
"Pernikahan ini gak bisa di langsungkan!" Seketika semua orang langsung terperangah melihat tingkah Arya.
Apalagi Lisma, dia sangat bingung kenapa Arya melarang Mahen menikah dengan Alisya. Padahal semua sudah di siapakan, dan tinggal melangkah lebih dekat saja.
"Kenapa?" tanya Lisma sangat kesal.
"Karena aku gak setuju, anakku di madu. Dari sini kamu paham kan, Lisma?" tanya Arya sedikit menekankan ucapannya.
Setelah itu, datanglah Seto, tepat di belakang Arya juga Dira. Dengan perasaan dongkol, Lisma mendekati Seto dan bertanya.
"Mas, coba jelaskan ini ada apa? Dari mana saja kamu, dari pagi aku cari gak ada. Bisa-bisanya kamu pergi, saat aku sedang kebingungan!" Oceh Lisma sambil menatap tajam Seto.
Seketika Seto menjadi diam seperti patung. Dia bingung mau jawab seperti apa, karena dia sangat takut kena amukan emak-emak berdaster seperti Lisma.
"Anu—Sayang, ada sesuatu yang belum aku jelaskan. Tapi, sebelumnya kita suruh penghulu pergi dulu ya. Kita selesaikan secara kekeluargaan, karena malu di lihat orang," ucap Seto sangat ketakutan.
"Maksudnya gimana sih! Yang jelas, jangan berbelit-belit. Bikin orang kesal saja kamu, Mas!" Lisma pun mulai tersulut emosi. Lisma merasa di permainkan, oleh suaminya itu.
__ADS_1
Sedangkan Seto langsung menyuruh para tamu pergi, terutama penghulu. Karena Seto hanya ingin membicarakan ini semua, hanya dengan keluarga besar.
"Lis, sepertinya aku sudah gak di butuhkan. Jadi, aku lebih baik pulang saja, ya?" ucap pamannya Alisya.
"Loh, Mas tunggu dulu. Jangan terburu-buru, acaranya belum selesai," balas Lisma.
"Selesaikan semua masalah ini. Nanti kalau memang Alisya butuh wali, panggil aku. Kapanpun itu, aku pasti datang," ucapnya sambil mengacak-acak rambut Lisma.
Lisma tak bisa mencegah kakak iparnya lagi. Dia hanya bisa berdo'a agar kakak iparnya itu selamat sampai tujuan, karena jarak Jakarta-Malang sangatlah jauh.
"Hati-hati, Mas."
"Cepat jelaskan, aku gak mau berbelit-belit. Aku tau Alisya bukan anakmu, tapi apakah pantas kamu membatalkan pernikahannya begitu saja. Oke, Arya adalah saudaramu. Tapi, aku istrimu, kenapa gak jujur, atau bilang sebelumnya!" Bentak Lisma sangat kecang hingga mereka saling menatap takut.
Namun di antara kecanggungan, dan ketegangan mereka. Ada dua orang yang daritadi hanya tersenyum lebar, yaitu Alisya dan Mahen.
Entah kenapa batalnya pernikahan ini membuat mereka bahagia, dan merasa Tuhan masih berpihak dengannya.
__ADS_1
"Eh—kalian ikut aku, cepat. Gak pakek lama," ucap Alisya menarik tangan Raya. Mereka bertiga meninggalkan tiga orang yang masih saja berdebat, karena urusan ini. Mereka gak mau ambil pusing, yang terpenting mereka gak jadi nikah.
"Coba jelaskan, kapan kalian menikah. Astaga, aku sangat bahagia karena gak jadi nikah sama orang gila ini. Sungguh, aku dari pagi sudah ingin bunuh diri saja," ucap Alisya kegirangan. Sedangkan Mahen langsung terbelalak mendengar ucapan Alisya, yang mengatai dirinya gila.
"Eh, aku juga ogah nikah sama kamu. Manja banget, bikin pusing kepala saja. Sudah ku bilang, kamu bisa nolak tapi, malah setuju," balas Mahen tak Terima.
"Aku gak mau buat kecewa, Mama. Tapi, untung lah aku gak jadi nikah. Jadi, Ardi gak akan marah lagi. Dan satu lagi, jika mau tau sesuatu, jangan berbuat seperti dulu, hampir saja kita nikah tanpa cinta." Mereka pun bercanda tawa, sendiri tanpa melihat Raya senang atau tidak atas pernikahan ini. Mereka seakan lupa, jika Raya tidak pernah mencintai Mahen sama sekali.
"Bisa diam gak sih! Aku juga terpaksa nikah sama orang aneh ini, gara-gara kalian tua gak!" bentak Raya yang sangat kesal, bahkan dia mulai berkaca-kaca. Sedangkan Mahen dan Alisya, langsung diam saat melihat Raya mulai menangis.
"Maaf."
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading