Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 13


__ADS_3

"Arya ini kemana sih! Sudah dua hari dia sama sekali tak menghubungi aku, jangankan menghubungi batangan hidungnya saja tak terlihat sama sekali," ucap Fani dengan geram. Sudah dua hari Arya menghindari dirinya, dan itu membuat Fani semakin takut, takut jika Arya menyadari jika bukan dia yang melakukan itu pada Fani.


"Lebih baik aku kerumah, tante Dinda saja barang kali dia disana. Tapi, aku sangat malas bertemu dengan calon mertua yang sangat bawel seperti itu. Apa memang seorang ibu selalu begitu, cerewet, suka seenaknya, dan bawel?" gerutu Fani lagi.


Semenjak Fani mengorbankan cintanya demi ibunya, Fani mulai berubah dan mengklaim seorang ibu adalah momok dalam hidupnya. Dan dia menjadi sangat benci dengan seorang Ibu.


Tak lama setelah itu Fani sampai dirumah Arya dan dia langsung memencet bel rumah itu. Tak lama setelah itu terbukalah pintu rumah, dan yang membuka pintu adalah Dinda.


"Selamat Sore tante," sapa Fani dengan lembut.


"Sore!" Dinda pun menjawab dengan sangat sinis dan tak bersahabat.


"Tante, apakah Arya ada di rumah?" Fani masih berusaha sabar agar bisa mendapatkan informasi tentang Arya, jika Fani terbawa emosi yang terjadi akan semakin sulit.


"Gak ada!" balas Dinda dengan ketus. Ingin sekali Fani mencekik Dinda, tapi Fani masih mikir dua kali dan tak mau bertindak kejam.


"Tan..."


"Sudahlah kamu pulang saja, percuma juga kamu disini toh Arya juga gak ada kan?" potong Dinda.


Fani tak bisa berkutik lagi yang bisa dia lakukan adalah cepat pergi dari hadapan Dinda, dan mencari Arya di tempat lain.


"Baiklah, saya pulang dulu tante." pamit Fani. Setelah itu Fani langsung bergegas pergi meninggalkan Dinda, dengan perasaan yang sangat kesal.


"Lihat saja nanti kamu! Aku pastikan saat aku jadi istri Arya, hal pertama yang aku singkirkan adalah kamu! Sekarang aku hanya bisa tenang dan ikuti alur, jika aku gegabah pasti akan hancur." gumam Fani sambil meninggalkan rumah Arya.


Sedangkan di sisi lain, Dinda hanya bisa tersenyum mengejek. karena Fani gak akan pernah bisa masuk ke keluarga Wiguna dengan semudah itu.


"Kita tunggu tanggal mainnya, Fani! Kamu gak akan pernah bisa masuk kedalam keluargaku, karena aku gak mau mendapatkan menantu seperti kamu yang licil!" ucap Dinda dengan senyuman kemenangan. Setelah melihat Fani jauh dan tak terlihat lagi, Dinda memutuskan untuk masuk kedalam rumah.


****


Sedangkan di tempat lain, Arya sedangkan melakukan panggilan telepon dengan Pras. Bodyguard itu sudah menemukan rumah yang tepat dan sangat dekat dengan Dira, bahkan sangat dekat.


"Bos, saya sudah berunding dengan pemilik rumah. Tapi, beliau meminta kita menyewa sampai setengah tahun. Jika hanya untuk tiga bulan saja pemilik rumah tidak mau, dan lebih memilih mencari pengontrak lain," ucap Pras di sebrang sana.


"Jika itu yang terbaik ya gak apa-apa. Lagian hanya rumah itu saja kan yang dekat dengan Dira?" tanya Arya sambil membenarkan dasinya.


"Iya hanya rumah ini yang dekat dengan Nyonya Dira, bahkan berdempetan dengan rumah Nyonya," jawab Pras.


"Baiklah, kamu setujui semuanya dan nanti malam aku akan berangkat. Mungkin besok pagi aku sampai, jangan lupa bersihkan juga tempatnya karena aku gak mau saat aku sampai sana, rumah masih kotor!" ucap Arya yang memperingatkan.


"Tapi, bos." Pras mengetikkan ucapannya karena takut salah bicara, walapun Arya bos yang sangat kaya tapi, Pras juga sedikit was-was jika membahas harga sewa.


"Apa!" bentak Arya dengan geram.


"Jadi gini, bos. Pemilik rumah memberi jumlah uang sewa yang tak lazim, beliau meminta 100juta dalam setengah tahun," jawab Pras ragu-ragu. Bahkan tubuhnya juga sangat gemetar saat mengatakan itu.

__ADS_1


"Kamu sengaja menghina ku, Pras!" jawab Arya dengan garang.


"Bu ... Bukan bos, saya hanya takut jika bos keberatan dengan jumlah itu. Karena bagaimanapun juga, itu harga yang tak wajar jika hanya menyewa rumah sederhana di perdesaan, paling mentok harga sewa di sini. Setahun 10juta bahkan bisa kurang," jawab Pras sekali lagi.


"Aku gak perduli dengan harga, Pras!! Aku hanya butuh tempat tinggal yang dekat dengan rumah Dira, masalah harga aku tak peduli. Biarpun 1M pun akan aku bayar, jika itu bisa membuat aku dekat dengan Dira. Jadi jangan banyak bicara, cepat bayar sewa rumah dan setelah itu beres!" Arya benar-benar geram dengan Pras, karena dia meremehkan kekayaan yang dia miliki.


