
"Kak ayo kita lihat sunset, yuk?" ajak Dira saat sedang memakan ice creamnya.
Sore ini Dira merengek minta makan ice cream, dan Arya langsung menurutinya. Arya memang tak pernah menolak keinginan Dira, apapun pasti Arya berikan jika dia mampu.
"Baiklah." Mereka berdua pun akhirnya menuju PANTAI JIMBARAN BALI. pantai ini sangat terkenal sebagai tempat makan malam romantis,dan Pantai ini banyak di kunjungi dengan pasangan yang sedang menjalankan bulan madu. Banyak orang yang suka tempat ini karena memiliki tempat makan yang sangat romantis di tepi pantai.
Tak lama setelah itu, mobil yang di sewa Arya sampai di tempat tujuan mereka. Dengan sangat gembira Dira langsung keluar dari mobil, dan berlarian kesana-kemari seperti anak kecil.
"Dira awas jatuh!" teriak Arya saat melihat istrinya berlari sangat kencang. Bahkan Dira seperti anak ayam yang baru keluar dari kandang.
"Ayo cepat sini Kak. Dira ingin makan seafood di sini, aku ingin pesan semua menu. Dira suka seafood," teriak Dira sambil mencari tempat duduk. Sedangkan Arya hanya menggelengkan kepala, saat melihat tingkah istrinya itu.
"Untung cinta! Kalau gak cinta, udah aku cemplungin ke dalam laut. Tapi dipikir-pikir lagi, sayang juga kalau Dira di cemplungin ke laut. Nanti aku gak bisa mendapatkan Nutrisi, dari Dira," ucap Arya sangat lirih.
"Kak cepat pesan makanan! Aku sudah lapar, aku juga mau yang seperti itu," ucap Dira tanpa henti. Bahkan Dira selalu menunjuk ke arah orang, karena ingin memakan seafood seperti mereka.
"Iya bawel!" Dira pun langsung mengerucutkan bibir, sebagai tanda ngambek dari Dira. Sedangkan Arya semakin ingin mengigit bibir yang menggoda itu.
"Awas ya kamu. Nanti sampai hotel bibir kamu akan aku makan, dan gigit!" ucap Arya sambil berlalu. Dira pun hanya tersenyum geli melihat Arya, karena semenjak menikah Dira semakin tau sifat Arya.
"Ternyata suamiku doyan, menyusu. Apakah dulu Mama gak pernah kasih dia susu, sampai saat merasakan punyaku langsung ketagihan," gumam Dira sambil tersenyum. Setelah itu Dira memainkan ponselnya sambil menunggu Arya.
Namun tak lama setelah itu, datanglah Serlin yang entah darimana tiba-tiba muncul di hadapan Dira dengan tatapan sinis.
"Hey, Jala*ng!" teriak Serlin sangat kencang. Tentu Dira sangat terkejut, tapi Dira mencoba menahan amarah.
"Maaf, anda siapa?" balas Dira sangat sopan.
"Apa kamu sudah lupa dengan aku?Padahal baru beberapa hari kamu mengataiku pelakor, tapi aku hanya balas tersenyum saja. Karena yang pelakor adalah kamu sendiri!" ucap Serlin sangat keras.
"Oh ... Kami Serlin, mantan pacara Arya?" balas Dira acuh tak acuh. Menurut Dira, Serlin bukanlah levelnya jadi tak perlu menanggapinya jika belum keterlaluan.
__ADS_1
"Eh ralat ya! Aku bukan mantan, karena kami tak pernah ada kata-kata putus. Arya masih tunanganku dan aku akan merebutnya kembali, ingat itu wanita jala*ng dan murahan!" teriak Serlin. Sedangkan emosi Dira langsung naik saat dirinya di katai jala*ng dan murahan.
"Kamu bilang apa tadi? Coba ulangi, karena aku tak dengar. Cepat katakan lagi!" bentak Dira sangat murka.
"Apa kamu tuli! Aku bilang kamu wanita murahan yang mengincar tunanganku, dan kamu merebutnya dariku. aku masih tunangannya kau dengar itu wanita murahan!"
Plakkk!
Satu tamparan berhasil lolos di pipi Serlin. Semua orang yang berada di pantai tersebut langsung ber bisik-bisik membicarakan mereka berdua, sedangkan Serlin yang kesal pun ingin menampar balik Dira, namun tangannya kalah cepat dengan Dira.
"Lepaskan tanganku, bodoh!" Ronta serlin. Namun tenaga Dira lebih kuat dari Serlin, karena memang Dira pernah mengikuti latihan Karate waktu sekolah dulu.
"Aku gak terima kamu mengatai aku wanita murahan bodoh. Aku ingatkan lagi dan buka itu telinga lebar-lebar, aku bukan pelakor, jala*ng, ataupun wanita murahan! Aku adalah istri Arya Wiguna, dengarkan itu baik-baik!" ucap Dira sangat tegas.
Semua orang pun semakin berkerumun melihat pertengkaran mereka berdua, bahkan ada yang mengabadikan pertengkaran mereka. Tanpa ada yang menolong, ataupun melerai.
