
"Bagaimana keadaan Mama, Tal?" tanya Arya dengan nada kesal. Jelas kesal sedari tadi Sintal menatap Dira, dengan mimik muka mesum. Padahal Sintal menatap Dira karena mengingat kejadian beberapa jam lalu, saat Dira konsultasi masalah obat tidur.
"Tante akan tidur pulas malam ini, besok pagi tante akan bingung dengan sejuta pertanyaannya," ucap Sintal sambil tertawa lepas. Dia tak habis pikir, jika Dira melakukan itu semua untuk Dinda.
"Jangan tertawa, ini gak lucu Dok!" bentak Dira yang tak tahan di ejek. Dia benar-benar malu, untuk kejadian ini. Untuk Dinda masih bisa selamat, kalau tidak Dira bisa menyesal seumur hidup.
Sedikit catatan untuk Sintal. Dia bernama Alexander Sintalno Bramastya, anak dari Angga Bramastya. Sintal adalah anak pertama, dan memiliki adik bernama Alexia Sintiana Bramastya. Namun sayangnya, Sintia atau bisa di panggil Tia, menghilang saat usianya Lima tahun.
Sintal juga adalah pewaris tunggal keluarga Bramastya, dan Sintal kelak yang akan memimpin rumah sakit yang di dirikan oleh ayahnya. Namun kesuksesan itu, hanya kebahagiaan sedikit saja. Karena sampai sekarang, Sintal masih menyandang gelas JONES jomblo Ngenes.
Bukan karena tak ada yang suka dengan Sintal, namun Sintal lah yang selalu menolak cinta para Cinderella dan lebih memilih sendiri. Entah sampai kapan, mungkin sampai buyung puyuh nya alot.
"Jadi kamu tanya tentang obat tidur itu, untuk mertuamu ini Dira? Sungguh kamu membuatku ingin tertawa terbahak-bahak, karena kelakuanmu itu," jelas Sintal. Sontak Dira langsung menundukkan kepalanya, karena malu sampai ke ubun-ubun.
"Sebenarnya bukan untuk mama, tapi obat itu untuk Kakak. Cuma gegara kesalahan teknisi, jadi mama yang meminumnya." Jujur Dira dengan malu-malu.
Ya Allah, malu banget aku! Taruh mana ini, taruh mana mukaku! gumam Dira sambil menahan malu setelah mati.
"Buat apa mau membius Arya, jika kangen katakan kangen saja gak perlu pakai bius-biusan." Arya pun langsung memukul bahu Sintal saat Sintal mengejek Dira terus-terusan. Ada rasa gak rela melihat Sintal dan Dira seakrab ini, bahkan wajah Arya terlihat sangat marah saat ini.
"Terserah Dira mau buat apa, hidup-hidup dia kenapa kamu yang ribut? Sono cepat cari pacar biar tau rasanya kangen tapi tak tersampaikan, kalau sudah rasain kamu gak bakalan ngomong kayak gitu dodol!" ucap Arya dengan emosi.
"Buat apa pacaran? Bikin orang repot saja. Kalau bisa aku gak akan pernah pacaran atau sampai menikah, karena wanita sangat merepotkan," jelas Sintal sambil tersenyum mengejek. Jelas ucapannya ini mengundang emosi Dira, karena Dira merasa tersindir dengan ucapan Sintal.
"Wanita merepotkan? Jadi menurut Dokter wanita sangat merepotkan! Sungguh gak punya hati, ingat Dok Allah tak pernah tidur dan saya yakin suatu hari nanti anda akan menjadi budak cinta seseorang. Bahkan seseorang itu tak akan pernah mencintai anda, disitulah anda akan merasa jika anda butuh wanita!" Ucap Dira sangat menggebu-gebu. Bahkan suasana pun menjadi panas, karena perdebatan antara mereka.
"Kamu menyumpahi,aku? Ck... Dengarkan aku nona Dira Larasati, yang paling cantik. Sumpahmu itu gak akan mempan untuk aku, jadi simpan baik-baik oke," bcap Sintal sambil mengacak-acak rambut Dira. Namun Arya dengan cepat menampel tangan Sintal, karena dia tak ikhlas Sintal menyentuh calon istrinya.
__ADS_1
"Jangan Pegang-pegang, rambut istriku!" Larang Arya sangat sinis, bahkan terlihat garang.
"Pelit amat lu, Pak," dengus Sintal. Setelah itu Sintal langsung berpamitan untuk pulang karena tugasnya sudah selesai, di rumah ini. Namun ternyata Dira masih sangat tak suka dengan ucapan Sintal, hingga Dira memanggil Sintal saat ada di ambang pintu.
