Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - My Spoiled Family : Kepergian Arya


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Dira dan yang lainnya menunggu Arya di depan ruangan UGD. Dira merasa tubuhnya sangat lemas, menanti Dokter keluar dari dalam sana.


Keramaian di sana pun juga tak mebuat Dira terusik, karena di kepalanya sekarang hanya ada Arya, Arya, dan Arya. Dira tak bisa membayangkan jika dia hidup tanpa Arya, apalagi Baby-twins masih berusia 7 bulan.


"Om, aku mau cari minum dulu. Nanti jika ada apa-apa langsung hubungi aku," pamit Seto.


"Iya, jangan lama-lama." Seto pun menganggukkan kepala dan langsung bergegas pergi. Setelah itu, Angga kembali menenangkan anaknya itu agar Dira bisa tentang dan berpikir positif.


"Sayang, kamu harus kuat Nak. Ingat Baby-twins, mereka juga butuh kamu. Jika kamu lemah seperti ini, maka mereka akan merasakan segalanya." Angga mencoba menguatkan anaknya itu.


"Pa, aku gak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Aku gak mau, Pa." Dira pun langsung memeluk Angga dengan sangat erat. Hanya Angga sandaran Dira saat ini, tidak ada yang lainnya.


Dira ingin sekali mendapatkan dukungan dari Dinda, tapi Dira gak berani memberi kabar. Apalagi Ryant bilang, jika Dinda akhir-akhir ini sering masuk rumah sakit karena asma nya kambuh.


Ryant juga ingin ke Bandung, tapi perusahaan membutuhkan dia. Apalagi Arya selama beberapa bulan ini, sering mager karena sakit. Jika begini terus, maka perusahaan bisa-bisa bangkrut.


Untuk Seto, dia juga tak bisa menghendel dua perusahaan terlalu lama. Karena perusahaan dia sendiri juga butuh pemimpin, dan jika di abaikan akan ikut bangkrut.


"Kita berdoa terus, Tia. Papa yakin, Allah gak akan tidur. Arya pasti sembuh, dan dia akan bertahan demi kalian." Angga pun tak bisa menahan tangisnya. Angga juga ikut menangis, saat melihat anaknya seperti ini.


Wajah cantik anaknya kini berubah menjadi sembab, karena menangis tiada henti. Hingga tak bisa tulis dengan linsan, yang pasti hati Dira sangat takut, takut kehilangan suami tercinta untuk ke dua kalinya.


"Keluarga pak Arya," panggil seorang Suster.


Dengan cepat Dira menghampiri Suster tersebut dan menanyakan kondisi Arya.


"Saya istrinya, bagaimana keadaan suami saya. Dia baik-baik saja kan, cepat katakan!" seru Dira sambil memegang tangan Suster tersebut.


Dira sangat takut saat melihat wajah sedih sang Suster. Namun, Dira tetap positif thinking jika Arya baik-baik saja, dan dia akan sembuh.

__ADS_1


"Maaf, tapi dokter telah menyatakan suami anda telah meninggal. Kami sudah berusaha sebisa mungkin. Tapi suami Ibu, sudah tidak ada dan jenazahnya sudah di bawah ke ruang pemulasaran jenazah."


Seketika dunia Dira serasa runtuh. Untuk kedua kalinya Dira kehilangan seorang suami, bahkan ini yang lebih menyakitkan daripada kehilangan Vano dulu.


Dira terdiam membisu, tubuhnya seakan membatu. Air mata terus menetes, di pipi mulus Dira. Pandangan Dira pun juga semakin berkunang-kunang, dan tak lama setelah itu tubuhnya limbung di pelukan Angga.


"Kak Arya ...."


Angga sungguh panik, saat melihat anaknya tak sadarkan Dira. Angga yang kebingungan langsung berusaha membangunkan Dira, bahkan semua orang juga berusaha membuat Dira sadar dengan memercikkan air untuk menyadarkan Dira.


