
Sedangkan di tempat lain Serlin mendatangi rumah Dinda. Serlin ingin melihat apakah benar Arya sudah menikah atau belum, dan jika sudah pun Serlin tak akan perduli. Yang dia tau hanya satu, ingin mendapatkan Arya kembali.
Dengan langkah yang sangat nekat, Serlin pun sampai di depan pintu. Dengan jantung yang berdetak sangat kencang, Serlin memencet Bel rumah Arya. Namun sampai 20 menit, pintu itu tak ada yang membuka hingga membuat Serlin kembali memencet Bel rumah lagi.
Cklek ...
Seseorang telah membuka pintu rumah. Sedangkan Serlin langsung menampilkan senyum lebarnya saat melihat Dinda lah yang membuka pintu, bahkan bagi Serlin ini kesempatan bagus jika Dinda yang keluar.
"Tante," ucap Serlin pura-pura ramah.
"Mau apa kamu? Mau cari siapa lagi, jika cari Arya dia tak ada!" balas Dinda tak bersahabat. Serlin pun mengernyitkan keningnya, saat melihat expresi Dinda.
Sial, dia sepertinya sangat membenciku. Tapi tak apa, masih banyak waktu! gumam Serlin. Setelah itu Serlin tersenyum lembut, dan melanjutkan ucapannya.
"Aku mencari Arya, Tante," balas Serlin masih sangat sopan. Sedangkan Dinda langsung tersenyum sinis, jangan harap Dinda akan luluh dengan sikap manisnya. Fani saja tak bisa, apalagi Serlin.
"Ha? Jangan harap kamu bisa bertemu Arya, Serlin. Setelah sekian lama kamu menghilang, dan sekian lama kamu mencampakkan anakku. Sekarang dengan mudahnya kamu datang, dengan wajah sok polos mencari Arya? Sungguh gak tau malu!" ucap Dinda sangat menohok.
"Maksudnya, Tante?" tanya Serlin pura-pura terkejut.
"Jangan pura-pura bodoh kamu, Serlin! Aku tau kamu pasti paham dengan ucapanku, sekarang pergi saja dari sini. Karena percuma saja kamu kesini, karena Arya tak ada. Dia sudah menikah, dan hidup bahagia dengan istrinya. Jadi kamu jangan macam-macam dengan mereka!" balas Dinda sangat ketus.
Serlin pun bersusah payah menahan emosinya, dia mengepalkan tangan memendam hinaan Dinda. Serlin berusaha tenang, agar mendapatkan informasi tentang Arya.
"Tante, maafkan Serlin. Waktu itu Serlin sangat ingin jadi perancang busana, jadi Serlin mohon mengertilah," ucap Serlin yang memohon.
__ADS_1
Jelas Dinda semakin merasa jijik melihatnya, Dinda bukan orang bodog yang mudah di tipu dengan air mata buaya. "Tapi gak gitu caranya, Serlin! Sekarang kamu pergi, aku gak mau melihat kamu lagi! Cukup sudah Arya menderita, sekarang pergilah!" teriak Dinda sangat kencang.
Bahkan Dinda sampai mendorong Serlin sangat kencang hingga mau terjatuh, sungguh jika tak mengenal hukum. Dinda akan membunuh Serlin, dan membuangnya ke laut.
"Tante! Aku gak terima di perlakuan seperti ini, aku tak terima!" protes Serlin sambil memegang perutnya.
"Gak terima? Terus kamu mau apa? Mau laporkan saya, oke saya tunggu kamu di meja hijau. Ingat saya tunggu!" Setelah itu Dinda langsung masuk kedalam kamar meniggalkan Serlin sendiri, di luar rumah.
"Sial! Awas kalian, kalian akan mendapatkan balasan yang lebih dari ini!" teriak Serlin. Setelah itu dia memutuskan pergi dan kembali kerumah. Pikiran Serlin sangat banyak hingga membuatnya tak bisa konsen, apalagi Arya yang tak tau di mana.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, akhirnya Serlin sampai dengan selamat di rumah. Dengan langkah kesal, Serlin masuk tanpa permisi. Padahal di depannya ada Eri, ibu kandung Serlin.
"Serlin kamu sungguh malu-maluin Mama! Kamu harus ingat, yang ninggalin Arya di hari pernikahan itu kamu! Kenapa sekarang kamu malah tak terima, jika Arya sudah menikah dengan wanita lain? Mau kamu sebenarnya apa?" tanya Eri saat melihat Serlin pulang. Sungguh Eri merasa sangat malu, saat Dinda menghubungi dia dan menyuruh Eri menjaga Serlin, agar tak merusak rumah tangga orang.
