Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 88 kepergok


__ADS_3

"Permisi, apa ini benar rumah ibu serlin?" tanya Polisi saat baru sampai di rumah Serlin.


"Iya benar itu anak saya, Pak. Ada apa ya kok cari anak saya, apa dia buat ulah lagi?" tanya Eri saat polisi bertanya tentang Serlin.


"Jadi seperti ini, anak anda terbukti melakukan tuduhan palsu dan yang tertuduh melaporkan ibu Serlin balik. Bahkan bukan bahwa masalah ini saja, ibu Serlin juga melanggar aturan rumah sakit yang menyogok seorang dokter untuk mengeluarkan hasil visum palsu. Jadi saya mohon, agar bu Serlin menyerahkan diri." Seketika Eri langsung terbelalak. Eri tak menyangka, anaknya akan tersandung masalah sebesar ini.


"Ya Allah anak itu, gak ada kapok-kapoknya. Sebentar Pak, saya panggil dulu anak saya." Eri pun langsung menuju ke kamar Serlin. Setelah sampai di atas, Eri langsung membangunkan Serlin.


"Serlin bangun, Nak. Di depan ada polisi yang mencari kamu, katanya ada masalah penting yang akan di bicarakan." Bohong Eri agar Serlin mau menemui polisi di bawah. Eri tak mau jujur, karena takut Serlin kabur atau apa.


"Mau apa sih polisi itu kesini?" tanya Serlin sangat dongkol.


"Katanya ingin membahas, Arya." Bohong Eri sekali lagi. Seketika Serlin langsung membuka selimut tebalnya, dan menatap Eri.


"Huu! Ganggu orang tidur saja! Ya sudah suruh tunggu dulu, Serlin mau cuci muka dan gak pakek lama cepat keluar sana!" bentak Serlin. Sedangkan Eri hanya mampu mengelus dada, melihat tingkah Serlin yang semakin parah.


"Kamu sedang hamil, tapi tak bisa menjaga ucapan mu Serlin. Nanti setelah anakmu lahir kamu pasti tau gimana rasanya di bentak anak sendiri, ingat perkataan Mama ini Serlin," jelas Eri. Setelah itu Eri pergi meninggalkan kamar Serlin dan kembali menemui polisi.


"Mohon tunggu sebentar, Pak. Anak saya masih siap-siap, maklum bangun tidur," ucap Eri sangat sopan.


"Gak apa-apa, Bu. Kami bisa memaklumi kok, lagian ini juga masih pagi," jawab Polisi. Eri pun tersenyum lembut ke polisi itu, dan tak lama setelah itu Serlin turun dengan mulut menggerutu.


"Mau apa pagi-pagi kesini?" tanya Serlin sangat ketus.


"Kami kenisi untuk menangkap anda atas tuduhan pencemaran nama baik, dan tuduhan palsu tentang visum yang menuju ke pak Arya," balas Polisi. Sedangkan Serlin merasa bingung karena polisi berbalik menangkap, dirinya.


"Loh memang saya salah apa? Sehingga kalian mau membawaku, lagian kalian juga aneh. Yang salah siapa, kenapa aku yang di tangkap?" gerutu Serlin sangat kesal.


"Laporan Ibu kemaren malam itu palsu. Kami sudah mempunyai bukti-bukti, tapi jika ibu gak mau nurut, terpaksa kami memakai cara kasar," balas polisi sekali lagi. Polisi masih sabar menghadapi Serlin, karena dia mau memberikan waktu untuk menyerahkan diri.


"Palsu apanya? Itu alsi dari rumah sakit SS, kalian jangan macam-macam ya. Bisa saya tuntut kalian, ini juga namanya pencemaran nama baik!" teriak Serlin tak terima.


"Kamu gak bisa mengelak. Pokoknya kamu harus ikut kami sekarang ke kantor polisi, jika kamu gak mau maka kami akan memaksa dan menembakkan peluru panas ke kakimu!" Polisi pun mulai kehilangan kesabaran.

__ADS_1


"Kalian gila!" Dengan cepat dan sigap pak polisi langsung menarik tangan Serlin dan memborgolnya. Sedangkan Serlin tak bisa berkutik, karena dia sudah terkepung.


"Lepaskan!" yeriak Serlin yang ingin memberontak. Tapi usahanya gagal karena polisi lebih kuat, dan lebih berkuasa.


"Pak pelan-pelan. Anak saya sedang mengandung, jadi saya mohon jangan kasar dengan anak saya," pinta Eri yang tak tega. Walaupun Serlin sangat durhaka, tapi Serlin tetap anak Eri. Jadi wajar jika dia merasa khawatir.