Setelah beberapa menit akhirnya Dira membuat matanya, dan langsung terisak. Hatinya sangat hancur mendengar kenyataan itu, dengan perlahan Dira mencoba duduk. Dira ingin melihat jenazah suaminya, Dira ingin melihat suaminya itu untuk terahir kalinya.


Seorang Suster menawarkan kursi roda, tapi Dira gak mau. Walaupun langka kakinya sangat berat, Dira akan berusaha berjalan ke ruang jenazah.


Sesampainya di depan ruang jenazah, Dira memandang Angga dengan sendu. Ada rasa takut, jika ini benar-benar terjadi.


"Pa, apakah ini mimpi?" tanya Dira


"Aku takut, Mama sakit mendengar ini semua. Aku bingung, Pa," balas Dira.


"Jangan takut, bagaimanapun juga ini harus di umumkan. Mereka orang tuanya, daripada kamu di salahkan mereka nantinya." Dira pun semakin dilema. Akhirnya Dira hanya mengangguk saja, dan setelah itu masuk ke dalam ruang jenazah dengan seorang Suster.


Dira melangkah berat, rasanya tak yakin jika Arya meninggalkan begitu saja. Dira melihat sekeliling, banyak orang meninggal di ruangan tersebut. Bahkan ada tiga jenazah lain, hanya saja tubuh mereka tak terlihat. Karena tertutup dengan kain putih.


"Ini jenazah suami, ibu," ucap Suster itu.


Dira pun langsung memandang pilu. Suaminya kini sudah terbujur kaku di ranjang kematian, padahal baru saja beberapa jam tadi dia minta di peluk. Tapi sekarang Arya meninggalkan Dira begitu saja, tanpa pamit.


"Ka ... Kak," panggil Dira dengan suara parau. Dira tak berani mendekat, Dira masih tak percaya bahkan seakan menolak semua ini.

__ADS_1


"Mana janji kamu, katanya mau hidup bersamaku? Kenapa kamu sama seperti Vano, yang tega meninggalkan aku. Kamu tega, Kak," isak Dira lirih.


Dira mendekat ke arah jenazah itu, dan langsung memeluk tubuh kaku itu. Tangis Dira langsung pecah, saat merasakan tubuh dingin itu. Dira tak mau menatap suaminya, Dira belum ikhlas.


"Aku mohon, bangun lah kak. Aku mohon, ingat Baby-twins. Jangan tinggalkan kami, aku mohon bangunlah. Aku gak mau hidup sendiri, aku ingin selalu bersama kamu kak!" ucap Dira sangat histeris.


Dira terus menggoyang-goyangkan tubuh Arya. Tangisan kencang begitu terdengar pilu, hingga sang Suster yang mengantarkan Dira juga ikut menangis.


Bahkan Suster tersebut memosisikan jika itu dia, pasti akan berbuat hal yang sama. Tak percaya orang yang sangat dia cintai sudah tiada, dan berpulang ke Rahmatullah.


***


Sedangkan di luar sana, Seto kebingungan di ruang UGD. Seto mencari Dira juga Angga, namun tak ada. Padahal Seto sudah membawakan minuman, dan makanan untuk mereka tapi sayangnya mereka menghilang.


Karena gak mau repot, akhirnya Seto mencoba menghubungi Angga. Tapi sayangnya, saat dia akan memencet nomor Angga, seorang Suster memanggilnya.


"Keluarga, pak Arya." Seto pun langsung menoleh dan menghampiri Suster itu.


"Saya, Sus."


"Pak, silakan urus administrasi pak Arya di kasir. Setelah selesai, silahkan balik lagi ke UGD untuk mengurus segalanya," ucap Suster itu.


Seto hanya mengangguk saja, dan langsung menuju kasir. Seto lebih mendahulukan membayar administrasi, daripada mencari keberadaan Dira. Karena Dira masih bisa di hubungi lewat telepon.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2