"Mama tau dari mana?" balas Serlin sangat sinis.
"Apaan sih, Ma! Ini urusan Serlin, Mama itu gak tau apa-apa. Jadi lebih baik diam, dan simak saja!" jawab Serlin sangat berani. Sedangkan Eri langsung mengelus dadanya, saat melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.
"Jangan kira Mama gak tau apa yang kamu lakukan, Serlin! Mama tau semua, apa yang kamu lakukan. Kamu di sana selalu berfoya-foya, dan bermain dengan lelaki hidung belang!" bentak Eri sekali lagi.
Serlin pun langsung terbelalak mendengar ucapan Eri, Serlin merasa sangat terkejut saat Eri tau semua yang dilakukan Serlin selama ini. "Darimana Mama tau, apa Mama membuntuti aku!" ucap Serlin sangat kencang. Serlin tak perduli lagi, jika Eri adalah ibu kandungnya.
"Mama tau semuanya Serlin! Mama tau kamu kabur bukan karena pekerjaan itu, tapi kamu kabur dengan Delon. Mama tau kamu tinggal bersama dengan Delon di Jerman, bahkan alasan kamu meninggalkan Arya pun itu juga alibi mu saja," balas Eri tak kalah kencang.
Perdebatan sengit antara ibu dan anak pun terus berlanjut, hingga mereka saling lempar suara keras. Mereka juga tak perduli jadi tontonan para bawahan mereka, karena yang di otak mereka hanya berisi perdebatan.
__ADS_1
"Mama sudah curiga Serlin, saat kamu berkata ingin menjadi perancang busana. Akhirnya Mama memutuskan mencari informasi tentang kamu, dan betapa terkejutnya Mama saat melihat kamu bersama Delon. Mama tak menyangka, anak kesayangan Mama selama ini tinggal Serumah dengan laki-laki pengangguran. Apa yang kamu lihat dari dia, Serlin!" ucap Eri yang sangat putus asa. Eri menangis tersedu-sedu, saat mengatakan kenyataan pahit ini.
"Kamu tau Serlin, betapa sakitnya hati Mama saat tau kamu seperti ini. Mama malu Serlin, Mama malu." Eri pun langsung terduduk sambil menangis. Eri tak tau harus pakai cara apa, supaya Serlin sadar.
"Maaf," balas Serlin sambil menunduk.
"Maaf itu gampang di ucapkan Serlin. Tapi memperbaiki diri itu yang susah, dan kamu sungguh tak punya urat malu sama sekali. Tiba-tiba datang ke rumah Arya dan menanyakan dia, sudah berapa kali Mama bilang jangan ganggu Arya. Dia sudah menikah, biarkan Arya bahagia Serlin!" ucap Eri.
"Tapi serlin butuh pendamping Ma, Serlin sedang hamil anak Delon! Dia gak mau punya anak dan menyuruhku menggugurkan kandungan ini, tapi Serlin gak mau. Jadi lebih baik Serlin kembali ke Arya, aku yakin dia pasti mau menerima aku lahi," ucap Serlin tanpa ada rasa sedih, maupun bersalah.
"Kamu pikir Arya mau menikah dengan kamu, yang tengah berbadan dua? Mikir kamu Serlin, mikir. Sebelum melakukan sesuatu, kamu harus tau resikonya. Bukan melemparkan tanggung jawabmu pada orang lain, ini sangat memalukam!" Eri semakin geram dengan tingkah Serlin. Bahkan Eri langsung menduding, wajah Serlin.
"Aku yakin Arya mau menerimaku, Arya hatinya sangat lebut,di goda sedikit pasti akan luluh," balas Serlin dengan senyuman licik. Sedangkan Eri langsung mengelus dada, mendengar rencana licik anaknya.
"Astaghfirullahalazim, Serlin! Istighfar Nak. Tobatlah kamu Serlin, sebelum Allah mencabut nyawamu," bentak Eri sambil mengelus dadanya.
"Tobat gak akan membantu Serlin, Ma. Jika Serlin tobat, apakah Delon langsung luluh hatinya? Gak akan mungkin ma,
Tapi jika tidak bisa seperti itu lebih baik Serlin merusak rumah tangga Arya dan memiliki Arya seutuhnya," balas Serlin dan setelah itu dia pergi meninggalkan Eri di dalam rumah.
"Ya Allah, salah apa hamba. Kenapa anak hamba seperti ini, hingga lupa dengan ajaranmu ya Allah!" ucap Eri sambil menangis tersedu-sedu. Setelah itu, Eri langsung masuk kedalam kamar untuk memenangkan dirinya.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading