
"Suster, Dokter! Tolong anak saya, cepat tolong dia. Dia gak bisa bernapas," teriak Arya sambil menggendong Lessy.
Setelah sampai di rumah sakit, tanpa tunggu lama Arya langsung menggendong Lessy dan membawanya ke ruangan UGD. Sedangkan Vano dan Dira, langsung mengurus administrasi rumah sakit.
Mereka tau, jika nanti suster akan menyuruh mereka untuk melakukan pembayaran di muka. Apalagi ini memang aturan rumah sakit, jadi tak bisa di hilangkan.
"Ini kenapa, Pak?" tanya seorang suster sambil membawa Brankan arah Arya.
"Dia mengalami kesulitan napas. Dia juga ada penyakit lemah jantung, saya mohon selamatkan anak saya ini." Arya berkata dengan nada panik.
Sedangkan Lessy masih saja belum bisa bernapas. Rasanya sangat sesak sekali, apalagi untuk bernapas sarannya sangat berat.
"Baiklah, saya akan membawa anak Bapak. Sekarang silahkan mengurus administrasi, kalian sudah selesai langsung bawa ke dalam berkasnya."
Arya hanya mengangguk saja. Setelah itu suster langsung membawa Lessy masuk kedalam ruangan, dan dokter langsung bertindak.
Arya dapat melihat dengan jelas, para petugas medis berbondong-bondong memeriksa Lessy. Bahkan ada yang sangat panik berlarian, untuk mengambil alat entah apa namanya itu. Pokoknya alat kesehatan.
Walaupun sudah di kasih oksigen, Lessy masih terlihat sangat kesulitan bernapas. Tangannya terus menerus memegang tangan salah satu perawat, dan itu membuat Arya gak tega.
__ADS_1
"Kak, Lessy bagaimana?"
Arya langsung menoleh ke arah Dira. Tanpa tunggu lama, Arya langsung memeluk istrinya dan menumpahkan seluruh air matanya.
"Aku gak tega, dia sangat kesulitan bernapas. Kenapa ini bisa terjadi pada Lessy, dia anak baik, tapi nasibnya sangat buruk," ucap Arya.
"Aku juga gak tega, Kak. semoga saja Lessy bisa sembuh, setelah itu kita rawat dia sama-sama." Ucapnya seraya mengelus punggung Arya.
Vano yang merasa gak tenang, langsung masuk kedalam begitu saja. Para suster sangat terkejut, dan memaksa Vano untuk keluar dari ruangan.
"Pak, silakan keluar. Kami butuh ketenangan, Pak. Ini sudah prosedur rumah sakit, jadi Bapak harus mematuhinya." Salah satu suster mencoba berbicara dengan Vano.
"Va-Vano, sakit ...." Raung Lessy saat melihat Vano masuk.
"Kamu tenang, ada aku. Coba ikuti aku, tarik napasmu pelan-pelan. Rileks, buang semua bebanmu. Ingat, masih ada aku. Aku janji gak akan pernah meninggalkan kamu, Lessy," ucap Vano.
Lessy mencoba mengikuti intruksi Vano. Dia mencoba menarik napas pelan-pelan, dan setelah itu dia menangis lagi. Rasanya sangat sakit, hingga dia reflek memeluk Vano.
"Pak—"
__ADS_1
Belum sempat suster itu berbicara, tapi dokter yang menangani Lessy melarang suster itu. Dokter melihat ada perkembangan saat Vano datang, karena hanya Vano yang bisa membuat Lessy mau bernapas dengan rileks.
Selagi Vano membantu Lessy, dokter langsung melakukan tindakan dengan cara menyuntikkan obat, dan memasang selang infus.
"Ayo kamu bisa, tarik napas terus buang. Jangan menangis, karena itu akan memperparah pernapasan mu." Lagi-lagi Lessy mengikuti apa yang di ucapkan Vano.
Hingga tak lama setelah dokter menyuntikkan obat, Lessy langsung menjadi lemas dan tertidur dalam pelukan Vano.
"Biarkan pasien tidur, saya sudah memberikan pasien obat tidur, agar dia bisa istirahat. Saran saya, Bapak selalu ada di samping pasien, karena hanya Bapak yang bisa membuat pasien tenang."
Vano hanya mengangguk saja, dan setelah itu Vano duduk di sebelah ranjang pesakitan. Sebenarnya Vano sangat penasaran, kenapa Lessy menuduh Alena pembunuh. Tapi, ini bukan waktu yang tepat untuk Vano membahas hal ini.
"Cepat sembuh, Les."
.
.
.
__ADS_1
happy Reading