
Setelah menempuh perjalanan sangat panjang, kini Seto berhasil membawa Arya ke rumahnya dengan selamat. Walaupun saat ini keadaan Arya tak bisa di bilang baik, tapi Arya tetap kekeh ingin di rumah saja.
"Ya Allah, Kak!" Dira pun langsung berlari saat melihat suaminya di papah Seto. Tubuh Arya gemetar sangat hebat, seperti orang kedinginan dan Itu membuat Dira semakin panik.
"Dira, cepat suruh mbok Ria ambilin air hangat. Ini Arya kedinginan, kalau bisa di kompres air hangat." Dengan tangisan yang begitu pilu, Dira menganggukkan kepala sambil berlari ke arah dapur.
"Om, bisa bantu aku gendong Arya masuk ke dalam kamar? Aku gak kuat angkat sendiri, badannya terlalu berat," pinta Seto pada Angga.
"Bisa, ayo kita bawa Arya ke dalam kamar." Mereka pun langsung mengangkat tubuh Arya agar bisa di rebahkan di atas ranjang.
Sedangkan Dewi masih sibuk mengurus Baby-twins dengan Elin. Dewi sebenarnya juga panik, tapi Dewi berpikir lagi, jika dia ikut histeris yang ada Dira ikut histeris juga.
Sedangkan Dira mengambil air hangat sendiri, tanpa meminta bantuan pada mbok Ria. Dira gak mau merepotkan mbok Ria, hanya karena mengambil ari hanya.
Setelah selesai, Dira langsung berlari ke kamar sambil membawa baskom dan juga handuk kecil untuk mengompres Arya.
Dengan langkah gemetar, Dira mendekati suaminya dan duduk di pinggir ranjang. Air mata juga terus mengalir di mata Dira, karena melihat suaminya seperti ini lagi.
"Ka ... kak, kita kedokter ya? Kita menginap di sana lagi, aku mohon," ucap Dira sambil mengompres Arya. Namun dengan cepat Arya menggeleng, dan langsung menggenggam tangan Dira.
"Gak mau, aku gak bisa bebas di sana. Aku hanya ingin di peluk saja, aku mohon jangan bawa aku ke rumah sakit lagi. Aku hanya ingin di peluk kamu, sudah cukup," balas Arya sambil mencengkram jemari -jemari Dira.
"Baiklah, jika kamu hanya mau peluk. Sini aku peluk, sampai kamu puas." Dira pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Di taruh kepala Arya di lengan Dira, dan Arya langsung menyembunyikan wajahnya di dada Dira.
__ADS_1
Sesekali Dira merasakan tubuh Arya bergetar hebat, seperti orang mengigil. Dira meminta Angga mematikan AC, sedangkan Seto menyelimuti Arya dengan selimut tebal.
"Papa tinggal keluar dulu, kamu harus kuat menjalani ini Nak." Bisik Angga tepat di telinga Dira.
"Iya, Pa. Terima kasih, sudah mau membantu Tia," balas Dira. Angga pun langsung mencium kening Dira, dan mengelus lembut Kepala Dira.
"Kamu anak Papa, apapun akan Papa lakukan agar kamu bahagia. Jangan pernah membebani dirimu sendiri, cerita sama kami agar hatimu lega nanti," ucap Angga sebelum meninggalkan Dira. Setelah itu Angga mengajak Seto keluar dari kamar Dira, dan mengajak Seto ke ruang tamu.
Sedangkan Dira langsung memeluk erat Arya. Dira sangat takut kehilangan Arya, apalagi kondisinya sekarang lebih parah karena Arya tak mau rawat inap di rumah sakit.
"Di ... Dira, peluk aku lebih erat," pinta Arya dengan terbata-bata. Dengan cepat Dira memeluk suaminya itu, dah sampai Dira melepaskan blouse nya agar Arya mendapatkan kehangatan dari tubuh Dira langsung.