Sedangkan di sisi lain, Arya masih belum sadar akan itu. Arya masih asik dengan memilih-milih menu. Tanpa dia tau, jika mantan dan istrinya sedang bertengkar.
"Aku gak pernah memanfaatkan kepergianmu Serlin. Sebelum aku menikah dengan Arya, dia sudah memiliki kekasih! Dan itu bukan aku melainkan kak Fani, aku menikah dengan Arya karena wasiat almarhum suamiku Vano! Adik kandung Arya, jadi jangan pernah menyebutku pelakor!" balas Dira tak kalah keras. Dira gak mau kalah karena dia benar, jika Dira salah dia akan mengakui salah.
"Halah mana mungkin, aku tak percaya. Sekali pelakor ya tetap pelakor, sudah salah gak mau ngaku dasar wanita murahan," elak Serlin dengan sedikit keras agar semua orang semakin salah paham. Namun Serlin tak tau jika ucapannya membuat Dira semakin marah, dan murka.
"Dasar mulut comberan, gak ada ahlak. Gak pernah di sekolahkan, terima ini pembalasanku!" teriak Dira sambil mencakar mulut Serlin. Sedangkan Serlin yang belum siap akan serangan Dira pun terjatuh, karena terkejut dengan serangan Dira.
"Rasakan ini cakaranku! Sekali-kali mulutmu perlu di didik, percuma kamu wajah cantik tapi otak macam dodol!" Dira pun semakin mencakar mulut Serlin dengan sangat ganas. Pertikaian tak bisa di hentikan, dan Serlin teriak meminta tolong agar semua orang membantunya.
"Tolong ... Tolong saya!" teriak Serlin Karena dia sudah tak bisa berkutik. Dira terlalu semangat dan tak memberikan sela sedikitpun, hingga lawannya kalah telak dalam pertengkaran ini.
Semua orang tak ada yang berani melerai mereka hingga seseorang pelayan, yang tau Dira datang dengan Arya pun langsung mencari keberadaan Arya.
"Mas ... Istrinya bertengkar dengan selingkuhan mas, mereka saling jambak-menjambak di sana," ucap pelayan itu.
__ADS_1
Arya pun langsung terkejut mendengar ucapan pelayan itu, dan langsung berlari ke arah kerumunan orang-orang. Betapa sakit hati Arya saat melihat istrinya di jambak oleh Serlin, namun posisinya menang di Dira. Karena Dira duduk di atas tubuh Serlin, dan terus saling cakar.
"Stop!" teriak Arya dan membuat mereka berdua berhenti. Dira yang tau suaminya datang langsung berdiri dan memeluk Arya.
"Arya dia gila, dan tiba-tiba menyerangku. Inikah wanita yang kamu nikahin, seorang perempuan yang sangat liar?" ucap Serlin sambil berusaha berdiri.
"Kamu yang orang gila! Tiba-tiba datang dan menuduhku pelakor, pakek kata-kata murahan segala. Kalau kamu gak percaya tanya orangnya langsung, apakah aku merebut Arya darimu?" balas Dira sambil membereskan rambutnya.
"Kamu mau apa lagi, Serlin! Kamu sudah meninggalkan aku selama empat tahun, kabur dari pernikahan dan sekarang datang tiba-tiba pakai acara menuduh istriku murahan," tanya Arya sangat murka. Arya tak terima istrinya di hina, apalagi di hadapan banyak orang.
"Ingat kamu yang meninggalkan aku, bukan aku yang meninggalkan kamu Serlin! Sekarang buat apa kamu datang kembali? Apa kamu tak ingat dulu kamu membuangku dan sekarang kamu mau memungutnya kembali, sadar Serlin kita hanya masa lalu dan masa depanku hanya Dira bukan kamu!" Ucap Arya sekali lagi. Setelah itu tanpa aba-aba Arya langsung mencium bibir Dira di hadapan orang banyak.
"Kamu dengar dan lihat sendirikan Serlin. Jadi ucapanmu yang menuduh aku pelakor itu salah, karena memang aku bukan pelakor. Taubat sebelum terlambat kamu Serlin. Karena sudah jelas, aku dan suamiku akan pergi." Dira pun langsung menggandeng Arya untuk meninggalkan tempat itu.
Mereka tak memperdulikan Serlin yang sangat murka akan sikap mereka berdua, bahkan mereka mempermalukan Serlin di hadapan semua orang.
"Kita gak jadi makan, qku sudah memesan semuanya. Belum bayar juga, kasihan pemilik Restaurant kalau di batalkan," bisik Arya.
"Oh iya lupa. Bayar dulu sana aku tunggu, dan suruh bungkus saja kita makan di hotel," balas Dira sambil tersenyum.
"Baiklah, bu Bos!" Arya pun langsung melesat kembali ke tempat pemesanan. sedangkan Dira hanya terkekeh melihat suaminya yang tidak macho lagi, karena terlalu bucin.
"Kenapa kamu jadi seperti Pras, Kak? Sifat mu sekarang lempeng-lempeng saja, mana sikap dingin mu dulu?"
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1