tekun, aku harap Arleta menemukan kebahgiaan sampai tua nanti. Doaku juga akan selalu menyertai, anak cucuku. gumam Ryant sambil berjalan.


Setelah sampai di kamar, Ryant menidurkan dirinya. Sedangkan Arleta menyelimuti tubuh Ryant, dan setelah itu meninggalkan Ryant untuk kembali memasak telur ceplok.

__ADS_1


Walaupun nanti hasilnya gak sesuai expectation, tapi setidaknya jadi telur ceplok yang bisa di konsumsi.


__ADS_2