"Maaf bos, saya gak bermaksud seperti itu." Pras pun meminta maaf atas Kelancangannya itu.


"Lupakan, sekarang cepat bayar. Kartu yang aku berikan itu cukup untuk membayar sewa rumah, dan ongkos untuk kamu balik."


"Baik bos."


Tut...


Arya mematikan langsung panggilan itu. Hati Arya sekarang sedang berbunga-bunga karena dia akan bertemu dengan Dira sebentar lagi. Entah kenapa sekarang Arya sangat merasakan kehilangan saat Dira tak ada tapi, Arya juga menyangkal jika itu adalah rasa cinta yang mulai bersemi.


"Ah... Aku kok jadi deg-degan ya? Tak biasanya aku seperti ini, apa aku senang karena Dira sudah berhasil ditemukan atau karena yang lain?" gumam Arya sambil tersenyum geli. Karena baru kali ini Arya merasakan hal seperti ini, dulu Arya tak pernah merasakan deg-degan walaupun itu dengan Serlin ataupun Fani.


Serlin alima, adalah mantan pacar Arya yang sangat Arya cintai. Serlin adalah cinta pertama Arya, dan Arya sangat mencintai Serlin melebihi apapun. Hingga suatu hari Arya memutuskan untuk menikah dengan Serlin, namun dengan sangat sombong Serlin menolak pernikahan itu dan memilih kabut entah kemana sekarang.


"Sudah Arya, sekarang kamu fokus packing baju-bajumu! Karena jika kamu tetap seperti ini, aku yakin kamu gak akan berhasil." Arya berusaha memarahi dirinya sendiri. Setelah itu Arya kembali packing Barang-barangnya lagi, dan tak lupa dengan lagu-lagu yang Arya putar.


Telahku tentukan arah


Yang akanku tempuh disisa hidupku


Kerana telahku temukan


Sudahku tambatkan hati


Yang selama ini berlayar tak pasti


Kini telahku temui Kasih yang aku cari


Cinta yang pasti


Berakhir sudah pencarian jalan cinta


Berlabuh di ikatan suci kita


Berhenti sudah keresahan dalam jiwa


Kini Aku dan kamu


Tak terbatas oleh waktu


Tak terlarang tuk menyatu

__ADS_1


Karena kau resmi milikku


Kita akan menjaga Janji suci yang telah


terikrar Dan saling setia selamanya


Berakhir sudah pencarian jalan cinta


Berlabuh di ikatan suci kita


Berhenti sudah keresahan dalam jiwa


Kini Aku dan kamu Tak terbatas oleh waktu


"Ehem..." deham Dinda yang baru saja masuk kedalam kamar anaknya. Dinda sangat bahagia karena melihat Arya yang begitu semangat, saat ingin menjemput Dira. Karena memang ini yang di inginkan Dinda, Arya dan Dira bisa bersatu.


"Mama. Sejak kapan Mama disitu, kok gak langsung masuk saja?" tanya Arya dengan gugup.


"Mama di sini dari saat kamu mulai menyanyi, telihat sangat jelas kamu sangat bahagia Arya. Mama gak pernah melihat kamu sebahagia ini, Mama jadi senang melihatnya," ucap Dinda sambil mendekati Arya. Bahkan kini Dinda sudah mengelus rambut Arya dengan sayang.


"Memang Arya gak pernah sebahagia ini sebelumnya? Perasaan Arya selalu bahagia, mungkin Mama saja yang tak pernah melihat Arya begini," jawab Arya. Bahkan Arya masih dengan posisi merapihkan Baju-bajunya.


"Setelah Serlin..."


"Jangan bahas dia, aku gak mau mengenal dia lagi Ma. Aku sudah buang jauh-jauh wanita itu, dan aku gak mau mengungkit masa lalu. Apalagi sampai Fani tau, Arya gak mau itu sampai terbongkar. Karena Fani hanya tau jika dia cinta pertama Arya," potong Arya sambil menatap Dinda.


"Baiklah Mama akan diam," balas Dinda dengan tersenyum. Setelah itu Dinda membantu Arya membereskan baju Arya, agar lebih cepat. Namun kegiatan mereka terhenti saat Arya menanyakan hal yang menurut Dinda tabu untuk dibicarakan.


"Ma, Arya boleh tanya?" Dinda hanya tersenyum dan mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Arya.


"Dulu Mama sama Papa kan melakukan malam pertama, apakah Papa merasakan itu? Jika iya, apa saja yang di rasakan?" tanya Arya polos. Namun seketika Arya mendapatkan tampolan yang sangat keras di kepalanya.


Plakk...


"Dasar anak kodok, mana mungkin Mama mau cerita masalah ini sama kamu!" ucap Dinda dengan keras. Bahkan sampai membuat Arya tersungkur kecil, di atas kasur.


"Sakit, Ma!"


"Bodoh amat! Sudah Mama mau pergi saja, lama-lama sama kamu bisa-bisa Mama ketularan gesrek." Dinda pun langsung pergi meninggalkan Arya.


Sebenarnya Dinda ingin tanya kenapa Arya menanyakan hal itu tapi, ego Dinda melarang semuanya. Dinda sangat yakin, jika Arya gak akan melakukan hal nista sebelum menikah.


"Tolong lindungi anak hamba ya Allah, walaupun dia rada sengklek tapi Arya tetap anak yang berbakti," gumam Dinda lirih


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading


__ADS_2