"Baik, Bu. Kalau gitu saya permisi." Eri hanya bisa menganggukkan kepala, dan melihat kepergian anaknya dari depan pintu rumahnya. Tangis eri langsung pecah, saat mobil polisi telah hilang dari hadapanku.


"Semoga dengan ini kamu berubah, Serlin.


***


Sedangkan di sisi lain. Angga dan Sintal baru saja sampai di kantor polisi, dengan sangat cepat Sintal masuk untuk mencari Dira.


"Mana Tia, Sean?" teriak Sintal dengan panik. Sedangkan Sean langsung menutup telinganya, saat mendengar suara gledek Sintal.


"Gak usah teriak kali, Tal! Tia masih di dalam bersama suaminya. Asal kamu tau, sedaritadi aku jadi patung di sini gegara om Angga. Dia melarangku pergi sebelum Om datang," balas Sean dengan kesal. Sedangkan Sintal langsung tertawa mendengar ucapan Sean, yang terlihat sangat kesal.


"Sabar-sabar, iya kamu enak. Lah aku?" Sintal semakin tertawa melihat Sean, namun tak lama setelah itu Sintal ingat dengan tujuannya.


"Ehh... Mana ruangannya, aku mau bertemu Tia?" tanya Sintal. Sean pun langsung menujuk sebuah ruangan. Dan tanpa tunggu lama, Sintal langsung memasuki ruangan tersebut tanpa memperdulikan larangan penjaga.


Dengan sangat tak sopan Sintal langsung masuk kedalam, saat keadaan Dira masih bertelanjang dada karena Dira masih memberikan pasokan untuk Arya. Untung saja mereka, tak membuat dedek bayi.


Brakk!


"Astaghfirullah, Tia!" teriak Sintal yang langsung berbalik badan. Sintal benar-benar malu, melihat adegan di depan matanya itu.


"Kakak! Kamu gak sopan, tau gak sih! Kalau mau masuk itu ketuk-ketuk pintu dulu, jangan asal nelonyong saja," gerutu Dira sambil membenarkan pakaiannya. Sedangkan Arya langsung menggerutu karena kegiatannya di ganggu oleh Sintal.


"Pergi sana lo. Gak enak-enak kin orang saja,bcepat keluar!" bentak Arya sangat marah.


"Yang sopan dengan kakakku. Bagaimana pun dia kakak iparmu, kamu harus mengerti tata krama," sangkal Dira. Sedangkan Sintal tersenyum lebar, karena Dira membelanya.

__ADS_1


Arya yang melihat wajah Sintal yang bahagia pun mendengus kesal. "Selalu saja jadi pengganggu,😒" gerutu Arya. Setelah selesai memakai bajunya, Dira langsung menghampiri Sintal.


"Kakak kok tau aku, disini?" tanya Dira sambil memeluk Sintal.


"Papa yang memberi tahuku Tia. Kenapa kamu tak memberi kabar kakak, seharusnya kamu menghubungi kakak walau keadaan Fani begitu," balas Sintal. Sedangkan Arya merasa penasaran dengan keadaan Fani, bagaimana pun juga nanti dia akan jadi kakak iparnya.


"Kenapa Fani?" tanya Arya. Setelah itu Sintal menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya, dan Fani akhir-akhir ini.


"Rangga selalu meneror Fani, dan ingin mengambil anak Fani jika lahir nanti. Jelas itu membuat Fani takut, hingga membuat dia kontraksi," jelas Sintal.


"Gila itu orang! Kenapa sekarang ingin anak itu, padahal kemarin di buang-buang," gerutu Arya sangat marah.


"Itu karena dia gak bisa berdiri lagi!" Arya dan Dira pun langsung menatap Sintal bingung, karena ucapan Sintal sangat ambigu.


"Maksudnya, gimana Kak?" tanya Dira penasaran.


"Maksudku, dia gak bisa berdiri lagi Dira. Burungnya udah gan berfungsi," jelas Sintal. Terbelalak, itu yang dilakukan Dira. Dira sangat terkejut, mendengar Rangga tak bisa berdiri.


"Impoten!" teriak Arya tanpa di filter.


"Bukan! Dia pernah ingin merkosa Fani, dan untungnya aku datang cepat waktu. Aku tendang burungnya dan sekarang dia gak bisa berdiri, juga gak bisa punya anak lagi," ucap Sintal sangat lantang. Bahkan sampai sekarang Sintal masih marah, karena mengingat kejadian tersebut.


"Kak, kamu gila. Masa anak orang dibikin, impoten!" jelas Dira. Sedangkan Arya malah ketawa terbahak-bahak.


"Sudah, jangan di ingat. Ini masa lalu, buruk!" Mereka pun akhirnya terdiam, dan tak ingin membahas ini lagi.


.


.


.


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2