Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - My Spoiled Family : Bangkit kembali


__ADS_3

Di suatu tempat yang sangat indah, dan penuh dengan bunga bermekaran terdapat dua orang manusia yang sedang berlari-larian di rerumputan hijau itu.


Mereka terlihat sangat bahagia, dan tak memiliki beban apapun. Bahkan mereka selalu bersenang-senang, tanpa memikirkan yang lainnya.


"Kak, kejar aku," teriak seseorang itu.


"Dek, jangan jauh-jauh. Kakak kehabisan napas, kamu larinya sangat cepat," balas Arya.


Ya, dua orang itu adalah Arya dan Vano. Mereka sekarang sedang bersama, dan berlari-larian di tengah-tengah rerumputan hijau. Mereka berdua terlihat bahagia, dan seperti enggan untuk berpisah.


"Payah, baru segitu udah nyerah," ucap Vano sedikit merajuk. Sedangkan Arya langsung tersenyum, dan memeluknya sangat erat.


"Kakak sangat bahagia, akhirnya kita bisa bertemu lagi Vano," ucap Arya lirih.


"Iya, tapi kamu harus pulang Kak. Ingat Dira menunggumu, dan Dira sudah aku serahkan padamu. Jaga dia, jangan sampai kamu melukai dia. Jika sampai Dira menangis sedikit saja, maka aku akan mengambilkan," balas Vano sambil memukul dada Arya.


"Apakah aku gak bisa lebih lama di sini, Vano? Aku masih sangat merindukanmu, dan aku masih ingin bercanda tawa denganmu seperti dulu," ucap Arya sangat kecewa.


"Kak, sebentar lagi kita akan bersatu kembali. Pulanglah, dan sambut aku kembali. Aku ingin saat aku pulang, kamu lah orang pertama yang aku lihat. Eh salah, orang kedua. Karena mungkin yang aku lihat pertama kali, adalah orang lain," ucap Vano sambil terkekeh.


Sedangkan Arya semakin bingung dengan sikap adiknya ini. Arya gak paham dengan perkataan Vano, yang bilang akan pulang dan minta di sambut.


"Maksudnya gimana, Vano?" tanya Arya sekali lagi.


"Sudahlah, Kak! Jangan banyak tanya, cepat pulang dan sambut aku pulang. Cepat ikuti anak itu, karena dia yang akan menunjukkan jalan pulang." Vano pun menunjuk ke arah bocah kecil itu. Bocah sekitar umur lima tahunan, dan dia sangat mirip dengan Vano kecil.


"Van ...."


"Ikuti dia, aku akan segera kembali. Pulanglah, cepat temui Dira. Bilang sama dia, aku akan kembali ke tengah-tengah kalian lagi." Vano pun terus mendorong Arya hingga mendekati bocah itu.


"Daddy, ayo pulang. Mommy sudah menunggu kita, ayo pulang," ajak bocah laki-laki itu.


"Kenapa kamu memanggilku, Daddy? Dan kaku juga Van ...." Arya tak melanjutkan ucapannya karena mencari Vano yang tiba-tiba hilang.

__ADS_1


"Vano ... Vano ... Vano ...." Arya terus berteriak, dan melepaskan tangan bocah itu. Namun dengan cepat bocah kecil itu meraih tangan Arya, dan menyeretnya paksa.


"Ayo pulang, Daddy!"


"Lepas gak, aku mau mencari adikku dan kamu juga siapa? Asal panggil aku Daddy, ingat aku hanya Daddy-Nya si Baby-twins!" bentak Arya.


Namun tiba-tiba Arya merasakan tarikan bocah itu lebih kencang, bahkan Arya sampai bingung karena bocah itu mampu menyeret Arya yang enggan pergi.


"Sialan!"


Brukkk ....


"Haaa ...." Arya pun langsung membuka mata, dan napasnya juga sangat ngos-ngosan. Arya memandang sekelilingnya, dan dia langsung menyadari jika dia ada di rumahnya.


"Apakah tadi mimpi? Tapi kenapa Vano terus berkata sambut dia? Apa maksud Vano tadi." Arya terus memikirkan ucapan Vano.