"Tunggu!" Teriak Dira sangat kencang. Sedangkan Arya dan Sintal langsung menoleh barengan, saat Dira berteriak begitu kencang.
"Apa?"
"Mari kita taruhan! Dalam satu tahun ini jika dokter belum juga menemukan orang yang membuat dokter menjadi budak cinta, makan aku akan pergi dari hidup kak Arya. Namun jika belum setahun ini dokter menemukan orang yang membuat dokter gila, atau seperti budak cinta dan sampai lupa urat malu. Maka anda harus memenuhi semua keinginan saya! Bagaimana apa anda setuju?" Tantang Dira pada Sintal.
Sungguh ini bagikan petir di siang bolong, karena pertaruhan ini membuat Arya was-was. Iya kalau Sintal dapat cintanya, kalau tidak?
"Gak... Pokoknya engak, apa-apaan kamu ini. Masa gara-gara terpancing dengan curut satu ini kamu sampai korbankan cinta kamu, pokoknya aku gak setuju enak saja pakek acara perjanjian seperti ini," protes Arya yang sangat panik. Panik karena takut jika Sintal yang menang, dan Dira kalah.
"Bisa diam dulu gak, Kak!" bentak Dira sangat kencang. Hingga Arya langsung diam seketika, karena takut dengan pelototan Dira.
"Kamu yang akan menyesalinya, dokter Alexander Sintalno Bramastya!" Dira pun tersenyum sinis. Setelah deal dengan tantangan yang di berikan Dira, Sintal langsung meninggalkan kamar Dinda dengan langkah yang sangat macho.
Sedangkan Arya yang merasa bimbang pun, hanya bisa mondar-mandir di depan Dira. Hingga membuat Dira kesal, dan ingin memakan Arya.
"Bisa diam gak sih, Kak?" bentak Dira sekali lagi. Jelas Arya juga ikut kesal, karena omongan gak guna Sintal, Dira jadi ikut-ikutan gak beres.
"Aku itu gak habis pikir sama kamu? Bisa-bisanya kamu membuat perjanjian kayak gitu, kalau Sintal menang bagaimana?" Omel Arya dengan sedikit membentak.
"Bisa gak, Kakak gak cerewet gitu? Kakak jadi seperti orang gila yang ngomel-ngomel gak jelas tau, dan untuk masalah dokter Sintal! Aku yakin bawah aku akan menang, kakak lihat saja nanti," ucap Dira amat percaya diri.
"Terserah kamu! Pokoknya jika kamu sampai kalah, aku akan kurung kamu di dalam kamar biar gak minggat!" Dira pun langsung tertawa mendengar perkataan Arya yang begitu takut akan kekalahan Dira.
__ADS_1
"Kamu lucu tau gak, Kak."
****
Sintal keluar dari kamar Dinda dengan menggerutu tak jelas, Sintal sangat kesal dengan Dira. Sintal merasa harga dirinya di coreng oleh Dira, apa lagi mendengar sumpah serapahnya Dira tadi, membuat darah Sintal mendidih.
Sintal berjalan dengan amarah yang meledak-ledak, hingga ia tak melihat di depan nya ada seseorang yang sedang berdiri bingung sambil memegangi perut nya.
BRUUKK..
"Aduh!" Pekik Fani saat terjatuh. Saat tersadar jika dirinya jatuh, Fani langsung memegangi perutnya yang terasa sedikit nyeri.
"Maaf tadi saya gak melihat jalan, apa kamu baik-baik saja? Apa perutmu sakit? Kok perutnya kamu pegangin terus, dari tadi?" tanya Sintal dengan sedikit khawatir. Namun berbeda dengan Fani, dia menatap tak suka dengan Sintal.
"Punya mata gak sih kamu! Jika sampai terjadi sesuatu dengan anakku, aku pastikan akan membunuhmu saat ini juga," ucap Fani dengan tatapan tajam dan penuh amarah. Namun Sintal sama sekali tak perduli dengan ucapan Fani, dia malah semakin bertanya pada Fani.
"Apa perutmu sakit? Aku seorang dokter, biar saya priksa sebentar. Saya benar-benar minta maaf karena tadi tak melihat kamu, sungguh saya sangat menyesal," ucap Sintal sambil membantu Fani berdiri.
"Aku bisa pergi ke dokter sendiri, tak perlu kamu memeriksa kondisi aku. Jalan saja bisa teledor apa lagi waktu memeriksa orang, bisa meninggal nanti yang kamu obati!" balas Fani dengan nada ketus dan setelah itu Fani langsung meninggalkan Sintal sendiri di ruang tamu.
"Orang yang sangat unik," gumam Sintal sambil tersenyum. Setelah melihat Fani menghilang dari depan matanya, Sintal langsung bergegas pergi dari rumah Arya.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading