Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 72 Ungkapan Isi Hati Dinda


__ADS_3

"Ah ... Maafkan saya, Pak. Tadi saya hanya bercanda, sekali lagi saya minta maaf," ucap Dira sambil menahan malu. Sungguh Dira merasa malu, karena ucapannya tadi.


"Iya, maafkan anak saya. Dia hanya bercanda, Bapak gak marah kan?" Kini Dewi yang berbicara. Dewi juga merasa sungkan, karena membahas diskon.


"Jangan panggil saya Bapak, apa saya terlihat tua? Saya masih 29 tahun, masa sudah terlihat tua?" balas lelaki itu.


"Saya Bima pemilik toko ini dan anda adalah pelanggan setia saya, setiap bulan anda selalu belanja banyak. Karena hari ini saya turun lapangan langsung, jadi saya akan memberi diskon. Anda cukup membayar seperempatnya saja," ucap Bima sambil menampilkan senyuman yang tampan.


"Sebelumnya terima kasih. Tapi ini bukan karena omongan saya tadi kan? Saya gak mau anda terpaksa," balas Dira sangat sungakan.


"Tidak, saya serius. Saya tau kalau hari ini jadwal Ibu anda kesini, jadi saya sempatkan datang untuk menyampaikannya langsung," jawab Bima. Dira pun langsung tersenyum, saat mendengar ucapan Bima.


"Wah, terima kasih banyak ya?" Bima hanya membalas dengan senyuman. Bima sangat tertarik dengan Dira, melihat senyuman Dira membuat hati Bima berdetak sangat kencang.


Setelah itu Bima mengajak Dewi juga Dira melihat-lihat barang yang lebih bagus, sungguh Bima merasa bahagia bisa melihat wanita secantik Dira.


Apakah kamu masih sendiri? Jika kamu masih sendiri, aku ingin menjadikan kamu wanitaku.


****


Dinda POV


Hari ini aku memanjakan tubuhku, aku pergi ke Spa dan merilekskan pikiran. Sudah terhitung tiga jam aku disini, tapi rasanya aku enggan untuk kembali. Namun tak lama setelah itu, aku mendengar bunyi dering ponsel.


Aku pun mencari ponselku, dan melihat siapa yang menelponku di saat begini. Kesal? Jelas aku kesal, seharusnya hari ini hati tanpa Handphone. Tapi setelah melihat siapa yang menghubungiku, aku mengurungkan hari tanpa Handphone.

__ADS_1


"Tumben, bocah ini nelpon? Biasanya gak pernah ingan, kalau punya emak!" gerutuku sambil mengangkat panggilan Arya.


"Hallo tumben kamu ingat Mama, Kodok!" ucapku sedikit kasar. Tapi aku sangat menyayangi anakku ini, walaupun suka bikin makan hati.


"Mama dia kembali," balasnya dengan nada sedih. Kenapa anak ini, kenapa nadanya sangat putus asa. Ada apa dengan anakku.


"Siapa maksudmu, Arya?" tanyaku sedikit bingung. Aku bahkan bisa mendengar suara Arya yang sangat gunda, walaupun aku sering marah-marah dengan Arya, tapi aku tau saat dia sedih atau bahagia.


"Serlin, Ma."


Aku pun sangat terkejut saat arya berkata jika Serlin kembali, wanita yang pernah membuat anakku patah hati. Bahkan Arya sampai trauma dan sempat depresi, namun semenjak kedatangan Fani, Arya mulai belajar melupakan Serlin walaupun harus berbohong ke semua orang jika Fani adalah cinta pertamanya.


Aku dulu mengira jika mereka adalah patner yang sangat tepat, karena mereka sama-sama patah hati. Arya dan Fani bertemu di sebuah halte bus, saat itu mobil Arya mogok hingga mau tak mau harus berteduh di halte karena hujan terlalu deras, dan di situlah Arya melihat Fani yang menangis sesegukan karena baru kehilangan orang-orang yang dia cintai. Arya mendengarkan curhatan Fani hingga merasa tersentuh dengan cerita Fani.


Tanpa berfikir panjang Arya langsung membawa Fani ke rumah dan memperkenalkannya sebagai kekasih, sungguh saat itu ucapan Arya membuat aku dan Ryant terkejut hingga membuat suasana jadi hening.


Dari sini aku sadar, jika Arya memang benar-benar ingin melupakan Serlin dan menganggap cinta pertamanya adalah Fani bukan Serlin. Tapi aku sedikit kecewa dengan perilaku Fani, dulu sikap Fani sangat gak sopan dan suka membentak jika di nasehati Arya, bahkan Fani tak segan-segan mau mencelakai suamiku. Walaupun gak sengaja, tapi tetap saja yang jadi taruhan nyawa suamiku. Entah kenapa anakku selalu tak tepat memilih wanita.


Aku dan Ryant berusaha menutupi masa lalu Arya,dengan membuang semua kenang-kenangan yang berhubungan dengan Serlin, bahkan aku juga membungkam orang-orang yang tau tentang cinta pertama Arya dengan uang.


Semakin hari aku merasa curiga dengan sikap Arya, karena cukup lama Arya menjalin hubungan dengan Fani, tapi Arya tak pernah sedikit pun membahas tentang pernikahan. Memang pernah Arya membahas pernikahan dengan Fani, tapi itu supaya Fani gak marah karena merasa di gantungkan.


Tapi semua berbeda setelah Vano meninggal, dan memeberikan wasiat untuk menikahi Dira. Dari sini aku lihat Arya begitu ngebet ingin menikah dengan Dira, padahal sebelumnya Arya menolak dengan keras tentang permintaan Vano dan aku juga melihat sikap Arya lebih lepas dengan Dira dari pada dengan Fani. Saat Arya bersama Dira, dia seperti anak kecil dan bersikap manja ples mesum.


Tapi jika dengan Fani, Arya selalu datar dan tak ada senyuman lepas dari Arya. Sebab itu aku mendukung keras pernikahan mereka, tapi yang bikin aku jengkel Arya gak bisa kontrol hasratnya jika ada Dira, dan lebih lucunya lagi saat kehilangan Dira, Arya seperti orang gila yang mondar-mandir sana sini mencari calon istrinya dulu.

__ADS_1


"Mama kok diem sih?" ucapan Arya pun membuyarkan lamunanku .


"Mama sedang mikir Arya, sekarang Mama mau tanya. Saat Serlin menghubungimu, apa yang kamu rasakan?" tanyaku sedikit mengetes. Awas saja dia belum moveon, langsung aku pecel dia.


"Biasa saja, hanya ada rasa terkejut, tapi itu bukan cinta melainkan rasa marah. Seenaknya saja pergi gak bilang-bilang dan saat Arya lupa, dia datang bahkan sampai menelpon Arya." Aku mendengar nada jengkel Arya.


"Apa kamu masih mencintai Serlin, Arya?" tanyaku lagi.


"Tidak, Ma. Sekarang aku sangat mencintai Dira, aku gak mau serlin mengganggu kehidupanku dengan Dira. Jadi jika Serlin ke rumah Mama, jangan sampai memberi tau alamat rumah mama Dewi. Aku ingin membuka lembaran baru dengan istriku, Ma. Aku juga ingin memiliki anak-anak yang lucu dengan Dira, jadi Arya mohon jauhkan Dira dari Serlin," ucap Arya panjang lebar. Aku sangat bangga ternyata anakku sudah moveon beneran.


"Ini baru anak Mama. Kamu tenang saja, Mama akan bicara dengan orang tua Serlin untuk menjaga anaknya agar tak menganggu rumah tanggamu. Kalau perlu Mama akan perluas penjagaan biar Serlin tak menganggumu, dan juga Dira," ucapku sangat semangat. Jika Arya semangat aku juga akan semangat, membantu dia menyingkirkan Serlin.


"Mama memang yang terbaik, aku berniat ingin membuatkan mama cucu sepuluh mau? Jika mau aku akan berdoa agar Dira hamil kembar, langsung sepuluh." Aku pun mendengar kekehan Arya dari sebrang. Siapa orangnya yang gak ketawa, jika dia bicara seperti ini.


"Satu saja belum jadi Arya ... Arya. Lebih baik fokus hamilin dulu baru rencana bikin berapa, hamil aja belum udah mikir sepuluh biji!" Akupun tertawa terbahak-bahak. Karena baru kali ini, kita tertawa selepas ini.


"Ya sudah, Ma. Dira sudah pulang aku mau ena-ena dulu, tadi mau bikin gagal karena Mama Dewi tiba-tiba mengajak Dira pergi." Sungguh anak ini dodol banget, masa masalah ginian di ceritain sama aku. Arya, Arya. Sungguh Dira merubahmu, Nak.


"Ya sudah bikin lagi sana, semoga kali ini gak gagal. Bay anak Mama yang ganteng, jaga baik-baik mantu Mama." Setelah itu aku langsung mematikan ponselku dan tersenyum lebar.


"Semoga kalian bisa bersama-sama terus, Nak."


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading


__ADS_2