Namun tak lama setelah itu, Arya mendengar suara keributan yang berhasil menganggu pendengar Arya. Karena merasa penasaran, Arya akhirnya melepaskan alat oksigen dan juga jarum impus yang ada di tangannya.


Dengan tertatih Arya berjalan keluar, dan perlahan-lahan menuruni tangga. Semakin lama Arya mendengar tangisan wanita yang sangat dia cintai, karena mereka panik akhirnya Arya mempercepat langkahnya.


"Tante, aku mohon jangan egois. Dira lagi hamil, Tante. Cobalah memahami Dira, dan jika Arya tau perlakuan Tante pasti dia akan marah besar," jelas Seto sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan Dinda.


"Diam kamu, Seto! Tante gak menyangka kamu merencanakan ini semua, untung saja tante menaruh CCTV di depan dan untungnya Tante masih ada di dekat sini," ucap Dinda dengan nada tinggi. Seto pun langsung terdiam, dia gak menyadari jika ada CCTV di luar.


"Ma, izinkan aku melihat kak Arya. Dira sangat merindukan Kakak, aku mohon hanya lima menit saja," pinta Dira.


Namun emosi Dinda semakin muraka, dan akan mendaratkan tangannya di di pipi Dira. Namun belum juga tangan Dinda menyentuh Dira, mereka sudah di kejutkan dengan suara keras Arya.


"Jangan pernah menyentuh istriku! Jika Mama berani menampar istriku, maka Mama bukan Mamaku lagi!" bentak Arya sangat keras.


Semua orang sangat terkejut, bahkan sampai terdiam sesaat karena terpaku. Mereka tak mengira jika Arya akan sadar, dan berkata seperti itu.


"Kenapa diam? Aku bukan hantu, jadi gak perlu begitu expresinya," ucapan Arya sangat lantang. (Ya Allah Arya, kamu tuh habis marah sekarang bikin orang bengek 😌)

__ADS_1


"Kak Arya!" Dengan cepat Dira berlari ke arah Arya. Dira juga tak perduli lagi jika dia sedang hamil, yang dia tau hanya satu. Dira sangat bahagia melihat suaminya sadar.


Setelah sampai di depan Arya. Tanpa di sangka Dira langsung ambruk, dan pingsan di pelukan Arya dan membuat Arya juga Seto semakin panik.


"Dira!" Seto pun berlari ke arah Dira. Sedangkan Lisma yang daritadi menangis, langsung ke kamar mengambil minyak kayu putih.


"Dira bangun, Sayang!" teriak Arya sambil menciumi pipi Dira. Arya sangat terkejut melihat kondisi Dira yang sangat kurus, dan perut membuncit nya.


"Arya, kita bawah ke kamar. Biar Lisma yang panggil dokter," ucap Seto sangat panik.


"Tapi kamu yang gendong Dira. Kali ini aku izinkan, karena aku gak kuat gendong dia. Tapi tetap ingat, tangannya di kondisikan!" seru Arya sambil menatap sinis.


"Ya elah, saat kamu koma aku udah puas peluk. Jadi aku sudah bosen," ucap Seto sambil menggendong Dira. Namun tak lama setelah itu, Seto langsung mendapat jitak kan dari Arya.


Petak!


"Sialan, sakit dodol! Mau nie istrimu ku lempar, agar kamu gak punya istri?" umpat Seto sambil meringis kesakitan karena kepalanya di jitak.


"Berani lempar Dira, maka aku akan lempar Sekar ke Kandang buaya!"


"Jangan ngawur kamu, bisa-bisa aku di hantui Papa!"


"Kalau gitu cepat jalan, jangan bengong saja!"


"Iya, iya, ya ampun. Dosa apa aku ini, sampai punya saudara sengklek gini!"


"Bacot, ayo jalan."


Begitulah perdebatan konyol mereka. Bahkan Arya terlihat seperti orang sehat, tak sakit sama sekali. Mereka terus berjalan ke atas, dan meninggalkan Dinda yang masih terpaku di ruang tamu.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading


__ADS_2