Ingin sekali aku menjerit saat ini, tapi aku berusaha menahan tangis agar kamu tak merasa sungkan untuk mengeluh. Aku berusaha tegar merawatmu, padahal hati ini sangat rapuh melihat kamu seperti ini. Tubuhku seakan di sayat-sayat mendengar rintihan mu, bahkan telinga ini enggan lagi mendengar jerit kesakitan itu. Tapi aku harus kuat, dan sabar agar kamu semangat terus. Aku tak bisa hidup tanpa kamu, jadi aku mohon bertahanlah untukku. Buktikan jika kamu mencintai aku, Arga. gumam Dira sambil terus memeluk erat Arya.
Namun tak lama setelah itu, Dira merasa ada yang aneh. Yang tadinya Arya memeluknya erat, tiba-tiba pelukan itu perlahan-lahan merenggang.
"Ka ...." tenggorokan Dira terasa tercekat. Sungguh Dira belum rela kehilangan Arya, apalagi sampai terjadi apa-apa dengan Arya.
Karena tak mendapatkan jawaban. Dengan perlahan Dira menarik tubuh Arya, dan memastikan Arya masih sadar atau tidak. Namun belum juga Dira memeriksa keadaan Arya, Dira terlebih dahulu di kejutkan dengan kondisi badan Arya yang membiru.
"Ya Allah, Kak. Kamu kenapa, aku mohon buka mata kamu. Aku belum mengizinkan kamu pergi, sekarang buka mata kamu!" teriak Dira. Bahkan teriakan Dira sangat kencang, hingga membuat Angga, Seto dan Dewi masuk ke kamar Dira.
"Kak, bangun. Jangan tinggalkan aku, aku mohon!" teriak Dira sambil menepuk-nepuk pipi Arya agar sadar. Namun usah Dira gak berhasil, karena Arya sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Arya kenapa?" tanya Seto.
"Gak tau, tiba-tiba seperti ini. Aku mohon bawa kak Arya ke rumah sakit, aku gak mau dia kenapa-napa," balas Dira sangat histeris. Sedangkan Dewi langsung terisak kencang, melihat anaknya menjerit-jerit menangis Arya.
Elin, dan mbok Ria yang merasa sedih. Langsung membawa Baby-twins, yang ikut menangis karena melihat Dira menangis. Mereka sekarang tau jika Daddy-Nya, dalam kondisi tak baik-baik saja.
"Baiklah, aku akan bawa Arya ke rumah sakit. Elin, tolong bilang sama pacarmu untuk menyiapkan mobil segera." Elin pun langsung mengangguk dan berlari keluar.
Sedangkan Angga dan Seto langsung mengangkat tubuh Arya, dan membawanya keluar. Dira yang masih belum sadar akan pakaian, langsung di cegah oleh Dewi.
"Tunggu, pakai bajumu dulu. Kamu gak mungkin ke rumah sakit, hanya memakai Bra saja," ucap Dewi menghentikan langkah Dira.
"Ya Allah, Ma. Aku lupa, tadi lepas baju agar kak Arya hangat." Tanpa basa-basi lagi, Dira langsung mengambil bajunya dan bergegas memakainya. Setelah selesai, Dira langsung menyusul Seto.
Dura akhirnya pergi kerumah sakit, bersama Angga dan juga Seto. Untuk Baby-twins Dira taruh rumah, karena Dira tadi sudah memompa ASI-Nya untuk mereka.
Di dalam perjalanan Dira selalu merapalkan doa-doa, dan berusaha menghangatkan tangan Arya yang sangat dingin seperti Mayat. Tangisan demi tangisan, Dira keluarkan hingga matanya sembab karena menangis.
Bertahanlah, karena aku akan selalu ada di sisimu. Sampai kamu sembuh, aku yakin kamu orang yang kuat. Arya nya Dira orang yang kuat, dan tak akan menyerah semudah ini. Aku yakin, kamu pasti kuat. gumam Dira sambil menciumi punggung tangan Arya, juga pipinya.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading